Konferensi Pers pengungkapan penyelundupan sabu-sabu seberat 4 kilogram lebih.

Keprisatu.com – Jajaran Kepolisian Resor Karimun bekerjasama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai Khusus Kepri mengamankan dua pelaku penyelundupan sabu yang sebelumnya diinformasikan seberat 5 kilogram. Kedua pelaku yang mencoba menyelundupkan sabu dari Malaysia ini dijanjikan upah sebesar Rp30 juta.

Kedua pelaku berinisial Mk (40) dan Ah (40) telah ditetapakn sebagai tersangka. Sedangkan satu orang lainnya yang juga diamankan masih berstatus sebagai saksi. Dua tersangka itu diketahui menyeludupkan narkoba dengan modus serah terima di tengah laut dan kemudian membawanya ke daratan Kabupaten Karimun.

Kapolres Karimun, AKBP Muhammad Adenan, mengatakan barang bukti narkoba seberat 4,2 kilogram itu didapatkan pihaknya setelah melakukan pengembangan terhadap kasus penyeludupan tersebut. “Saat kita lakukan penangkapan terhadap para tersangka, barang bukti narkoba itu belum kita temukan. Kita hanya mendapatkan barang bukti berupa alat komunikasi yang berisikan transaksi tersebut,” kata Adenan dalam Press Rilis digelar di KPPBC TMP B Tanjungbalai Karimun, Jumat (20/11).

Adenan mengatakan, kedua pelaku mengaku melakukan hal tersebut karena tergiur upah yang dijanjikan sebesar Rp30 juta. Uang tersebut, akan dibayarkan setelah keduanya berhasil menyeludupkan narkobat tersebut.

“Belum sempat diedarkan. Tetapi dari keterangan pelaku, rencananya narkotika jenis sabu ini bakal diedarkan di Kabupaten Karimun,” katanya.

Sementara itu, Kepala KPPBC TMP B Tanjungbalai Karimun, Agung Marhaendra Putra, menjelaskan pengungkapan penyelundupan barang haram itu bermula dari informasi yang diterima oleh pihaknya pada Selasa 10 November 2020 lalu. Saat itu, pihaknya menerima informasi bahwa akan ada pemasukan Narkotika, Psikotropika dan Prekusor (NNP) asal negara Malaysia dengan modus serah terima di tengah laut.

Menindaklanjuti informasi tersebut, aparat gabungan yang terdiri dari KPPBC TMP B Karimun, Polres Karimun dan DJBC Khusus Kepri langsung membentuk dua tim untuk giat di laut dan darat. Tim juga memetakan kemungkinan tempat bersandarnya kapal yang membawa barang haram tersebut.

“Pukul 23.00 wib tim laut ditarik mundur ke pangkalan, karena ada dugaan tim laut sudah dibaca pergerakannya oleh pelacak kurir sabu,” kata Agung.

Sambungnya, tidak sampai di situ, pada pukul 00.00 wib tim darat mendapati bunyi kapal mencurigakan dari arah pantai pamak dan langsung bergerak ke lokasi. Setibanya di lokasi, aparat gabungan berhasil mengamankan salah seorang pelaku yaitu MK yang saat itu sedang berada di jalan darat arah Pantai Pamak.

Namun, ketika berada di lokasi/ aparat gabungan tak menemukan kapal tersebut karena diduga sudah bergerak ke tempat lain. Terhadap MK, langsung dilakukan pemeriksaan dan dari hasil itu aparat gabungan mengetahui lokasi keberadaan pelaku lainnya yaitu AH.

“Pelaku AH sempat mencoba melarikan diri, ketika berhasil diamankan petugas menemukan alat komunikasi yang digunakan oleh pelaku untuk berkomunikasi dengan pelaku lainnya,” ucap Agung.

Setelah itu, pada pukul 01.00 wib, aparat gabungan langsung melakukan penggeledahan di lokasi ditemukannya pelaku AH serta memeriksa alat komunikasi, mengumpulkan barang bukti dan memeriksa orang-orang terkait.

Sekitar pukul 08.00 wib setelah mendapatkan cukup keterangan, aparat gabungan melakukan rekonstruksi ulang di 3 titik di lokasi ditemukannya pelaku MK, AH dan tempat kapal yang ditinggal kandas. “Dari hasil penyisiran didapati 1 kantong plastik berisi 4 bungkus paket berisi serbuk putih diduga sabu seberat kurang lebih empat kilogram yang dibungkus menggunakan kemasan berlabel teh cina,” kata Agung.

Atas perbuatan tersebut, kedua pelaku dikenai pasal 112 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan pidana penjara paling lama dua puluh tahun. Mereka juga dikenakan pasal 102 huruf e UU RI No 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 17 Tahun 200, dengan ancaman pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan pidana denda paling banyak Rp5 miliar.(ks12)

Editor : Aini