Batam, Keprisatu.com – Diklat dan Penyegaran Pelatih Taekwondo Indonesia (TI) Kepulauan Riau Tahun 2026 resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari, 25-27 September 2026, di Asrama Haji Batam. Kegiatan ini diikuti 41 pelatih dari enam kabupaten/kota se-Kepri, di luar Kabupaten Kepulauan Anambas.
Selama kegiatan, para peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan kepelatihan taekwondo. Selain pemahaman mengenai peraturan dan perkembangan regulasi pertandingan, peserta juga mendapatkan materi psikologi dan psikotes sebagai bagian dari upaya melihat sekaligus meningkatkan kemampuan pelatih dalam menjalankan tugas pembinaan.
Ketua Pengprov TI Kepri, Kosasi Sumarli, SE, mengatakan pelaksanaan diklat dan penyegaran ini merupakan bagian penting dari pembinaan organisasi. Menurutnya, semakin banyaknya dojang atau tempat latihan taekwondo di Kepri harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelatih.

“Banyaknya dojang di Kepri harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelatih. Karena pada akhirnya kualitas pelatih akan berujung pada peningkatan kualitas atlet,” ujar Kosasi.
BACA JUGA : Batam Jadi Tuan Rumah Batam International Taekwondo Championship 2026, Diikuti Peserta Mancanegara
Ia menjelaskan, kualitas pembinaan atlet nantinya dapat dilihat dari berbagai kejuaraan yang diikuti para atlet, mulai dari event tingkat daerah, nasional hingga internasional. Prestasi yang diraih dalam berbagai tingkatan pertandingan tersebut menjadi salah satu gambaran dari proses pembinaan yang dilakukan di masing-masing daerah.
Kosasi juga menginginkan setiap pelatih memiliki kemampuan memahami karakter calon atlet sejak proses pembinaan dimulai. Seorang pelatih tidak hanya dituntut mampu mengajarkan teknik, tetapi juga harus mampu membangun ketertarikan anak untuk bergabung dan bertahan dalam olahraga taekwondo.
“Pelatih harus tahu bagaimana membina dari awal, bagaimana menarik minat orang untuk bergabung di Taekwondo Indonesia, termasuk bagaimana meyakinkan dan menarik perhatian orang tua peserta,” katanya.
Menurut Kosasi, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari tugas seorang pelatih. Hubungan pelatih dengan atlet dan orang tua harus dibangun dengan baik, sehingga proses pembinaan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Karena itu, pelatih juga dituntut memiliki kemampuan lain di luar aspek teknis taekwondo.
Dalam diklat tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test sebagai salah satu bagian dari proses evaluasi. Materi yang diberikan kemudian mencakup berbagai aspek kepelatihan, termasuk psikologi, sehingga pelatih diharapkan memiliki pemahaman yang lebih luas dalam menghadapi karakter atlet yang berbeda-beda.
Kosasi menjelaskan, pelatih pada setiap tingkatan juga memiliki tuntutan kemampuan yang berbeda. Pelatih tingkat daerah, provinsi, nasional bahkan internasional tidak dapat menggunakan pola dan cara melatih yang sama, karena kebutuhan atlet serta tingkat kompetisinya juga berbeda.
“Cara melatihnya tentu berbeda. Seorang pelatih harus memiliki kemampuan untuk melihat atlet ini akan dibawa sampai level mana. Dari calon atlet, atlet daerah, provinsi, nasional sampai internasional, semuanya membutuhkan pendekatan yang berbeda,” jelasnya.
Ia berharap hasil diklat tidak berhenti setelah kegiatan ditutup. Para pelatih diharapkan membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk diterapkan di dojang masing-masing, sehingga terjadi peningkatan kualitas pembinaan secara nyata dan berkelanjutan.
Kosasi juga berharap kegiatan penyegaran seperti ini dapat terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya Pengprov TI Kepri membangun pelatih yang kompeten, berkarakter dan bertanggung jawab, sekaligus mempersiapkan atlet-atlet Kepri untuk bersaing dan berprestasi pada berbagai level pertandingan. (teguh joko lismanto)