Mahmud saat menjalani perawatan di RSUD Embung Fatimah.

Keprisatu.com – Mahmud asal Sumenep Madura, warga Batam tinggal di Perumahan Putri Tujuh Tahap 1 Blok L Nomor 05 RT 003 RW 004 Kelurahan Kibing, Batuaji diduga dianiaya sekuriti inisial NP perumahan dan perangkat rukun tetangga (RT) inisial MS tempat tinggalnya.

Akibat penganiayaan ini, Mahmud luka di beberapa tempat di sekujur tubuhnya, luka lebam di wajah dan kepalanya hingga koma menjalani opname di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batuaji.

Atas kejadian ini, Tambar Malem Girsang selaku istri korban, telah melaporkan pengeroyokan yang berujung pada penganiayaan berat terhadap suaminya itu ke Polsek Batuaji Nomor LP-B/V/RES 1.8/2020/RESTA BRLG/SPK-SEK BT.AJI yang diterima Bripka Andi Wahyu Prayoga.

Kejadian bermula Jumat (22//5/2020) sekitar pukul 00.30 WIB, Tambar meminta suaminya Mahmud membeli keperluan anak balita mereka ke swalayan di sekitar perumahan tersebut. Sampai di pos sekuriti sebagai akses ke luar masuk perumahan, portal perumahan ditutup.

“Suami saya turun dari motornya dan membuka sendiri portal tersebut. Sekuriti menegur, dan meminta portal kembali diturunkan supaya tertutup. Dijawab suami saya, tunggu sebentar sambil pergi ke swalayan,” ujar Tamber, seperti diceritakannya kepada Ketua DPW Ikatan keluarga Madura (IKAMA) Provinsi Kepri, Umar Faruq, Rabu (27/5/2020).

Suami saya (Mahmud), kata Tambar, karena merasa hanya sebentar saja membeli keperluan balita dan jarak antara swalayan dan pos sekuriti cukup dekat, berencana menutup portal tersebut setelah kembali dari swalayan biar tidak repot.

“Entah mereka (penganiaya terlapor) merasa tersinggung kata-kata suami saya, atau salah dengar, atau ada persoalan lain, suami saya sudah ditunggu sekuriti (NP) dan perangkat RT (MS). Padahal, perangkat RT sewaktu suami saya pergi ke swalayan tak ada di pos sekuriti. Inilah awal mula penganiayaan yang menyebabkan suami saya sampai koma,” kata Tambar sedih.

Setelah terjadi perselisihan, oknum sekuriti, kata Tambar, memberikan palu kepada perangkat RT. Lalu, perangkat RT tersebut mengayunkan palu seperti gerakan memukul. Secara refleks Mahmud menangkis dengan memegang tangan perangkat RT tersebut.

Sejurus kemudian Mahmud melihat sekuriti maju membantu RT hendak mengeroyok dirinya. Karena merasa terancam keselamatan jiwanya, Mahmud memukul sekuriti dengan rantai motor yang diambilnya.

Tanpa berpikir panjang, Mahmud mengibaskannya ke arah sekuriti yang hendak menyerang. Akibatnya, terjadi pergumulan seru tidak seimbang Mahmud seorang diri melawan tiga orang dari sekuriti dan perangkat RT.

Meski di posisi terdesak dan tak seimbang, Mahmud yang berbadan tinggi besar biasa kerja serabutan buruh bangunan ini, bisa memberikan perlawanan sengit di dini hari tersebut.

“Pelaku kemudian meneriaki suami saya maling. Teriakan tersebut, memancing perhatian dan emosi warga yang terprovokasi di tengah musibah corona ini. Lalu, warga pun ramai-ramai datang menghajar suami saya membabi buta bahkan menyeret suami saya secara tak manusiawi. Bahkan ada yang berteriak, bunuh saja,” ucap Tambar.

Mohon Keadilan dan Bantuan Kemanusiaan

Ketua DPW Ikatan Keluarga Madura Provinsi Kepri, Umar Faruq meminta pihak kepolisian segera menangkap para pelaku tanpa ada tebang pilih. Kemudian, hukum harus ditegakkan seadil-adilnya secara profesional agar tidak menjadi keresahan di tengah masyarakat, sehingga kondusivitas Batam Bandar Dunia Madani tetap terjaga.

“Tangkap, proses kemudian berkasnya lempar ke kejaksaan untuk proses pengadilan. Kalau sudah di ranah pengadilan, biar hakim nanti yang memutuskan yang seadil-adilnya. Tahap sekarang, tangkap dulu pelaku jangan sampai berkeliaran, karena ini penganiayaan berat sampai koma. Supaya ini tidak jadi preseden buruk di mata masyarakat,” ujar Umar.

Disebutkan Umar, sebenarnya Mahmud masih harus menjalani opname di RSUD Embung Fatimah. Tapi, karena tidak ada biaya sehingga Tambar membawa pulang suaminya rawat jalan di rumah. “Saya meminta kepada masyarakat Batam, kalau ada kecukupan rezeki, tolonglah dibantu warga kita yang kesusahan tersebut. Anaknya 3 masih kecil, paling tua umur 7 tahun. Suaminya itu tulang punggung keluarga,” ujar Umar.

Bantuan, kata Umar, silakan di antar ke alamat yang bersangkutan. “Kalau tak mau repot, bisa juga dititip. Ini nomor telepon saya 082245612019,” ujar Umar.(*/ted)