Ilustrasi. Foto ricky prakoso/ getty

Keprisatu.com – Sejumlah masyarakat khususnya dari pelaku usaha, merespons positif rencana Pemerintah Kota (Pemko) Batam akan menerapkan new normal yakni suasana baru aman di masa corona virus disease 2019 (covid-19) dengan protokol kesehatan. Direncanakan, new normal ini mulai diberlakukan 15 Juni 2020 mendatang.

Sementara itu, sejumlah orang tua murid malah was-was kalau anaknya masuk sekolah sebelum Batam zona hijau yakni aman dari penyebaran covid-19. Hal ini, karena usia anak masih muda sehingga sulit dipaksakan konsisten disiplin menerapkan protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Baguslah, semoga aktivitas binis kembali bangkit. Jujur ya, saya memiliki 7 karyawan. Begitu corona datang, terpaksa saya rumahkan 5 karyawan saya karena penjualan anjlok di musim corona,” ujar Erwin, salah seorang pengusaha showroom mobil seken di Batam Centre, Kamis (28/5/2020).

Diakuinya, saat corona waktu yang tepat berinvestasi membeli mobil seken karena harganya anjlok. “Alhamdulillah, ada yang distok. Semoga new normal nanti menjadikan ekonomi Batam kembali bangkit, sehingga harga mobil kembali naik. Ini untuk menutupi pengeluaran masa corona,” mimpi Erwin.

Harapan yang sama diutarakan Syafrizal, pemilik barbershop di Botania, Batam Centre. Ia berharap dengan new normal  menerapkan protokol kesehatan memakai masker dan mencuci tangan bisa meningkatkan kepercayaan pelanggan memotong rambut.

“Profesi tukang pangkas sangat rentan terkena dampak covid-19. Sebab, kami memangkas rambut dengan jarak yang begitu dekat dengan pelanggan. Dengan new normal, setidaknya tingkat kepercayaan masyarakat memangkas rambut di barbershop meningkat. Sehingga, pendapatan kembali normal,” ujar Syafrizal.

Jika kalangan pengusaha merespons positif new normal, beda dengan sejumlah orang tua murid. Banyak yang was-was memasukkan anaknya sekolah, sebelum Batam dinyatakan zona hijau atau zona nyaman dari penyebaran virus corona.

Bachrul Lubis, warga Perumahan Citra Batam termasuk yang was-was. “Ngeri juga memasukkan anak ke sekolah, sebelum Batam zona hijau. Namanya juga anak, kita tak tahu bagaimana mereka di sekolah. Bisa jadi maskernya dibuka, dibuang, tukar-tukaran dengan temannya luput dari pantauan guru. Apalagi mereka sudah lama tak jumpa teman sekolahnya,” ujar Bachrul.

Kekhawatiran yang sama dikemukakan Mulyadi, warga Perumahan Taman Kota Mas Batam Centre. “Anak saya masih SD. Namanya juga masih kecil, belum tentu bisa diharapkan kesadaran mereka disiplin mengikuti protokol kesehatan. Seusia mereka masih bermain, susah diatur mereka jaga jarak. Kalau bisa, untuk TK dan SD, agar libur diperpanjang sampai Batam benar-benar dinyatakan zona hijau,” saran Mulyadi.

Sedangkan tingkat SMP dan SMA sederajat, menurut Mulyadi, usianya sudah dewasa bisa diarahkan konsisten mengikuti protokol kesehatan. “Tapi, untuk ruang belajar supaya bisa berjarak, perlu juga dipikirkan ketersediaan ruang belajar. Kemudian, jumlah murid yang begitu banyak, apakah guru sudah siap melakukan pengawasan agar anak disiplin menerapkan protokol kesehatan,” ujar Mulyadi, yang juga salah satu pengurus komite salah satu sekolah di Sungaipanas ini.

Sementara itu, Salsa yang anaknya sekolah di SMP swasta, berharap di masa pandemi covid-19 ada pengurangan SPP. “Guru gajian dibayar dari SPP. Tapi, sekolah kan punya yayasan dan setiap tahun yayasan memungut uang pendaftaran dan SPP tiap bulan. Di masa pandemi covid-19 ini, yayasan harus memikirkan kesusahan orang tua murid yang terdampak covid-19. Kan tak semua orang tua murid kaya,” ujar Salsa.

Solusinya, saran Salsa, sekolah yang mendapat dana bantuan operasional sekolah (BOS) bisa dipakai untuk mengurangi SPP. “Toh tak belajar juga di sekolah. Malah, kita yang jadi orang tua  tambah repot mendampingi anak belajar di rumah. Sementara, pendapatan suami berkurang terdampak pandemi covid-19,” keluh Salsa.(*/ted)