Manufaktur berkembang, ekonomi jiran Singapura bisa tumbuh 7,1 persen.
Ilustrasi.

Keprisatu.com – Ekonomi negeri jiran Singapura bisa tumbuh hingga 7,1 persen pada kuartal III dibanding tahun lalu. Pertumbuhan ini didukung berkembangnya sektor manufaktur sehingga lebih baik dari yang diperkirakan, tetapi lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 15,2 persen.

Sebelumnya analis memperkirakan ekonomi negeri yang berseberangan lautan dengan Provinsi Kepualaun Riau itu hanya 6,5 persen di kuartal ketiga. Kementerian Perdagangan dan Perindustrian (MTI) setempat juga sempa mempersempit perkiraan pertumbuhan PDB untuk 2021 menjadi sekitar tujuh persen, dari sebelumnya 6-7 persen.

Hal ini didasarkan pada kinerja ekonomi Singapura pada tiga kuartal pertama tahun ini, serta perkembangan terbaru ekonomi eksternal dan domestik. Pertumbuhan PDB pada tiga kuartal pertama 2021 mencapai 7,7 persen.

Angka kuartal II sebesar 15,2 persen sebagian besar disebabkan oleh basis rendah pada kuartal yang sama di 2020 ketika PDB turun 13,3 persen karena langkah-langkah Pemutus Sirkuit yang diberlakukan dari 7 April hingga 1 Juni. Selain itu, karena penurunan tajam dari penurunan permintaan eksternal selama pandemi covid-19.

“Faktor-faktor ini juga akan menjelaskan pertumbuhan tahun ke tahun yang kuat yang terlihat pada kuartal kedua 2021 untuk sektor-sektor seperti konstruksi, perdagangan ritel, dan layanan makanan & minuman (F&B),” kata MTI, sebagaimana Channel News Asia, Kamis (25/11/21) melansirnya.

Sektor Manufaktur

Semua klaster sektor manufaktur Singapura berkembang selama kuartal III, kecuali klaster manufaktur biomedis. Sektor manufaktur bahkan tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, tetapi melambat dari pertumbuhan 17,9 persen pada kuartal sebelumnya.

Klaster elektronik dan rekayasa presisi, khususnya, terus mencatat pertumbuhan yang sehat di tengah permintaan global yang kuat untuk semikonduktor dan peralatan semikonduktor. Sektor konstruksi naik 66,3 persen tahun-ke-tahun, melambat dari pertumbuhan 117,5 persen pada kuartal sebelumnya, karena output konstruksi sektor publik dan swasta naik.

“Pertumbuhan yang kuat selama kuartal ini terutama karena efek dasar yang rendah mengingat dimulainya kembali kegiatan konstruksi yang lambat setelah periode Circuit Breaker tahun lalu,” ungkap MTI. (KS04)