Batam, Keprisatu.com – Setiap perjalanan seorang tokoh pada akhirnya akan sampai pada satu titik ketika panggung tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Jabatan bisa berakhir, kekuasaan bisa berganti, dan hiruk-pikuk politik perlahan menjauh. Tetapi ada sesuatu yang tidak serta-merta selesai ketika seseorang meninggalkan panggung: pengalaman, pemikiran, hubungan dengan masyarakat, serta jejak pengabdian yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pada titik inilah perjalanan seorang tokoh menarik untuk dilihat bukan lagi semata dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari apa yang masih dapat diberikan setelah panggung itu tidak lagi menjadi miliknya.
BACA JUGA : Prof. DR. HM. Soerya Respationo, SH, MH, MM: Sang Dirigen di Tengah Orkestra Keberagaman
Tulisan terakhir ini mencoba melihat perjalanan Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM atau yang akrab disapa Romo, dari sudut yang sedikit berbeda.
Bukan sekadar sebagai seorang politisi, akademisi, tokoh hukum, atau mantan pejabat publik, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang Batam dan Kepulauan Riau dalam merawat keberagaman, persaudaraan, serta kehidupan kebangsaan.
Sebab pada akhirnya, ukuran perjalanan seorang manusia mungkin bukan hanya seberapa lama ia berada di pusat kekuasaan, tetapi seberapa jauh pengalaman yang dimilikinya dapat kembali menjadi manfaat bagi masyarakat dan menjadi jembatan bagi generasi berikutnya. Berikut ulasan yang dikutip dari Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM Dosen Pascasarjana-Universitas Ibnu Sina.
Tak Sekadar Kota: Batam Bawa Harapan Baru

Batam bukan sekadar sebuah kota. Ia adalah perjumpaan. Perjumpaan manusia dari berbagai daerah. Perjumpaan budaya. Perjumpaan agama. Perjumpaan kepentingan ekonomi.
Perjumpaan antara masyarakat lokal dan mereka yang datang membawa harapan baru. Di kota seperti Batam, keberagaman bukan teori. Ia hadir setiap hari. Di pasar. Di pelabuhan. Di kawasan industri. Di kampung-kampung. Di pusat bisnis. Di rumah ibadah. Di lingkungan tempat tinggal.
Dan dalam berbagai komunitas yang tumbuh bersama perkembangan kota. Karena itu, berbicara tentang Batam sesungguhnya juga berbicara tentang Indonesia dalam bentuk yang lebih kecil.
BACA JUGA : Romo Soerya dan “Ruang Tengah”: Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Di tengah ruang yang demikian beragam, lahir dan tumbuh tokoh-tokoh yang perjalanan hidupnya tidak hanya mencerminkan dinamika daerah, tetapi juga membawa pengalaman daerah ke ruang yang lebih luas.
Salah satunya adalah Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM – (Romo).
Batam sebagai sekolah kebangsaan Ada kota yang mengajarkan seseorang tentang bisnis. Ada yang mengajarkan tentang birokrasi. Ada yang mengajarkan tentang sejarah.
Batam mengajarkan sesuatu yang lain: bagaimana hidup bersama dalam keberagaman.
Di Batam, seseorang belajar bahwa tetangga bisa mempunyai latar belakang berbeda. Teman kerja bisa berbeda agama. Rekan usaha bisa berbeda suku. Teman organisasi bisa berbeda pandangan politik.
Namun semuanya tetap dapat berada dalam satu ruang sosial. Itulah sesungguhnya wajah Indonesia.
BACA JUGA : Dari Bahasa Jalanan ke Bahasa Konstitusi
Dan pengalaman hidup di tengah masyarakat seperti Batam dapat menjadi sekolah kebangsaan yang sangat berharga. Karena kebangsaan bukan sekadar upacara. Bukan sekadar bendera.
Bukan sekadar pidato tentang persatuan. Kebangsaan adalah kemampuan untuk mengatakan: “Kita berbeda, tetapi kita hidup dalam rumah yang sama.”
Dari lokal menuju nasional
Seorang tokoh daerah tidak harus kehilangan identitas daerahnya ketika berbicara dalam perspektif nasional.
Justru pengalaman daerah dapat menjadi bahan penting untuk memahami Indonesia. Batam mempunyai persoalan sendiri.
Tentang wilayah perbatasan.
Tentang investasi.
Tentang tenaga kerja.
Tentang tata kelola pemerintahan.
Tentang hubungan kewenangan antara pemerintah daerah dan lembaga lainnya.
Tentang masyarakat yang sangat heterogen.
Tentang pembangunan yang bergerak cepat.
Persoalan-persoalan tersebut tidak hanya penting bagi Batam. Ia juga menjadi bagian dari percakapan besar tentang bagaimana Indonesia mengelola wilayah strategis dan masyarakat yang terus berkembang.
BACA JUGA : Ketika Kursi Berpindah, Pengabdian Jangan Berakhir
Di sinilah latar belakang Romo dalam hukum tata negara, pemerintahan, politik, dan akademik bertemu dengan pengalaman lokal.
Dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Batam, ia mengangkat persoalan harmonisasi kebijakan dan tata kelola antara Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan Batam.
Persoalan tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman lokal dapat dibawa ke dalam pembahasan tata kelola negara.
Batam, dengan demikian, bukan sekadar tempat seseorang membangun karier
Batam dapat menjadi laboratorium kebangsaan. Indonesia tidak dibangun dari satu warna Kita sering mengucapkan kata “persatuan”.
Tetapi persatuan yang sesungguhnya bukan berarti semua orang harus sama. Indonesia justru lahir karena mampu menyatukan banyak perbedaan.
Berbeda bahasa.
Berbeda budaya.
Berbeda agama.
Berbeda tradisi.
Berbeda cara berpikir.
Namun mempunyai satu kesadaran: Indonesia adalah rumah bersama.
Dalam konteks seperti itu, tokoh masyarakat memiliki peran yang penting. Bukan untuk membuat masyarakat seragam. Tetapi untuk menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Di sinilah pengalaman Romo dalam berbagai ruang sosial menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.
Dari komunitas, ke organisasi.
Dari dunia hukum, ke pemerintahan.
Dari politik ke akademik.
Dan dari pengalaman lokal Batam menuju percakapan kebangsaan.
Politik sebagai bagian, bukan keseluruhan Politik memang penting dalam kehidupan negara. Tetapi Indonesia jauh lebih besar daripada politik.
Ada masyarakat.
Ada kebudayaan.
Ada pendidikan.
Ada agama.
Ada ekonomi.
Ada hukum.
Ada keluarga.
Ada komunitas.
Ada gotong royong.
Dan ada jutaan hubungan antarmanusia yang setiap hari membuat Indonesia tetap berdiri. Karena itu, pengalaman seorang tokoh politik tidak harus berhenti sebagai pengalaman politik.
Ia dapat menjadi pengalaman sosial. Pengalaman pemerintahan dapat menjadi pengetahuan publik. Pengalaman hukum dapat menjadi pendidikan masyarakat. Pengalaman organisasi dapat menjadi modal membangun komunitas.
Dan pengalaman bergaul dengan berbagai kelompok dapat menjadi kemampuan merawat persaudaraan.
Di situlah perjalanan seorang tokoh menjadi lebih panjang daripada masa jabatannya. Menjadi jembatan antara pusat dan daerah Indonesia adalah negara yang luas.
Kadang persoalan nasional terlihat sangat berbeda ketika dilihat dari Jakarta dan ketika dirasakan di Batam. Kebijakan yang terlihat sederhana di atas kertas dapat memiliki konsekuensi yang berbeda di daerah.
Karena itu, perspektif daerah perlu dibawa ke ruang nasional. Bukan untuk mempertentangkan pusat dan daerah. Melainkan untuk memperkaya cara negara memahami persoalan.
Batam mempunyai pengalaman sebagai kota perdagangan, industri, kawasan strategis, sekaligus bagian dari wilayah perbatasan. Pengalaman seperti ini penting untuk terus dibicarakan dalam ruang kebangsaan.
Dan tokoh yang memiliki pengalaman di berbagai lapisan masyarakat dapat berperan sebagai jembatan komunikasi.
Membawa suara daerah.
Menerjemahkan kebijakan.
Membaca persoalan hukum.
Dan menghubungkan berbagai kelompok masyarakat.
Kebangsaan dimulai dari meja makan.
Ada sesuatu yang sederhana tetapi sering kita lupakan. Kebangsaan tidak selalu dimulai dari gedung negara.
Ia bisa dimulai dari rumah.
Dari lingkungan.
Dari meja makan.
Dari tetangga.
Dari komunitas.
Dari kesediaan menghadiri undangan orang lain meskipun berbeda latar belakang. Dari mengucapkan selamat kepada saudara yang merayakan hari besarnya. Dari membantu tetangga ketika mengalami kesulitan.
Dari menjaga keamanan lingkungan bersama. Dari berdiskusi tanpa saling menghina. Hal-hal sederhana itulah yang sesungguhnya membangun kepercayaan sosial. Dan tanpa kepercayaan sosial, tidak ada bangsa yang benar-benar kuat.
Romo dan ruang kebangsaan
Mungkin inilah cara paling sederhana membaca perjalanan Romo. Ia tidak hanya berada di satu ruang.
Ia bergerak di antara banyak ruang.
Hukum.
Akademik.
Pemerintahan.
Politik.
Organisasi.
Komunitas.
Dan masyarakat.
Setiap ruang mempunyai bahasa yang berbeda. Namun semuanya mempunyai satu persoalan: bagaimana manusia dapat hidup bersama dengan baik. Karena itu, ruang kebangsaan tidak harus selalu berupa forum nasional.
Ruang kebangsaan dapat hadir di mana saja.
Di Batam.
Di komunitas.
Di kampus.
Di organisasi.
Di rumah ibadah.
Di ruang dialog masyarakat.
Bahkan di sebuah meja kopi tempat orang-orang berbeda pandangan duduk bersama. Selama di sana ada kesediaan untuk mendengar dan menghormati, di sana pula kebangsaan sedang dirawat.
Dari Batam, sebuah pesan sederhana Batam mengajarkan bahwa keberagaman bukan hambatan. Keberagaman adalah kenyataan. Yang menjadi pekerjaan kita adalah bagaimana kenyataan itu dikelola menjadi kekuatan.
Karena itu, mungkin pesan terbesar yang dapat dibawa dari Batam ke ruang kebangsaan bukanlah tentang siapa yang paling benar.
Melainkan tentang bagaimana kita tetap bisa bersama meskipun berbeda.
Tentang bagaimana hukum dapat melindungi semua.
Tentang bagaimana kebijakan dapat mendengar masyarakat.
Tentang bagaimana politik tidak memutus persaudaraan.
Dan tentang bagaimana pengalaman seseorang dapat dikembalikan kepada masyarakat sebagai pengetahuan.
Epilog: Sebuah perjalanan yang belum selesai Lima tulisan mungkin cukup untuk menggambarkan sebagian kecil perjalanan seorang Romo. Dari bahasa jalanan ke bahasa konstitusi. Dari komunitas menuju ruang persaudaraan. Dari panggung politik menuju pengabdian. Dan akhirnya dari Batam menuju ruang kebangsaan.
Tetapi sebenarnya cerita itu belum selesai.
Sebab pengabdian tidak mengenal garis akhir. Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan tempat berdiskusi, masih ada generasi muda yang membutuhkan pengalaman, masih ada persoalan publik yang membutuhkan pemikiran, dan masih ada perbedaan yang membutuhkan jembatan, maka ruang pengabdian akan selalu terbuka.
Barangkali itulah makna terdalam dari perjalanan seorang tokoh.
Bukan seberapa tinggi ia pernah berdiri. Tetapi seberapa luas ruang yang mampu ia buka agar orang lain dapat berdiri bersama. Batam telah menjadi bagian dari perjalanan itu.
Dan dari Batam, ada sebuah pesan sederhana untuk ruang kebangsaan: Indonesia tidak membutuhkan kita untuk menjadi sama. Indonesia membutuhkan kita untuk mampu berbeda tanpa bermusuhan, berdialog tanpa saling merendahkan, dan bersatu tanpa kehilangan jati diri.
Jika perjalanan seorang manusia akhirnya dapat membawa pesan seperti itu dari kota kecil di sudut strategis negeri menuju percakapan Indonesia yang lebih luas, maka perjalanan tersebut bukan hanya perjalanan karier.
Ia adalah perjalanan pengabdian. Dari Batam untuk Indonesia. Dari keberagaman menuju persaudaraan. Dari pengalaman menuju pengabdian. Dan dari masyarakat menuju ruang kebangsaan. (*)
From the Desk Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM Dosen Pascasarjana-Universitas Ibnu Sina of: Ketua Yayasan Syafri Amanah/Sekolah Islam Nabillah