ILUSTRASI – Keceriaan murid sekolah dasar sebelum masa covid-19. Kini sejak pertengahan Maret 2020, siswa belajar dari rumah. Belum ada kejelasan dari pemerintah kapan masa sekolah dimulai kembali

Keprisatu – Jika tidak ada perubahan rencana, seluruh peserta anak didik kembali belajar di sekolah seperti biasanya karena edaran siswa belajar di rumah secara daring akan berakhir 1 Juni 2020 mendatang.

Hanya saja, pihak Disdik Batam masih belum bisa mengatakan apakah pemerintah akan memperpanjang masa sekolah di rumah atau akan dilakukan dengan tatap muka langsung.

Hal itu masih menunggu keputusan Walikota Batam, HM Rudi.

Lantas, apa kata orangtua murid dengan kemungkinan anak sekolah di rumah saat kasus covid-19 masih belum berakhir di Batam?

Santi Siburian, warga Perumahan Hang Tuah mengatakan selama ini anak-anak sekolah sudah terlalu lama belajar online di rumah.

• CURHAT Ketua RT Selama Pencairan Bantuan Pemerintah, Ade Leida : Kena Teror Warga Sampai Mau Nangis

Hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh kepada siswa yang akan lulus dari SD, SMP maupun SMA.

Sebab, jika terus belajar di rumah, dikhawatirkan bulan kelulusan akan tertunda.

Hanya saja, di sisi lain kondisi pandemi corona di Batam masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir bahkan justru makin bertambah.

Sehingga, jika peserta yang belum mendekati kelulusan, menurutnya tak jadi masalah jika harus belajar di rumah hingga situasi pandemi ini mereda kembali.

Sehingga anak-anak tidak menjadi penyebar virus.

“Ya pastinya kita lebih nyaman ketika anak kita bersama kita. Selama pandemi masih merebak. Tapi bagaimana dengan PPDB? Trus kalau terus masyarakat dirumahkan perekonomian kita udah semakin hancur. Takutnya nanti kita susah dapat pangan dan lainnya. Tapi dengar-dengar pandemi ini tidak akan putus. Makanya udah ada rencana pemerintah istilahnya Berdamai dengan Covid-19. Katanya mulai 1 juni sudah akan beraktivitas lagi,” ujar Santi, Selasa (19/5/2020).

Sementara itu, orangtua siswa lain yang juga warga Perumahan Bida Asri, Ika Silaen mengaku melihat jumlah pasien positif bertambah setiap harinya, Ia belum setuju anak-anak kembali bersekolah seperti biasanya.

Pasalnya sekolah dan orangtua tidak bisa menjamin anak-anak bisa menjaga dirinya sendiri agar terhindar dari virus corona.

“Saya pribadi sebagai orang tua belum setuju anak-anak sekolah normal melihat situasi sekarang ini. Karena saya tidak bisa jamin anak saya akan bisa jaga diri mereka sendiri. Yang namanya anak-anak tetaplah anak-anak, bermain, bercanda, ketika bertemu dengan teman-teman mereka kita tidak tau apa aja yang dilakukan anak lain selama stay home,” paparnya.

Di tempat yang sama, Rejeki Nainggolan mengaku kalau situasi pasien positif Covid-19 masih bertambah, alangkah baiknya pemerintah bisa memperpanjang waktu untuk belajar di rumah.

Biarlah orangtua berkorban waktu dan tenaga untuk mengajari anaknya di rumah demi mencegah penyebaran virus covid-19 di Kota Batam.

“Kalau saya sih lihat situasi aja. Kalau memang makin banyak yang positif covid-19 jangan dulu lah sekolah biarlah awak capek ngajarin di rumah walaupun sudah lelah tapi demi kesehatan karena itu saya rasa yang paling utama,” kata Rejeki kepada TRIBUNBATAM.id.

Sama halnya dengan orangtua yang tinggal di Perumahan Cendana, Mery Manurung.

Merry saat ini berstatus orangtua sekaligus guru bagi siswanya.

Meski dia mengaku capek koreksi dan mengajar lewat online, namun karena situasi pandemi Covid-19 kian bertambah, dirinya rela berkorban.

“Jujur saya juga capek koreksi, ngajar lewat online tapi kalau situasi yang positif virus terus meningkat aku lebih memilih capek daripada banyak nanti yang jadi korban,” kata Mery.

Selanjutnya, Nancy Sitorus warga Perumahan Bida Asri mengatakan, dari segi orangtua mungkin memang kerepotan tapi demi kesehatan dan keselamatan anak-anak tak apa-apa.

Dengan kondisi yang belum kondusif seperti ini mungkin orang tua akan lebih memilih anaknya dirumah.

“Anak-anak itu belum bisa diatur untuk tetap pakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Namanya anak-anak ketemu teman-teman ya bermain bersama,” tuturnya.

Berbeda dengan orangtua lainnya yang cenderung keberatan anaknya kembali ke sekolah saat pandemi belum berakhir, Kristina Tobing, warga Perumahan Pulomas Batam Center justru setuju anak-anak kembali ke sekolah.

Menurutnya ia lebih setuju anak-anak kembali belajar di sekolah, karena orangtua sudah sangat terbeban selama mereka belajar di rumah.

“Menurut ku, setuju masuk sekolah. Karena orangtua sudah sangat terbeban selama sekolah di rumah. Selain orangtua memikirkan tugas rumah, kerjaan dan lainnya, mereka juga harus memikirkan tugas-tugas anaknya,” kata Kristina.

Ia menambahkan apalagi kalau anaknya sekolah lebih dari 3 dengan level yang berbeda. Orangtua pasti terbebani.

“Apalagi guru, selain mengajarkan murid dan melakukan tugas di rumah, mereka juga mengajarkan anak sendiri,” katanya.

Tunggu Keputusan Walikota Batam

Masa proses belajar dan mengajar secara daring yang dilakukan di rumah akibat pandemi covid-19 sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Dengan kebijakan itu, artinya semestinya siswa akan memulai aktivitas belajar mengajar secara normal dengan tatap muka di sekolah, Selasa (2/6/2020) mendatang.

“Surat edaran terakhir terkait dengan belajar dari rumah sesuai rencana tanggal 2 Juni 2020 masuk kembali,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan kepada TRIBUNBATAM.id, Selasa (19/5/2020).

Hanya saja, Hendri melanjutkan, apakah siswa sekolah akan belajar secara tatap muka atau lanjut sistem daring semuanya tergantung kondisi wabah covid-19 pada saat itu.

Jika masih mengkawatirkan Dinas Pendidikan Kota Batam akan mengusulkan kepada Wali Kota Batam, Muhammad Rudi untuk diperpanjang kembali.

“Keputusannya tentu atas kebijakan bapak Walikota Batam,” ujarnya.

• DERETAN Fakta Perwira Polisi Bintan Terlibat Kasus Penggelapan 83 Mobil di 3 Wilayah di Kepri

• Orange Sky Group Siap Hotelnya di Batam Jadi Lokasi Karantina Mandiri TKI dari Luar Negeri

Sementara itu, untuk proses belajar mengajar di rumah, tetap sama yakni menggunakan daring.

Yakni para guru tetap memberikan tugas kepada peserta didik melalui metode yang sudah disusun.

Sementara para guru dan tenaga didik lainnya tetap bekerja untuk meyelesaikan tugas yang ada.

“Kalau belajarnya tetap sama secara online. Anak-anak tetap diberi tugas dengan melalui WA grup atau cara lainnya. Untuk memastikan anak tetap belajar dan ketinggalan pelajaran,” ujar Hendri.

Pada prisipnya pihaknya menekankan orangtua untuk mengawasi pergerakkan anak untuk tetap berada di rumah.

Begitu juga tugas para guru memberikan imbauan.

“Sehingga, penularan virus ini bisa ditekan,” kata Ketua PGRI Kota Batam itu.

Sebelumnya, kebijakan belajar di rumah sudah diberlakukan terhitung 17 Maret hingga 31 Maret.

Namun, perpanjangan masa belajar di rumah kembali di tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Batam nomor 322/419.1/DISDIK/III/2020.

Surat tertanggal 26 Maret 2020 ini disebutkan dalam rangka mengantisipasi dan upaya preventif menjaga dan melindungi masyarakat Kota Batam.

Pemko Batam memperpanjang pemberlakuan kegiatan belajar di rumah mulai Selasa, 31 Maret sampai dengan Senin, 13 April 2020.

Surat ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SKB, PKBM negeri dan swasta.

Sumber:Tribunbatam