Beranda Batam Prof. DR. HM. Soerya Respationo, SH, MH, MM: Sang Dirigen di Tengah...

Prof. DR. HM. Soerya Respationo, SH, MH, MM: Sang Dirigen di Tengah Orkestra Keberagaman

Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Batam

Keprisatu.com – Sosok Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM, atau yang akrab disapa “Romo”, dikenal melalui perjalanan panjangnya di berbagai ruang kehidupan publik, mulai dari dunia hukum, pemerintahan, politik, akademik hingga komunitas masyarakat.

Perjalanan tersebut membuat Romo tidak hanya dikenal sebagai akademisi dan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Batam, tetapi juga sebagai figur yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan beragam lapisan masyarakat.

Dalam tulisan reflektifnya, Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM, Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Sina sekaligus Ketua Yayasan Syafri Amanah/Sekolah Islam Nabillah, mencoba melihat sosok Romo dari sisi yang lebih personal dan sosial.

Bukan semata dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari kemampuannya membangun komunikasi, menjembatani perbedaan, serta tetap hadir di tengah berbagai kelompok masyarakat.

Berikut tulisan selengkapnya:

ADA orang yang hanya dikenal di ruang rapat. Ada yang dikenal di ruang politik. Ada yang dihormati di ruang akademik. Ada pula yang namanya justru lebih dahulu dikenal di warung kopi, di lorong-lorong komunitas, di tengah masyarakat akar rumput, atau dalam percakapan informal yang jauh dari bahasa protokoler.

Tetapi ada sosok yang menarik karena mampu hadir di berbagai ruang tersebut. Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM. yang akrab disapa “Romo”—adalah sosok yang perjalanan kehidupannya mempertemukan berbagai dunia: hukum, akademik, pemerintahan, politik, komunitas masyarakat dan ruang-ruang silaturahmi lintas kelompok.

Ia bukan sekadar seseorang yang berbicara tentang masyarakat dari balik meja akademik. Ia juga memiliki pengalaman panjang berada di tengah dinamika masyarakat dan pemerintahan. Kini, ia dikenal sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Batam.

Namun, mungkin justru ada sisi lain dari Romo yang lebih menarik untuk ditulis: Kemampuannya berbicara dengan banyak dunia.

Bahasa seorang akademisi tentu berbeda dengan bahasa seorang aktivis masyarakat. Bahasa ruang sidang berbeda dengan bahasa ruang politik. Bahasa birokrasi berbeda dengan bahasa komunitas.

Tetapi seorang pemimpin sosial yang efektif sering kali bukan mereka yang hanya menguasai satu bahasa. Melainkan mereka yang mampu menerjemahkan satu bahasa ke bahasa yang lain. Di situlah menariknya Romo.

Dari pengalaman sebagai pengacara dan tokoh pemerintahan, sampai menjadi guru besar, ia berada pada persimpangan antara teori dan praktik. Ia dapat membawa persoalan masyarakat ke dalam perspektif hukum, tetapi pada saat yang sama persoalan hukum dan kebijakan dapat dibawa kembali ke bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

Bahkan dalam berbagai forum masyarakat yang heterogen, sosok seperti Romo sering kali bukan sekadar peserta. – Ia bisa menjadi tempat orang bertanya. – Tempat orang menguji pendapat. – Tempat orang mencari perspektif kedua.

Dan terkadang, tempat orang yang berbeda pandangan kembali menemukan titik temu. Dari “gaya jalanan” menuju bahasa konstitusi Ada satu paradoks menarik dalam perjalanan tokoh seperti Romo.

Pengalaman hidup membuat seseorang mengenal realitas masyarakat dari bawah, sementara pendidikan dan perjalanan profesinya membawanya semakin jauh ke ruang-ruang akademik dan kebijakan.

Dua dunia itu sebenarnya tidak bertentangan. Justru di sanalah nilai seorang tokoh diuji. Hukum tidak boleh kehilangan rasa keadilan masyarakat. Politik tidak boleh kehilangan hubungan dengan rakyat. Kebijakan publik tidak boleh berhenti sebagai dokumen.

Dan akademisi tidak boleh kehilangan kemampuan mendengar realitas. Romo tampaknya berada pada ruang pertemuan itu. Bukan berarti semua orang harus selalu sepakat dengannya. Justru sebuah ruang publik yang sehat membutuhkan perbedaan.

Tetapi perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Itulah filosofi yang terasa dalam berbagai ruang sosial yang mempertemukan dirinya dengan masyarakat. Dalam Kawan Lama Batam, misalnya, Romo tercatat sebagai salah satu pendiri.

Organisasi tersebut menghimpun orang-orang dengan latar belakang yang beragam—pengusaha, akademisi, politisi, mantan pejabat BP Batam dan pemerintah daerah, birokrat, serta tokoh masyarakat. Dalam forum tersebut, gagasan tentang persaudaraan dan menjaga silaturahmi di tengah perbedaan menjadi salah satu pesan yang ditekankan.

Menjadi “dirigen” tanpa harus memainkan semua alat music, Mungkin ini metafora yang tepat untuk menggambarkan peran Romo di tengah masyarakat: seorang dirigen.

Dalam sebuah orkestra, tidak semua pemain memainkan alat musik yang sama. Ada biola. Ada piano. Ada drum. Ada alat musik tiup. Masing-masing memiliki karakter suara sendiri. Dirigen tidak perlu memainkan seluruh alat musik.

Tugasnya adalah memahami kapan setiap suara harus hadir, kapan harus memberi ruang, dan bagaimana berbagai suara itu dapat menghasilkan harmoni. Begitu pula dalam masyarakat. Ada kelompok pengusaha.

Ada akademisi. Ada politisi. Ada aparat. Ada komunitas budaya. Ada tokoh agama. Ada masyarakat akar rumput. Ada generasi muda. Mereka tidak selalu mempunyai cara pandang yang sama. Tetapi masyarakat tidak membutuhkan keseragaman. Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dan di ruang seperti itulah sosok yang mampu menjadi penghubung mempunyai arti penting. Dari Batam menuju perspektif kebangsaan Pengukuhan Romo sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara pada 2023 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan intelektualnya.

Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat tema harmonisasi kebijakan dan praktik tata kelola antara Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan Batam—sebuah persoalan yang sangat dekat dengan dinamika pembangunan Batam. Di sini terlihat bahwa pengalaman sosial dan politik tidak harus berhenti sebagai pengalaman. Ia dapat diolah menjadi gagasan.

Dan gagasan kemudian dapat dikembalikan kepada masyarakat sebagai pengetahuan. Mungkin itulah sebabnya sosok seperti Romo tetap dicari ketika masyarakat menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Bukan karena satu orang memiliki seluruh jawaban. Tetapi karena pengalaman panjang membuat seseorang mampu melihat persoalan dari beberapa sisi sekaligus.

Pada akhirnya, manusia tetap lebih penting daripada jabatan Jabatan mempunyai masa. Kekuasaan mempunyai batas. Organisasi mengalami pergantian. Politik memiliki dinamika. Tetapi hubungan antarmanusia bisa bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, mungkin ukuran menarik dari perjalanan seorang tokoh bukan hanya berapa banyak jabatan yang pernah didudukinya. Tetapi berapa banyak orang dari latar belakang berbeda yang masih bersedia duduk satu meja dengannya.

Di situlah Romo Soerya menjadi sebuah cerita yang menarik untuk ditulis. Cerita tentang seorang pengacara yang memasuki dunia politik. Seorang politisi yang masuk ke dunia akademik. Seorang akademisi yang tetap berbicara dengan masyarakat. Seorang tokoh yang berada di tengah berbagai komunitas.

Dan seorang manusia yang, dalam banyak kesempatan, memilih membangun jembatan daripada memperbesar jarak. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak selalu membutuhkan orang yang paling keras suaranya.

Kadang-kadang masyarakat membutuhkan seseorang yang mampu berkata: “Mari kita duduk dulu. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi kita tetap saudara.” Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari seorang Romo. (*)

From the Desk of: Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM Dosen Pascasarjana-Universitas Ibnu Sina Ketua Yayasan Syafri Amanah/Sekolah Islam Nabillah.