Batam, Keprisatu.com – Tokoh masyarakat Indonesia Timur di Batam memastikan rencana aksi damai terkait kasus bentrokan berdarah di Setokok tetap akan digelar.
Aksi tersebut rencananya menyasar sejumlah institusi, yakni Polda Kepri, Polresta Barelang dan BP Batam, sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus meminta penanganan perkara dilakukan secara adil dan transparan.
Tokoh Indonesia Timur, Simon Payung Masan dan Jamsir, mengatakan keputusan untuk tetap menggelar aksi damai tersebut telah disepakati dalam konsolidasi yang dilakukan bersama sejumlah elemen. Namun, waktu pelaksanaan aksi masih dalam pembahasan dan akan ditentukan setelah proses konsolidasi selesai.

“Hari ini kami sudah sepakat, tetap akan ada aksi damai di Polda, Polres dan BP Batam. Waktunya masih konsolidasi. Intinya tetap akan ada aksi damai,” kata Simon, Selasa (29/9) sore.
Menurutnya, aksi tersebut bukan untuk memperkeruh situasi pascabentrokan di Setokok pada 14 September 2026. Mereka ingin menyampaikan aspirasi agar aparat penegak hukum dapat melihat persoalan secara menyeluruh dan memberikan perlakuan yang adil kepada seluruh pihak yang terlibat.
Simon mengatakan pihaknya berharap proses hukum kasus Setokok dilakukan secara terbuka dan berdasarkan fakta serta alat bukti. Terlebih, bentrokan tersebut telah menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.
“Intinya kami berharap aparat penegak hukum berlaku adil dalam menyikapi persoalan ini. Kami berharap keadilan seutuhnya dalam kasus Setokok, karena ada dua orang yang meninggal dan tujuh lainnya luka-luka,” ujarnya.
Selain proses penyidikan, Simon dan Jamsir meminta kepolisian membuka informasi terkait hasil pemeriksaan terhadap korban secara transparan. Mereka secara khusus berharap proses otopsi terhadap dua korban meninggal dunia dapat dijelaskan kepada keluarga dan publik sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk temuan medis yang berkaitan dengan penyebab kematian.
Mereka juga meminta proses uji balistik terhadap dugaan penggunaan senjata dalam bentrokan dilakukan secara terbuka dan profesional. Menurut mereka, pemeriksaan tersebut penting untuk memberikan kejelasan mengenai senjata yang digunakan serta jenis peluru yang ditemukan apabila memang terdapat proyektil dalam tubuh korban.
“Harapan kami kepada Polres dan Polda agar masalah otopsi atas korban yang meninggal dan luka dibuka secara transparan. Begitu juga uji balistik atas penggunaan senjata dan jenis peluru yang digunakan,” kata Jamsir.
Simon menegaskan, rencana aksi tersebut akan dilakukan secara damai. Pihaknya mengimbau seluruh peserta nantinya menjaga ketertiban dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi. Mereka berharap penyampaian aspirasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penyelesaian kasus Setokok, melalui jalur hukum dan memberikan kepastian kepada keluarga korban serta masyarakat yang terdampak. (pur)