Prof Nasaruddin Umar
Prof Nasaruddin Umar

Keprisatu.com – Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar menjelaskan tentang sisi moderat yang ada pada seorang Muslim sejati atau orang beriman. Cirinya, apabila tertimpa musibah akan bersabar dan jika mendapat kemewahan bakal penuh rasa syukur.

Sebab, jarak antara tantangan dan kenikmatan sangat tipis. Begitu pula jurang pemisah antara musibah dengan kelezatan hidup yang tidak terlalu terlihat secara signifikan. Keimanan seorang Muslim sejati tidak fluktuatif karena senantiasa berada di shiratal mustaqim.

“Shiratal mustaqim itu adalah jembatan antara al-maghdlub dan ad-dhollin. Apa maksud al-maghdlub? Orang yang ketika tertimpa musibah dia menjerit ke bawah. Ad-dhollin sebaliknya, kalau dia mendapat ujian dengan kemewahan, akan mabuk dia di atas,” terang Prof Nasar dalam Pesantren Ramadan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Rabu (14/4).

Mengutip Nu Online, Prof Nasar mengatakan Shiratal mustaqim itu, tidak menjerit dan tidak mabuk, karena dia menempuh shiratal mustaqim sebagai jalan tengah. “Jadi, tawasutiyah-nya itu adalah jika tertimpa musibah ya melawannya dengan sabar, jika mendapat ujian kemewahan melawannya dengan syukur,” lanjut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Menurutnya, selama dua sayap kehidupan ini kokoh dan kuat dalam diri seorang Muslim sejati, maka seluruh tantangan akan dengan mudah terlewati. Sebab menempuh jalan shiratal mustaqim.

“Shiratal mustaqim itu sebenarnya tidak lain adalah perjalanan antara ad-dhollin dan al-maghdlub itu. Maka kalau kita mengdaki ke atas, kita harus syukur. Tapi kalau kita anjlok ke bawah maka harus sabar,” kata Prof Nasaruddin Umar.

Ramadan Kali Ini Penuh Tantangan

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Ramadan kali ini, penuh dengan tantangan karena pandemi covid-19 belum selesai. Ia berharap Ramadan bukan saja dapat membakar segala dosa yang telah lalu tetapi juga mampu mengangkat virus yang membahayakan itu.

“Ramadan artinya membakar atau menghanguskan. Karena membakar hangus dosa masa lampau, sehingga pada saat Idul Fitri nanti kita seperti bayi yang baru lahir. Kita menjadi manusia baru, spirit, energi, wawasan, dan kesuksesan baru. Itulah spirit Ramadhan,” katanya.

“Ramadhan bukan saja membakar dosa-dosa kita pada masa lampau, tetapi covid-19 juga bisa terangkat. Tetapi sebagai hamba, tentu kita harus beradaptasi dengan apa pun, di mana pun, bagaimana pun. Kita harus tetap optimis dan produktif tanpa harus terganggu oleh musibah atau takut terhambat oleh kenikmatan kelezatan,” imbuh Prof Nasar.

Ramadan dan Sejarah Prestasi Islam

Prof Nasar menjelaskan pula bahwa hampir semua prestasi monumental dalam sejarah Islam terjadi pada bulan Ramadan. Di antaranya pelantikan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, penurunan wahyu, penaklukan Kota Makkah, kemenangan besar perang badar, dan penaklukan dunia-dunia Islam di Spanyol dan Afrika.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 juga terjadi pada tanggal 9 Ramadan. Lalu pendirian bangunan-bangunan monumental Universitas Al-Azhar sebagai perguruan tinggi tertua di dunia juga pada Ramadan.

Kemudian ada sejarah perang salib pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi, yang berlangsung di bulan Ramadan. “Jadi Ramadan itu adalah identik dengan sejarah prestasi dunia Islam dan umat Islam itu sendiri. Kita perlu mengambil berkah Ramadan ini. Tidak ada yang kita tancapkan di bulan Ramadan, yang tidak menghasilkan berkah,” jelasnya.

Itulah sebabnya, lanjut Prof Nasar, zakat harta pun dianjurkan atau diusahakan kita melakukan penyesuaian supaya nanti pembayaran jatuh haulnya nanti juga pada Ramadhan. “Dengan demikian berkahnya akan melimpah, insyaallah,” pungkasnya. (ks04)

sumber: https://www.nu.or.id/post/read/128052/prof-nasaruddin-umar-jelaskan-sisi-moderat-muslim-sejati

BACA ARTIKEL LAIN:

Habib Jindan: Gunakan Kesempatan Emas Ramadan

Ini Cara Mencegah dan Menghilangkan Sifat Marah

Keteladanan Wakaf Seribu Tahun Usman bin Affan