
Batam, Keprisatu.com – Bentrokan terjadi di kawasan Setokok, Jembatan Barelang, Kota Batam, Senin (14/9/2026) sore. Insiden yang diduga berkaitan dengan persoalan lahan tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.
Humas PT Sat Bangun Sukses, Guntur, mengatakan pihaknya tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB dengan membawa sekitar 100 orang. Menurutnya, kedatangan tersebut awalnya bertujuan untuk membongkar pagar yang berada di area lahan yang tengah dipersoalkan.
“Kami datang sekitar pukul 14.30 WIB, tujuan awalnya untuk membongkar pagar sesuai instruksi perusahaan,” kata Guntur.
Guntur menjelaskan, PT Sat Bangun Sukses mengklaim memiliki dasar penguasaan atas lahan seluas sekitar 10 hektare di kawasan tersebut. Ia menyebut lahan itu sebelumnya dibeli dari keluarga Awang Herman pada 2002 dan telah ditanami berbagai tanaman tumbuh.
Namun, menurut Guntur, lahan tersebut kemudian dialokasikan BP Batam kepada pihak pengusaha melalui PT MIG. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti sejarah pengalokasian lahan tersebut. Dari informasi yang diterima pihaknya, lahan tersebut merupakan bagian dari area seluas sekitar 77 hektare yang disebut dibeli dari Rita Gultom.
“Selama ini tidak ada ganti rugi kepada PT Sat Bangun Sukses. Kami juga sudah mengajukan pengalokasian lahan kepada BP Batam pada 2022, 2023 dan 2026, tetapi selalu disampaikan belum ada HPL,” ujarnya.
Dalam kedatangan ke lokasi pada Senin sore, pihak PT Sat Bangun Sukses tidak berniat untuk melakukan tindak kriminalitas apapun. Namun, setibanya di lokasi, mereka langsung diserang oleh sekelompok orang yang berjumlah lebih dari 200 orang lebih. Mereka memiliki senjata tajam lengkap dan senapan angin.
“Mereka sudah bawa senjata tajam seperti tombak dan juga senapan angin. Tidak ada pembicaraan apapun, karena kami langsung diserang,” kata Guntur lagi.
Menurut Guntur, situasi kemudian memanas ketika pihaknya tiba di lokasi. Ia mengklaim kelompok lain telah bersiap dengan senjata tajam, tombak dan senapan angin. Bahkan, ia memperkirakan terdapat lebih dari 200 tombak di lokasi tersebut. “Begitu sampai di lokasi, kami langsung diserang. Pihak sana dipimpin oleh Suherman,” katanya.
Bentrokan tersebut menyebabkan sejumlah orang menjadi korban. Dua orang dilaporkan meninggal dunia, yakni Martinus Mangge (55) dan Heribertus Goda (43). Sementara tujuh orang lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Mereka yakni Stenly, Rusli, Komarudin, Uda, Sebastian dan Robert, sementara satu korban luka lainnya masih dalam pendataan.
Diberitakan sebelumnya, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Nona Pricillia Ohei mengatakan, berdasarkan data sementara, terdapat sembilan korban dalam insiden tersebut. Dari jumlah itu, dua orang meninggal dunia akibat terkena tembakan, sedangkan tujuh korban lainnya mengalami luka dan menjalani perawatan.
“Dua korban yang meninggal dunia sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” ujar Nona saat memberikan keterangan terkait penanganan para korban.
Sementara itu, korban lainnya menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Tiga korban dirawat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, tiga korban lainnya mendapatkan perawatan di RS Awal Bros Batuaji, sedangkan satu korban menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah.
Di RSBK, puluhan warga yang merupakan keluarga dan kerabat korban terlihat berkumpul. Mereka meminta kepolisian segera menangkap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam bentrokan hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa tersebut.
Melihat situasi yang mulai memanas, Kombes Nona Pricillia Ohei turun langsung menemui keluarga korban. Dengan pendekatan persuasif, Nona meminta massa menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus kepada kepolisian. (pur)



