Batam, Keprisatu.com – Ketua Umum KONI Kepulauan Riau, Usep RS, memberikan apresiasi terhadap langkah Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Kepri yang terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Diklat dan Penyegaran Pelatih Taekwondo Indonesia Kepri Tahun 2026.
Usep berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pembinaan atlet di seluruh kabupaten dan kota di Kepulauan Riau. Menurutnya, kualitas pelatih menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun prestasi olahraga.
“Pelatih ini merupakan bagian penting dari proses pembinaan atlet. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kualitas pelatih harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” kata Usep RS.

Ia juga memberikan semangat kepada seluruh pelatih yang mengikuti kegiatan tersebut agar ilmu yang diperoleh selama diklat dapat diterapkan di masing-masing dojang. Dengan semakin baiknya kualitas pelatih, Usep berharap akan semakin banyak atlet taekwondo Kepri yang mampu berprestasi di tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Usep menilai pembinaan taekwondo di Kepri memiliki potensi untuk terus berkembang. Karena itu, ia mendorong TI Kepri untuk menjaga konsistensi pembinaan sekaligus memperkuat regenerasi atlet dari usia dini.
“Semangat untuk seluruh pelatih. Terus belajar, terus meningkatkan kemampuan dan jangan berhenti melakukan evaluasi. Dari pelatih yang berkualitas kita berharap lahir atlet-atlet Kepri yang semakin berprestasi,” pesannya.
Diklat dan Penyegaran Pelatih Daerah Taekwondo Indonesia Kepulauan Riau Tahun 2026 berlangsung pada 25–27 September 2026 dan dipusatkan di Asrama Haji Batam. Kegiatan tersebut diikuti 41 pelatih dari enam kabupaten/kota se-Kepri, di luar Kabupaten Kepulauan Anambas.
Kegiatan dibuka langsung Ketua Pengprov TI Kepri, Kosasi Sumarli, SE. Diklat dan penyegaran tersebut menjadi bagian dari program pembinaan organisasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya para pelatih yang berada di daerah.
Mengusung tema “Membangun Pelatih Taekwondo Kepulauan Riau yang Berintegritas, Kompeten, dan Bertanggung Jawab untuk Mewujudkan Organisasi yang Solid serta Atlet Berprestasi”, kegiatan diarahkan untuk membangun kualitas pelatih yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami tanggung jawab dalam proses pembinaan atlet.
Kosasi Sumarli menegaskan peningkatan kapasitas pelatih merupakan program yang wajib dilaksanakan. Menurutnya, penyegaran pelatih setidaknya dilakukan minimal satu kali dalam setahun agar para pelatih terus mengikuti perkembangan olahraga taekwondo.
“Program ini adalah wajib. Minimal setahun sekali harus dilakukan penyegaran dan peningkatan kapasitas pelatih,” ujar Kosasi.
Ia menjelaskan, penyegaran tidak harus dibatasi hanya satu kali dalam setahun. Jika perkembangan dan kebutuhan organisasi memungkinkan, pelatihan bagi pelatih dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun, terutama ketika terdapat perkembangan penting dalam teknik, regulasi maupun sistem pertandingan.
Menurut Kosasi, salah satu alasan kegiatan tersebut perlu dilakukan secara rutin karena peraturan dalam pertandingan taekwondo terus mengalami perubahan. Perubahan tersebut harus dipahami para pelatih agar pengetahuan yang diberikan kepada atlet sesuai dengan ketentuan terbaru.
“Peraturan pertandingan itu selalu mengalami perubahan. Karena itu pelatih juga harus terus mengikuti perkembangan. Jangan sampai atlet kita dilatih dengan aturan atau pemahaman yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan pertandingan,” katanya.
Kosasi mengatakan Pengprov TI Kepri juga terus melakukan pengamatan terhadap perkembangan para pelatih di daerah. Pengurus memiliki tanggung jawab untuk melihat sejauh mana kapasitas dan kemampuan pelatih dalam menjalankan proses pembinaan atlet.
“Kami sebagai pengurus terus mengamati perkembangan setiap pelatih. Karena seorang pelatih menjadi salah satu penentu dan memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan atlet di daerahnya,” ujar Kosasi.
Menurutnya, kualitas seorang atlet tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelatih yang mendampingi proses latihan sehari-hari. Pelatih berhadapan langsung dengan atlet, menyusun program latihan, memberikan pemahaman teknik dan strategi, sekaligus mempersiapkan atlet menghadapi pertandingan.
Karena itu, Kosasi berharap para peserta tidak memandang diklat dan penyegaran tersebut hanya sebagai kegiatan formal organisasi. Pengetahuan dan materi yang diperoleh selama kegiatan harus dibawa pulang dan diterapkan dalam proses latihan di masing-masing daerah.
Sebanyak 41 peserta dari enam kabupaten/kota mengikuti kegiatan tersebut. Pengprov TI Kepri menilai pemerataan peningkatan kapasitas pelatih penting agar pembinaan taekwondo tidak hanya berkembang di satu daerah, tetapi tumbuh bersama di seluruh wilayah Kepulauan Riau.
Kosasi juga menegaskan kegiatan peningkatan kapasitas pelatih tidak akan selalu dipusatkan di Batam. Setelah pelaksanaan di Batam, program serupa direncanakan digelar secara bergilir di lima kabupaten/kota lainnya yang menjadi bagian dari enam daerah peserta kegiatan.
“Tidak harus terpusat di Batam. Kita akan bergilir. Kegiatan seperti ini nantinya juga dilaksanakan di kabupaten dan kota lainnya, sehingga pembinaan bisa lebih merata,” katanya.
Selama kegiatan, para peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan kepelatihan taekwondo. Selain pemahaman mengenai peraturan dan perkembangan regulasi pertandingan, peserta juga mendapatkan materi psikologi dan psikotes sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan pelatih dalam menjalankan tugas pembinaan.
Peserta juga mengikuti pre-test sebagai bagian dari proses evaluasi. Materi psikologi diberikan untuk memperluas pemahaman pelatih dalam menghadapi karakter atlet yang berbeda-beda, sehingga proses pembinaan tidak hanya bertumpu pada aspek teknik.
Kosasi menekankan bahwa semakin banyaknya dojang di Kepri harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelatih. Menurutnya, pertumbuhan jumlah tempat latihan harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu sumber daya manusia yang menangani atlet.
“Banyaknya dojang di Kepri harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelatih. Karena pada akhirnya kualitas pelatih akan berujung pada peningkatan kualitas atlet,” ujar Kosasi.
Ia juga mengingatkan bahwa pelatih harus mampu memahami karakter calon atlet sejak awal pembinaan. Pelatih tidak hanya dituntut mengajarkan teknik, tetapi juga harus mampu membangun ketertarikan anak terhadap taekwondo serta menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua.
“Pelatih harus tahu bagaimana membina dari awal, bagaimana menarik minat orang untuk bergabung di Taekwondo Indonesia, termasuk bagaimana meyakinkan dan menarik perhatian orang tua peserta,” katanya.
Menurut Kosasi, tuntutan terhadap pelatih pada setiap tingkatan juga berbeda. Pelatih yang menangani atlet daerah, provinsi, nasional hingga internasional membutuhkan pendekatan dan kemampuan yang berbeda sesuai dengan level atlet dan target prestasinya.
“Cara melatihnya tentu berbeda. Seorang pelatih harus memiliki kemampuan untuk melihat atlet ini akan dibawa sampai level mana. Dari calon atlet, atlet daerah, provinsi, nasional sampai internasional, semuanya membutuhkan pendekatan yang berbeda,” jelasnya.
Menutup rangkaian kegiatan, Kosasi berharap hasil diklat tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Para pelatih diharapkan membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk diterapkan di dojang masing-masing sehingga terjadi peningkatan kualitas pembinaan secara nyata dan berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan diklat dan penyegaran secara berkala serta bergilir, Pengprov TI Kepri berharap kualitas pelatih semakin meningkat, organisasi semakin solid, dan proses pembinaan atlet di seluruh daerah semakin terarah. Hal tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menyiapkan atlet-atlet taekwondo Kepri agar mampu bersaing dan mencatat prestasi pada berbagai level pertandingan. (tjl)




