gus miftah
Gus Miftah Maulana Habiburrahman

Keprisatu.com – Gus Miftah Maulana Habiburrahman mengatakan, banyak orang yang kemudian pesimis menjalani kehidupan di era pandemi. Hal itu, menurutnya, karena terlalu banyak berpikir sehingga menimbulkan kecemasan yang justru menjadi ilusi buruk mengenai masa depan.

”Daripada kamu membuang waktu untuk cemas terhadap apa yang belum terjadi, mending mempersiapkan diri untuk menghadapi,” ujar dai kelahiran Lampung 39 tahun yang lalu itu.

Gus Miftah juga menegaskan bahwa kader-kader IPNU dan IPPNU harus terus belajar dengan sepenuh niat dalam hati. “Orang yang niat belajar, di manapun, dia akan mendapatkan pelajaran. Namun, orang yang tidak niat belajar, sedang belajar pun, dia tidak akan mendapatkan pelajaran,” katanya.

Gus Miftah memberi tausyiah dalam Buka Bersama dan Doa untuk Negeri di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jakarta, Kamis (29/4). Buka bersama ini gelaran Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU). Juga bekerjasama dengan Majelis Alumni IPNU dan IPPNU Pusat.

Puasa Itu Pengendalian

Gus Miftah Maulana Habiburrahman menguraikan makna kata ash-shaum dan ash-shiyam yang dalam bahasa Indonesia artinya puasa. Dua kata tersebut pada asalnya bermakna menahan sehingga hakikat dari puasa, menurutnya, adalah pengendalian.

”Maka puasa itu pada hakikatnya adalah pengendalian,” ujarnya.

Dai milenial ini mendorong kader-kader IPNU dan IPPNU untuk lebih mengeksplorasi diri dalam menggali pengalaman dan pengetahuan sebanyak mungkin. Namun, hal tersebut harus dengan pengendalian. Pasalnya, tak sedikit yang pada akhirnya justru melampaui batas.

”Saya pikir teman-teman IPNU-IPPNU ini Ketika di usia-usia seperti kalian, eksplor itu harus, tapi tentunya dengan pengendalian diri. Banyak di antara kita yang kemudian kebablasan eksplornya, tapi tidak bisa mengendalikan diri,” ujarnya sebagaimana lansiran NU Online.

Saat baru keluar dari pesantren, khazanah keilmuan pesantrennya ditinggalkan karena memasuki dunia baru dengan bacaan-bacaan yang berbeda. Hal ini yang, menurutnya, tidak boleh terjadi mengingat dampaknya terhadap sekolah dan kampus yang akhirnya dikuasai oleh mereka yang tidak memegang paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

”Maka jangan kaget ketika kampus-kampus itu, kelompok minhum yang menguasainya. Kenapa? Karena kajian-kajian keagamaan dari kita itu mulai menyepelekan, sementara kelompok kelompok itu bersemangat,” terangnya.

Dari Pandangan dan Pendengaran

Pengendalian yang juga harus, adalah terhadap pandangan dan pendengaran. Pasalnya, mengutip Imam Ghazali, ia menyampaikan bahwa perbuatan baik atau perbuatan buruk itu ternyata awalnya dari dua hal. Yakni, dari mata yang melihat dan dari telinga yang mendengar.

“Dari pandangan mata dan pendengaran telinga, kemudian oleh hati merekam, keluar oleh mulut. Kemudian teraktualisasikan melalui perbuatan. Itu artinya apa? Kualitas omongan seseorang itu tergantung dari apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar,” kata pendakwah asal Yogyakarta itu. (ks04)

BACA JUGA ARTIKEL LAIN:

Terkumpulnya Dua Jihad Orang Mukmin di Ramadan

Begini Cara Mudah Melatih Anak untuk Berpuasa

Prof Nasaruddin Umar: Begini Sisi Moderat Muslim Sejati