Foto Dimas Ardian/ Bloomberg

Keprisatu.com – Dipengaruhi oleh perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, pergerakan nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat akhir pekan ini. Meski begitu, analis memperkirakan pekan depan rupiah akan cenderung mengalami pelemahan.

Mengutip Bloomberg, dalam sepekan nilai tukar rupiah tercatat menguat sebanyak 100 poin atau 0,68% dari Rp 14.710 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu(20/5/2020), menjadi Rp14.610 per dolar AS pada penutupan Jumat (29/5/2020).

Sementara itu, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau Jisdor, rupiah tercatat menguat dari Rp14.785 per dolar AS pada Rabu (20/5/2020) menjadi Rp14.733 per dolar AS pada Jumat (29/5/2020) atau sebanyak 0,35%.

Analis HFX International, Ady Phangestu mengatakan, penguatan nilai tukar rupiah sepekan terakhir dipengaruhi oleh tensi perdagangan yang kembali memanas antara AS dan China. “Sentimen ini masih akan berlanjut di pekan depan,” kata Ady seperti dilansir kontan, Jumat (29/5/2020).

Meskipun begitu, angka penguatan rupiah tidak terlalu signifikan seiring dengan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2020 yang sebesar 2,97% yoy atau terkontraksi 2,41% dibanding kuartal IV-2019.

Ady menekankan, level tersebut jadi kontraksi tercuram sejak kuartal terakhir 2009 dan di bawah konsensus pasar yang memperkirakan penurunan hanya 1,27%.

“Krisis Covid-19 berdampak besar pada perekonomian, dan aktivitas ekspor impor juga jatuh. Ditambah lagi konsumsi rumah tangga ikut negatif, diikuti penurunan belanja pemerintah dan lesunya investasi,” paparnya.

Dengan begitu, pekan depan rupiah diperkirakan cenderung mengalami pelemahan di kisaran Rp14.750 hingga Rp15.000 per dolar AS.

“Level psikologis di Rp15.000 per dolar AS, dan saya perkirakan masih bergerak di bawah kisaran itu, meskipun rupiah sepertinya belum akan terlalu menguat,” tegasnya.(*/ted)