Batam, Keprisatu.com – Kekuasaan selalu memiliki batas waktu. Ada saat ketika seseorang berada di tengah pusaran keputusan, menjadi tempat orang bertanya, menjadi rujukan berbagai kepentingan, sekaligus berada di bawah sorotan publik.
Namun, setiap kekuasaan pada akhirnya akan sampai pada titik ketika kursi harus ditinggalkan dan kewenangan berpindah kepada orang lain.
Yang kemudian menarik bukan lagi tentang seberapa tinggi seseorang pernah berada dalam struktur kekuasaan, melainkan apa yang terjadi setelah semua itu berakhir.
Ketika jabatan tidak lagi menjadi alasan orang datang, ketika keputusan tidak lagi berada di tangannya, dan ketika panggung politik mulai berganti wajah, di situlah perjalanan seorang tokoh memasuki babak yang berbeda.
Itulah dunia jabatan. Tetapi setiap jabatan memiliki batas waktu.
Ada masa ketika seseorang harus meninggalkan kursi yang pernah didudukinya. Papan nama diturunkan. Ruang kerja berganti penghuni. Agenda berubah.
Dan perhatian publik perlahan berpindah kepada tokoh berikutnya. Di titik itulah sesungguhnya perjalanan seorang tokoh diuji. Apa yang tersisa setelah jabatan berakhir?
Bagi Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM, Romo – pertanyaan itu menarik untuk direnungkan.
Sebab politik boleh memiliki masa. Tetapi pengabdian tidak selalu mempunyai tanggal kedaluwarsa. Jabatan adalah posisi, pengabdian adalah pilihan Jabatan memberikan seseorang kewenangan.
Tetapi jabatan tidak otomatis memberikan tempat di hati masyarakat.
Kewenangan dapat berakhir ketika masa tugas selesai. Namun hubungan sosial dapat terus hidup jika dibangun dengan kepercayaan.
Di sinilah perbedaan antara jabatan dan pengabdian.
Jabatan adalah amanah yang mempunyai batas waktu. Pengabdian adalah sikap yang dapat diteruskan kapan saja. Seorang pejabat bisa berhenti menjadi pejabat. Tetapi ia tidak harus berhenti menjadi warga yang peduli.
Seorang politisi bisa keluar dari struktur kekuasaan. Tetapi ia masih bisa berdiskusi dengan masyarakat. Seorang mantan pejabat bisa meninggalkan ruang birokrasi. Tetapi pengalamannya tetap dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Karena itu, mungkin ukuran perjalanan seorang tokoh tidak hanya dilihat ketika ia berada di dalam kekuasaan. Justru menarik melihat apa yang dilakukannya setelah tidak lagi berada di dalam kekuasaan.
Ketika telepon masih berdering Ada satu indikator sederhana yang kadang lebih jujur daripada jabatan.
Telepon….
Ketika seseorang masih dicari oleh masyarakat, tokoh organisasi, akademisi, pengusaha, komunitas, atau generasi muda untuk dimintai pendapat, berarti ada sesuatu yang lebih besar daripada jabatan.
Ada kepercayaan. Orang datang bukan untuk meminta tanda tangan. Bukan pula karena ada kewenangan formal. Tetapi karena ingin mendengar perspektif.
Dalam berbagai forum konsolidasi masyarakat, sosok seperti Romo dapat mengambil posisi yang berbeda. Bukan sebagai pejabat yang memberikan instruksi. Melainkan sebagai seseorang yang memberikan pandangan. Bukan sebagai pemegang keputusan.
Melainkan sebagai orang yang membantu orang lain melihat persoalan dari sudut yang lebih luas.
Dan terkadang, sebuah nasihat yang baik tidak perlu berakhir menjadi keputusan. Cukup membuat seseorang berpikir lebih jernih.
Politik boleh berhenti, silaturahmi jangan. Politik memiliki dinamika.
Hari ini seseorang berada dalam satu barisan. Besok mungkin berada dalam posisi berbeda.
Pilihan organisasi dapat berubah. Kepemimpinan dapat berganti. Konstelasi politik dapat bergerak. Itu semua bagian dari demokrasi.
Tetapi ada sesuatu yang seharusnya tidak ikut berubah hanya karena politik: silaturahmi.
Sebab jika setiap perbedaan politik harus berakhir dengan putusnya hubungan kemanusiaan, maka masyarakat akan kehabisan ruang untuk berbicara.
Demokrasi membutuhkan perbedaan. Tetapi bangsa membutuhkan persaudaraan. Di sinilah pengalaman seorang tokoh lintas komunitas menjadi penting.
Mampu berbicara dengan mereka yang berbeda pilihan. Mampu duduk dengan mereka yang berbeda latar belakang. Dan tetap menjaga hubungan ketika kepentingan politik sudah berubah.
Itulah salah satu bentuk kedewasaan dalam kehidupan publik. Dari pengambil keputusan menjadi pemberi perspektif. Ada perubahan peran yang menarik.
Ketika seseorang berada dalam jabatan, orang bertanya: “Apa keputusan Anda?” Ketika jabatan itu berakhir, pertanyaannya bisa berubah menjadi: “Bagaimana menurut Anda?”
Dua pertanyaan itu berbeda. Yang pertama membutuhkan kewenangan. Yang kedua membutuhkan pengalaman.
Dan pengalaman tidak hilang ketika jabatan selesai. Justru pengalaman dapat menjadi lebih bernilai ketika dibagikan tanpa beban kewenangan.
Di ruang itulah seorang akademisi dan praktisi seperti Romo mempunyai ruang pengabdian yang luas. Pengalaman hukum. Pengalaman pemerintahan. Pengalaman politik. Pengalaman organisasi. Dan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat.
Semua itu dapat menjadi modal intelektual untuk membantu masyarakat membaca persoalan publik. Mentor publik tanpa ruang kelas. Ada guru yang mengajar di ruang kelas.
Ada guru yang mengajar melalui buku. Tetapi ada pula guru yang mengajar melalui percakapan.
Secangkir kopi.
Diskusi kecil. Forum masyarakat. Percakapan setelah sebuah acara. Atau bahkan sebuah telepon singkat ketika seseorang sedang menghadapi persoalan.
Dari percakapan seperti itulah kadang lahir pemikiran yang lebih matang. Karena seorang mentor tidak selalu memberikan jawaban.
Terkadang ia justru mengajukan pertanyaan yang membuat orang lain menemukan jawabannya sendiri. Di sinilah pengalaman seorang tokoh dapat menjadi modal sosial.
Bukan untuk mendominasi. Tetapi untuk membimbing. Bukan untuk memerintah. Tetapi untuk memberikan perspektif.
Dari panggung menuju ruang masyarakat.
Panggung politik mempunyai mikrofon. Masyarakat mempunyai suara. Keduanya berbeda. Namun seorang tokoh yang sudah lama berada di ruang publik biasanya memahami bahwa suara masyarakat tidak selalu terdengar dari podium.
Kadang terdengar di warung kopi. Di rumah. Di lingkungan tempat tinggal. Di komunitas. Dalam pertemuan organisasi. Atau dalam percakapan kecil antartetangga. Karena itu, pengabdian setelah jabatan tidak harus selalu berupa pidato besar.
Kadang justru berupa kesediaan hadir.
Mendengar. Memberikan masukan. Menghubungkan satu pihak dengan pihak lainnya. Dan membantu orang lain menemukan jalan keluar. Yang tinggal bukan kursinya Kursi kekuasaan dapat berpindah. Tetapi pengalaman tidak ikut berpindah.
Gelar dapat diberikan.
Tetapi kepercayaan harus diperoleh. Jabatan dapat ditulis dalam biografi. Tetapi hubungan dengan masyarakat ditulis dalam ingatan.
Karena itu, ketika seseorang sudah melewati berbagai fase kehidupan publik, pertanyaan yang paling menarik
Bukan: “Jabatan apa lagi yang akan didudukinya?”
Melainkan: “Apa yang masih bisa diberikannya kepada masyarakat?” Pertanyaan kedua jauh lebih panjang umurnya.
Sebab masyarakat selalu membutuhkan pengalaman. Generasi muda membutuhkan mentor. Organisasi membutuhkan pemikiran. Komunitas membutuhkan jembatan.
Dan negara membutuhkan warga yang mau terus berkontribusi.
Pengabdian tanpa seragam jabatan Ada keindahan tertentu ketika seseorang dapat mengabdi tanpa harus mengenakan seragam jabatan.
Tidak perlu ruang kerja resmi. Tidak perlu staf. Tidak perlu kendaraan dinas. Tidak perlu protokoler. Cukup dengan pengalaman, pikiran, jaringan persaudaraan, dan kemauan untuk hadir. Di titik itu, pengabdian menjadi lebih personal.
Lebih manusiawi
Dan mungkin lebih tulus untuk dibaca. Karena seseorang tidak lagi bertanya: “Apa yang saya dapat dari posisi ini?” Tetapi: “Apa yang masih dapat saya berikan?”
Epilog: Setelah panggung selesai Setiap panggung pada akhirnya akan kosong.
Lampu dimatikan. Kursi dirapikan. Orang-orang pulang. Tetapi cerita seorang tokoh tidak selalu selesai bersama berakhirnya sebuah jabatan.
Ada kehidupan setelah panggung. Ada masyarakat yang masih membutuhkan pandangan. Ada generasi muda yang membutuhkan pengalaman. Ada komunitas yang membutuhkan jembatan.
Dan ada persaudaraan yang harus tetap dirawat.
Mungkin di situlah perjalanan Romo menjadi menarik. Bukan hanya ketika berada di panggung politik. Tetapi ketika ia tetap menjadi bagian dari percakapan masyarakat setelah panggung itu berganti.
Sebab pada akhirnya, politik adalah salah satu fase kehidupan. Sedangkan pengabdian dapat menjadi jalan hidup.
Dan mungkin ukuran paling sederhana dari seorang tokoh bukanlah berapa lama ia memegang kekuasaan. Melainkan berapa lama pikiran, pengalaman, dan kepeduliannya masih dibutuhkan oleh masyarakat.
Ketika politik berhenti, belum tentu pengabdian ikut berhenti.
Kadang justru pada saat itulah seseorang memasuki babak yang berbeda: tidak lagi memimpin karena jabatan, tetapi didengar karena pengalaman.
Tidak lagi hadir karena kewenangan, tetapi karena kepercayaan. Dan tidak lagi berdiri di atas panggung, melainkan duduk di tengah masyarakat—mendengar, berdiskusi, dan terus merawat persaudaraan.(*)
From the Desk of: Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM Dosen Pascasarjana-Universitas Ibnu Sina Ketua Yayasan Syafri Amanah/Sekolah Islam Nabillah (@syno.ord-2026)




