Beranda Head Line Setelah Banjir Bandang, Uluran Tangan Hadir untuk Sibiobio Tapteng

Setelah Banjir Bandang, Uluran Tangan Hadir untuk Sibiobio Tapteng

Bantuan untuk warga Desa Sibiobio, Kabupaten Tapanuli Tengah

Keprisatu.com – Hawa panas akibat sengatan sinar matahari mulai terasa ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, Selasa (25/11/2025). Yeremi Talambanua, warga Desa Sibiobio, Kabupaten Tapanuli Tengah, bersama sejumlah warga lain tetap berangkat ke kebun durian yang sedang memasuki musim panen.

Pagi itu berjalan seperti hari biasa: langkah ringan, canda singkat, dan harapan membawa pulang hasil kebun. Langkah mereka mantap menyusuri jalur setapak menuju kebun. Di sepanjang perjalanan, derasnya arus sungai mengalir berisik, seperti musik alam yang sudah akrab di telinga warga.

Tak ada tanda bahaya. Suara air yang biasanya menenangkan justru menjadi latar yang menipu, menyembunyikan ancaman yang datang diam-diam dari hulu. Sekitar pukul 10.00 WIB, suasana asri itu mendadak berubah mencekam. Aliran sungai yang semula terdengar seperti lantunan alam tiba-tiba bergemuruh bak raungan.

Air bah datang tanpa ampun, membawa lumpur, kayu, dan bebatuan besar. Dalam hitungan menit, jalur yang dilalui warga berubah menjadi arus liar yang menelan apa saja di depannya.

Semua yang berada di jalur terjangan hanyut. Rumah Yeremi yang dikelilingi bebatuan sungai tak sanggup membendung kekuatan air. Bangunan itu rata dengan tanah, harta benda lenyap seketika. Yang tersisa hanya puing, lumpur, dan kesunyian panjang setelah amukan alam mereda.

Hari-hari setelah bencana terasa berat bagi warga Sibiobio. Mereka bertahan dengan pakaian seadanya, tidur berdesakan di rumah kerabat, dan mengandalkan bantuan darurat. Raut wajah lelah terlihat jelas, namun di sela-sela kesedihan, warga tetap saling menguatkan. Mereka tahu, hidup harus terus berjalan meski luka belum kering.

Harapan mulai terasa ketika bantuan dari Dermawan Laia tiba di desa itu. Paket sembako, pakaian layak pakai, dan kebutuhan pokok dibagikan langsung kepada warga terdampak. Tangis haru pecah di beberapa sudut kampung. Bagi warga Sibiobio, bantuan itu bukan sekadar materi, tetapi tanda bahwa mereka tidak sendirian menghadapi cobaan. Kehadiran tangan-tangan peduli menjadi energi baru untuk bangkit dan menata kembali kehidupan.

Yeremi yang berada di kebun saat kejadian hanya bisa terpaku dan tak mampu berbuat apa-apa. Dalam ingatannya, bencana tersebut juga merenggut korban jiwa. Sebanyak sembilan orang dinyatakan hilang, dua di antaranya ditemukan pada hari yang sama, sementara tujuh lainnya hingga kini belum ditemukan.

“Keluarga saya selamat. Anak ada empat, tapi setelah kejadian itu kami tidak bisa apa-apa. Harta benda dan alat-alat kerja hilang,” ucap Yeremi saat menyambut kedatangan relawan Tim Dermawan Laia untuk Sumatra di Desa Sibiobio, Rabu (20/1/2026).

Sejak peristiwa itu, Yeremi dan keluarganya terpaksa menumpang tinggal di rumah-rumah tetangga dan hanya bisa berharap pada bantuan relawan.

Namun, uluran tangan tak datang secepat yang dibayangkan. Akses jalan menuju desa terputus akibat rusaknya jembatan, terjangan banjir, serta longsor di sejumlah titik membuat Desa Sibiobio terisolasi.

“Di rumah-rumah tetangga juga kami kesulitan, karena ada yang satu rumah dua KK, ada juga yang tiga KK,” ujarnya
.
Dengan datangnya bantuan, Yeremi mengaku sangat terbantu.

“Dengan datangnya bantuan, ini sangat membantu meringankan beban kami, dan kami sangat berterima kasih kepada Tim Dermawan Laia yang sudah jauh-jauh datang ke desa kami dan mau berbagi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Tim Dermawan Laia, Filpan Fajar Dermawan Laia, menjelaskan pihaknya bersama tim yang berasal dari Batam membawa sebanyak 500 paket bantuan yang terdiri dari sembako, perangkat ibadah seperti Alquran dan Alkitab, kursi roda, obat-obatan, serta kebutuhan lainnya.

“Bantuan disalurkan ke Desa Sibiobio dan dua desa lainnya yang terdampak di Tapanuli Tengah,” ucapnya.

Fajar mengatakan, pihaknya memilih Desa Sibiobio karena berdasarkan laporan yang diterima, desa tersebut merupakan wilayah yang terisolasi pascabanjir.

“Menurut kami, Desa Sibiobio wajib kami salurkan bantuan karena berdasarkan laporan yang masuk, kondisi di sana cukup parah dan memprihatinkan. Jadi hati kami tergerak untuk datang ke sana,” ujarnya.

Meskipun akses jalan rusak dan penuh tantangan, tim relawan tetap melakukan perjalanan menuju Desa Sibiobio untuk melihat langsung kondisi warga terdampak.

“Kami bersyukur, meskipun membawa logistik penuh tantangan, kami tetap bisa membagikan bantuan di lokasi yang terisolasi ini,” katanya.

Ia menambahkan, ini bukan kali pertama dirinya menyalurkan bantuan. Sebelumnya, di Aceh, pihaknya juga pernah memberikan bantuan yang bersifat pribadi. Dalam kegiatan kali ini, Tim Dermawan Laia berkolaborasi dengan komunitas Rakyat Bantu Rakyat.

“Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut. Ini murni atas nama kemanusiaan, bukan karena hal lain,” tutupnya. (tjo)