Keprisatu.com – Beberapa ahli meyakini jika data Covid-19 laiknya
fenomena gunung es. Banyak yang masih belum diungkapkan oleh pemerintah
terkait dengan penyebaran virus corona di Indonesia.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto secara berkala
mengumumkan kasus pasien Covid-19 secara daring. Hingga Selasa (28/4),
jumlah kasus yang terkonfirmasi positif menjadi 9.511 kasus. Sementara
yang sembuh bertambah 103 orang menjadi 1.254 orang.

Pemerintah juga mencatat, kemarin ada tambahan pasien meninggal
sebanyak 8 orang sehingga total menjadi 773 orang meninggal. Angka
tambahan kematian tersebut berangsur menurun apabila dibandingkan
dengan data hari sebelumnya.

Data pasien meninggal itulah yang kini mendapat banyak sorotan. Tak
hanya di Indonesia. Berbagai negara lain juga menerima tudingan
menutupi fakta karena diyakini jumlah kematian jauh lebih tinggi.

Di Indonesia, pemerintah hanya menampilkan data pasien meninggal yang
sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Menurut pakar data Ismail Fahmi,
hal itu membuat data yang ditampilkan menjadi lemah. “Harus dipahami
bahwa jumlah testing PCR kita sangat rendah dibandingkan negara-negara
lain. Banyak yang belum dites dan sebetulnya meninggal karena Covid,”
terangnya Selasa (28/4).

“Ini artinya, jumlah laporan tidak menggambarkan kondisi di lapangan,”
lanjut pengembang aplikasi analisis data Drone Emprit itu.

Karena itu, pemerintah semestinya menampilkan data tambahan. Yakni,
data pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal. “Pemerintah sajikan
dua data. Pertama adalah data meninggal positif. Kedua adalah data
gabungan antara yang meninggal positif dan meninggal PDP,” tutur
Ismail.

Mengapa data gabungan? Sebab, PDP yang meninggal itu hanya menunggu
hasil tes sampel. Apakah dia menjadi positif atau negatif Covid-19.
Dengan demikian, setidaknya pemerintah akan mendapatkan data yang
mendekati riil. Apalagi, prinsipnya, pasien PDP yang meninggal juga
akan diperlakukan sebagai pasien Covid-19.

Ismail mengingatkan, data riil sangat penting dipublikasikan.
Tujuannya, membantu para ahli karena menggambarkan kondisi pandemi yang
sebenarnya sekaligus membantu mereka memproyeksikan kapan pandemi
berakhir. “Scientist akan membantu pemerintah memproyeksikan, kira-kira
ini kita (kurvanya) mulai melandai atau belum,’’ tuturnya.

Bila pemerintah mendapat gambaran yang tepat tentang kondisi riil, hal
itu akan membantu dalam pengambilan kebijakan. Untuk itu, harus ada
sumber data yang real time. Menurut Ismail, data yang dipublikasikan
saat ini kurang memadai untuk digunakan. Sebab, data yang
dipublikasikan itu merupakan gambaran realitas sepekan lalu.

Dalam membuat proyeksi, para ilmuwan sangat mengandalkan data. Data
yang ada bakal menjadi proxy untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil
analisis itu akan menentukan berbagai hal. Ilmuwan bisa membuat
berbagai prediksi berdasar analisis data. Syaratnya, datanya harus real
time.

Ismail meyakinkan bahwa keterbukaan data tidak akan membuat masyarakat
panik. Dengan menutupi daya, yang terjadi sekarang bukanlah ketenangan,
melainkan ketidakpercayaan terhadap data pemerintah. “Jadi, kalau
dibuka datanya, (publik) malah lebih percaya nanti,” tegasnya. (*)

Sumber: jawapos.com