BERANTAS NYAMUK: Petugas melakukan fogging di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (4/5).

Keprisatu.com – Di musim pandemi Covid-19, pencegahan terhadap penyakit demam berdarah (DB) harus ditingkatkan. Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban SpPD menyatakan pernah memiliki pasien DB. Trombositnya rendah. Perawatan yang diberikan adalah untuk pasien DB. ”Setelah dua minggu pulang dalam kondisi sesak napas,” ujarnya.

Pasien tersebut menunjukkan gejala menderita Covid-19. Dia dibawa lagi ke rumah sakit dan langsung masuk ICU. Zubairi mengatakan bahwa DB bisa menjadi komorbid bagi pasien Covid-19. Artinya, DB bisa memperburuk kondisi pasien.

Namun, di sisi lain, sempat ada laporan bahwa gejala Covid-19 dan DB mirip. Kejadian tersebut dilaporkan di Tiongkok. ”Salah satunya ditunjukkan dari trombosit rendah,” ungkapnya.

Trombosit rendah bukanlah salah satu indikator seseorang terkena DB. Namun, pemeriksaan itu bisa menjadi salah satu tanda yang patut diwaspadai tenaga medis. Ketika gejala tersebut mirip, terang Zubairi, sebenarnya ada perawatan yang berbeda. Misalnya, pada pasien DB tanpa Covid, pengobatannya adalah memberikan infus atau cairan.

Sementara pada pasien Covid-19, jika kebanyakan cairan, bisa berakibat sesak napas. Karena memengaruhi jalan napasnya, terutama pada paru-paru. Zubairi menambahkan bahwa komorbid lain untuk Covid-19 beragam. Contohnya hipertensi, jantung, stroke, dan diabetes.

Sebelumnya Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa DB bisa mengintai saat musim pancaroba seperti sekarang. Terinfeksi Covid-19 dan DB secara bersamaan bisa memperburuk keadaan. ”Akan menyulitkan, akan menambah jumlah kesakitan, dan tidak menutup kemungkinan menambah kematian,” terangnya.

Sumber: Jawapos