
Keprisatu.com – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menargetkan peletakan batu pertama pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat dapat dilaksanakan pada awal Agustus 2026. Proyek strategis tersebut dipersiapkan sebagai tonggak pelestarian sejarah bahasa Melayu yang memiliki peran besar dalam lahirnya bahasa Indonesia.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menyampaikan bahwa seluruh persiapan pembangunan kini memasuki tahap akhir, termasuk proses review bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, groundbreaking akan dilakukan pada pekan pertama Agustus 2026.
Museum dan Monumen Bahasa Nasional itu akan dibangun dengan skema tahun jamak (multiyears) selama dua tahun dan ditargetkan selesai pada akhir 2027. Pemerintah berharap peresmiannya dapat dilakukan pada 2028, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Hari Sumpah Pemuda, sebagai simbol penghormatan terhadap kontribusi besar Pulau Penyengat dalam sejarah persatuan bangsa melalui bahasa Melayu.
Selanjutnya, Ansar mengatakan hasil perhitungan dan review awal bersama BPKP menjadi dasar penetapan jadwal pembangunan tersebut. “Insyaallah setelah review awal oleh BPKP selesai, minggu pertama Agustus 2026 kita mulai groundbreaking pembangunan museum dan monumen bahasa ini,” ujarnya.
Menurut Ansar, kehadiran museum dan monumen tersebut diharapkan menjadi simbol pengakuan nasional terhadap kontribusi besar Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya dalam perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi bahasa Indonesia.
Ia menambahkan, pembangunan akan dilaksanakan melalui skema multiyears selama dua tahun sehingga ditargetkan rampung pada penghujung 2027. Dengan demikian, peresmian dapat dilaksanakan pada 2028 bertepatan dengan peringatan satu abad Sumpah Pemuda.
“Insyaallah selesai pada akhir 2027 dan pada tahun 2028, bertepatan dengan 100 tahun Sumpah Pemuda, mudah-mudahan dapat diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia sebagai bukti sejarah bahwa pulau kecil ini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi persatuan dan kesatuan bangsa melalui bahasa Melayu,” katanya.
Ansar juga menegaskan bahwa kiprah Raja Ali Haji beserta warisan intelektual dan kebahasaan Melayu telah memperoleh pengakuan di tingkat internasional. Salah satu buktinya adalah keberadaan patung Raja Ali Haji di Magtymgyly Pyragy Park, Turkmenistan, bersama puluhan tokoh sastra dan pemikir dunia lainnya.
“Salah satu dari 24 tokoh sastrawan dunia yang dibuatkan patungnya di Turkmenistan adalah Raja Ali Haji. Ini menunjukkan bahwa tokoh kita telah diakui dunia,” ungkapnya.
Selain itu, ia menyebut nama Pulau Penyengat semakin dikenal oleh masyarakat internasional. Saat promosi pariwisata Bintan Resort di New York, Amerika Serikat, destinasi tersebut menjadi salah satu lokasi yang banyak ditanyakan oleh calon wisatawan maupun pelaku industri pariwisata.
“Karena itu kita harus terus mendorong agar Pulau Penyengat yang sebenarnya sudah mendunia ini menjadi semakin mendunia. Kita ingin warisan sejarah, budaya, dan bahasa yang lahir dari Pulau Penyengat semakin dikenal masyarakat nasional maupun internasional,” tutup Ansar. (tjl)



