ILUSTRASI. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, bisa membuat orang frustasi saat harus beradaptasi. Ini memengaruhi kondisi jiwa. (Medical News Today)

Keprisatu.com – Rasa takut, khawatir, dan stres adalah reaksi psikologis yang normal di tengah ancaman nyata seperti pandemi Covid-19 saat ini. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan di tengah pandemi saat ini, bisa membuat orang frustasi saat harus beradaptasi.

Psikiater dari RS dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan, seseorang yang frustasi atau stres biasanya menghadapi tekanan atau stresor yang memengaruhi kondisi jiwa seseorang. Misalnya ketika seseorang kehilangan pekerjaan.

“Saat pandemi bisa kehilangan pekerjaan/ penghasilan. Realita harus bekerja dan belajar dari rumah. Pembatasan sosial berskala besar yang harus dijalani, dan lainnya,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (27/5/2020).

Kemudian masyarakat juga terbatas dalam hal kontak fisik yang berkurang dengan keluarga. Seperti orang tua, anak, keluarga, teman, guru, dan lainnya.

“Semua hal di atas bisa memicu terjadinya gangguan jiwa pada seseorang atau menyebabkan kekambuhan gangguan jiwa (relaps) yang sebelumnya sudah terkontrol/ pulih,” jelasnya.

Menurut dr. Lahargo, gangguan jiwa adalah penyakit medis yang memiliki patologi gangguan di dalam saraf otak. Gangguan jiwa adalah penyakit otak.

“Gangguan jiwa ada di mana-mana dan bisa mengenai siapa saja tanpa memandang latar belakang dan status ekonomi serta pendidikannya. Gangguan jiwa terjadi melalui suatu proses yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, bisa cepat, bisa juga lebih lambat,” katanya.

Apabila dideteksi dengan lebih cepat maka gangguan jiwa akan lebih mudah diterapi, diobati sehingga yang bersangkutan dapat pulih dan produktif kembali. Gangguan jiwa membuat seseorang menjadi terganggu fungsi dan produktivitasnya. Bahkan bisa mengganggu juga keluarga dan masyarakat.

Orang dengan gangguan jiwa tidak bisa sekolah, kuliah, dan bekerja dengan baik. Fungsi sosial juga menjadi terganggu, ODGJ tidak mampu berinteraksi dengan sekitarnya dengan baik. Kemampuan fokus, konsentrasi, atensi, memori, memutuskan untuk bertindak, kemampuan berkomunikasi, fungsi gerakan juga terganggu sehingga fungsi dan produktivitas menjadi terganggu.

Maka penting untuk melakukan deteksi dini agar penanganan bisa lebih baik. Maka gangguan jiwa dapat cepat dipulihkan dan tidak mejadi makin berat.

Deteksi dini gangguan jiwa dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit, psikiater, psikolog, perawat jiwa dan di rumah sakit jiwa. Pemeriksaan yang dilakukan adalah wawancara, pemeriksaan lab dan radiologi (bila diperlukan), tes kesehatan mental dan tes psikologis lainnya.

Setelah diagnosis ditegakkan maka terapi akan segera dimulai dan kesembuhan akan cepat diraih. Pengobatan untuk gangguan jiwa berlangsung lama dan dibutuhkan konsultasi yang rutin.

“Dengan melakukan deteksi dini dan pemeriksaan maka gangguan jiwa yang berat dapat dihindari sehingga bahaya juga bisa dicegah,” katanya.

Sumber: jawapos