Didi Kempot sempat mengalami henti jantung sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Keprisatu.com –

Siapa sangka seniman legendaris Didi Kempot meninggal dunia begitu tiba-tiba karena penyakit jantung atau tepatnya setelah mengalami henti jantung. Sebab penyakit jantung adalah pembunuh diam-diam atau silent killer yang bisa merenggut nyawa siapa saja dan kapan saja sekalipun orang itu tak menyadari gejala sebelumnya.

Hal itu ditegaskan oleh Direktur Utama RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Iwan Dakota. Menurutnya karena tren penyakit jantung saat ini sudah bergeser ke usia muda, maka mulai usia 40-50an wajib deteksi dini kesehatan jantung.

“Saran saya trennya karena lebih muda saat ini, usia 40-50 misalnya seperti Didi Kempot 53 tahun ya, itu sudah harus skrinning kesehatan jantung. Treadmill lalu Medical Check Up (MCU). Wajib ikut pengobatan jika ada masalah. Mulai sejak dini lakukan kontrol,” katanya kepada JawaPos.com, Selasa (5/5).

Almarhum Didi Kempot memiliki kakak kedua yakni Sentot Suwarso yang meninggal karena komplikasi diabetes dan sakit jantung seperti yang diutarakan sahabatnya, komedian Polo. Sehingga ada faktor risiko pada Didi Kempot karena genetik atau keturunan keluarga.

“Apalagi sudah ada riwayat risiko dari keturunan keluarga, darah tinggi, kencing manis, kolesterol dan merokok, ini harus dijaga ketat dan pemeriksaan rutin,” kata dr. Iwan.

Dia menambahkan saat ini pasien penyakit jantung bukan lagi sakit yang diderita lansia tetapi bergeser ke usia lebih muda dan masih produktif seperti Didi Kempot. Dan orang dengan faktor genetik di mana keluarganya punya riwayat sakit jantung harus benar-benar waspada.

“Laki-laki jika keluaganya atau ayahnya sakit jantung juga, maka ada potensi 50 persen juga bisa terserang,” paparnya.

“Sehingga pesan saya sakit jantung saat ini bisa menyerang siapa saja. Mau orang miskin atau orang kaya apalagi orang faktor risiko,” tutupnya.

Sumber: Jawapos