Ilustrasi Hotel

Keprisatu.com – Dipilihnya Batam sebagai salah satu pintu masuk untuk perjalanan lintas batas antara Indonesia-Singapura mulai 26 Oktober mendatang, menjadi satu peluang bagi dunia perhotelan. Dengan adanya kebijakan tersebut, PHRI diharuskan aktif untuk menangkap peluang tersebut demi meningkatkan perekonomian di bidang industri perhotelan.

Ketua PHRI Kota Batam, Muhammad Mansyur, mengatakan kebijakan Pemerintah Singapura yang membuka pintu masuk untuk perjalanan bisnis dari Indonesia dan dipilihnya Batam sebagai salah satu pintu masuk tersebut menjadi kesempatan bagi anggota PHRI setelah sekian lama terpuruk akibat pandemi Covid-19. Ia mengaku memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota untuk dapat aktif “menjemput bola” agar dapat menangkap pangsa pasar secara maksimal.

“Kita memberikan peluang yang sebersar-besarnya kepada angota kita, hotel-hotel untuk memaintance customer-customer melalui contact customer yang biasanya tinggal, tapi sudah lama tidak tinggal, bisa mneghubugi kembali. Pihak hotelnya yang harus aktif. Kalau tidak aktif, tidak aka mendapatkan peluang tersebut, karena banyak hotel di Batam. Misalnya, ada customer menginap di tempat saya, tapi selalu dihubungi terus sama pihak lain, ya bisa saja besoknya tidak datang lagi ke tempat saya. Itu sudah pasti,” kata Mansyur saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (17/10).

Mansyur menjelaskan, selama ini, pihak hotel selalu fokus pada bisnis perjalanan, di mana salah satu peluang adalah dari perjalanan bisnis. Hal itulah yang kembali akan dilakukan oleh pihak hotel-hotel dengan dibukanya kembali pintu masuk Singapura untuk perjalanan bisnis. Namun, Mansyur mengaku tidak dapat memastikan apakah hal tersebut nantinya mampu mendongkrak nilai ekonomi di bidang industri perhotelan di Batam.

“Sebenarnya juga selama ini concern kita ke bisnis traveler. Ini peluang yang ada saat ini, karena perusahaan kan tidak mungkin ditinggal karena perusahaan harus tetap survive. Terutama mereka-mereka (pebisnis) yang tidak bisa pulang, tidak bisa pulang ke negara asal, itu yang kita catching ke perusahaan asing, maupun yang ada di Batam dan daerah lain. Dengan adanya pintu masuk yang dibuka Singapura dan melalui Batam, sama halnya yang akan kita lakukan seperti itu. Apakah nantinya mendongkrak, ya kita lihat saja. Mudah-mudahan akan mendongkrak,” ujar Mansyur lagi.

Mansyur menjelaskan, untuk dapat memulihkan kembali geliat dunia perhotelan, dilakukan secara bertahap dan menjaga situasi pandemi di Batam terus membaik. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan SIngapura akan membatasi bahkan menutup kembali pintu masuknya jika ia melihat kondisi pandemi di Indonesia khususnya Batam semakin memburuk. Sehingga, semua pihak harus berpera serta untuk dapat membuat berkurangnya penyebaran Covid-19.

“Sekarang kita tidak melihat bahwasanya hanya hotel saja yang menerapkan protokol kesehatan, maunya daerah publish lainnya juga melakukan protokol kesehatan, dan diawasi penuh oleh pihak terkait. Karena karyawan hotel sendiri kan tidak tinggal di hotel, di perumahan-perumahan dan mereka berintreaksi dengan masyaraat lainnya, orang luar. Kalau kita tidak jaga secara baik, pandeminya tetap ada, tentu negara Singapura akan berpikir ulang. Itu sudah pasti,” kata Mansyur.

Pengawasan ketat terkait penerapan protokol kesehatan dirasa Mansyur sangat perlu dilakukan untuk dapat terus memberikan kepercayaan kepada negara tetangga agar tetap membuka pintu masuknya. Peran serta masyarakat dan juga media sangat mempengaruhi perekonomian di Batam.

“Masyarakat harus tetap menjalankan potokol kesehatan, dan media, bagaimana berita Covid-19 ini, mau benar atau tidak, tergantung persepsinya. Kalau mau diblow up, Covid-19 masih tinggi dan dibaca sama orang Singapura, mikir lagi dong dia (Pemerintah Singapura). Sama juga dengan daerah lain. Mungkin Singapura hanya melihat Batam. Tapi daerah lain kan tidak. Kan Indonesia bukan hanya Batam, daerah lain juga. Dan Batam kan juga berinnteraksi dengan masyarakat dari daerah lain juga, melalui bandara, kapal laut, kan berinteraksi. Untuk itu, semua pihak harus sama-sama menjaga,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Mansyur, kondisi perhotelan di Batam masih sangat menyedihkan meskipun new normal sudah diterapkan. Bahkan, ia menyebutkan masih ada 5 hotel yang memutuskan untuk mngehentikan operasional atau tutup sementara hingga saat ini. Selain itu, jumlah hunian hotel di Batam masih jauh di bawah rata-rata.

“Setelah new normal ini tetap masih menyedihkan. Kalau pun ada, ya da, tapi tidak signifikanlah perubahannya. Hotel-hotel juga masih memberlakukan giliran kerja. Ditambah lagi, semakin banyak hotel yang buka dalam kondisi seperti ini, artinya jumlah hunian semakin berkurang, sudah pasti. Misalnya, satu hotel punya 200 kamar, tapi yang terisi hanya 25 kamar, itu kan sama saja. Namun sejauh ini, komunikasi antara seluruh members PHRI tetap aktif. Apalagi di jaan digital seperti ini. Meskipun dari 70 lebih anggota yang ada, ada yang aktif dan tidak, tapi komunikasi tetap jalan. Karena kita tidak bisa memaksakan mereka juga untuk aktif dalam setiap kegiatan atau pertemuan yang kita gelar. Tapi komunikasi tetap terjaga,” ucapnya.(ks09)