BERBAGI: Para pemuda Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, mengumpulkn takjil yang dakan dibagi-bagikan kepada warga. Di desa ini umat Islam, Kristen, dan Hindu hidup guyub berdampingan. (AUDINA HUTAMA PUTRI/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Keprisatu.com – Di tempat parkir itu, apa yang selama ini menjadi ciri khas Desa Balun terjalin: harmoni antar pemeluk agama. Di saat sedulur mereka yang muslim menjalankan salat Isya dan Tarawih di dalam masjid, para pemuda Kristen dan Hindu menjaga keamanan kendaraan.

”Itu inisiatif mereka sendiri, tanpa disuruh dan diperintah,” ujar Khusyairi, kepala Desa Balun, kepada Jawa Pos Radar Lamongan Rabu lalu (6/5)

Desa di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu memang dikenal sebagai ”Desa Pancasila”. Desa yang warganya memeluk berbagai agama, dengan tempat ibadah saling berdekatan dan warga lintas keyakinan yang selalu guyub serta terus menguri-uri (merawat) toleransi.

Tak terkecuali selama Ramadan yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini. Salat wajib dan Tarawih berjamaah memang masih dihelat di masjid setempat, Masjid Al Huda. Namun, dilakukan di bawah protokol kesehatan ketat: pakai masker, cuci tangan, dan jarak antarjamaah 1 meter.

Alhasil, jamaah meluber sampai ke beranda masjid. ”Karena ada physical distancing, masjid justru terasa penuh. Sehingga parkir kendaraan jamaah dialihkan di lapangan,” kata Suwito, ketua takmir Masjid Al Huda.

Nah, agar para jamaah bisa tenang beribadah, para pemuda Kristen dan Hindu pun turut menjaga keamanan parkir di lapangan dekat masjid itu. Harmoni antar pemeluk agama di Balun juga mewujud dalam bentuk gerakan donasi takjil. Gerakan tersebut dihelat sebagi pengganti tradisi buka bersama yang dalam Ramadan kali ini ditiadakan.

Seperti yang disaksikan Jawa Pos Radar Lamongan Rabu lalu, selepas Asar, sejumlah pemuda sudah berkumpul di pelataran Masjid Al Huda. Mereka menyiapkan kendaraan bak terbuka roda tiga yang akan digunakan untuk mengambil takjil berupa nasi bungkus maupun makanan ringan yang didonasikan oleh warga.

Setelah ratusan porsi makanan dan minuman kemasan terkumpul, mereka bergegas kembali ke masjid. Takjil donasi dari warga yang akan dibagikan ditata agar pembagian setelah salat Magrib berjamaah berjalan tertib.

Setiap sore, terkumpul 300 hingga 400 porsi takjil. ”Meskipun tidak diberi edaran untuk menyumbang nasi, ternyata warga dengan keinginan sendiri tetap menyumbang nasi bungkus atau snack untuk tadarus. Warga yang terdampak Covid-29 juga turut terbantu dengan donasi takjil ini,” tutur Khusyairi.

Per kepala keluarga (KK), kata Khusyairi, biasanya hanya diminta menyumbang lima bungkus nasi. Namun, pada praktiknya, warga kerap melebihkan jumlah nasi agar bisa dibagi merata. Dengan begitu, warga nonmuslim juga bisa merasakan takjil yang diberikan.

”Mungkin dalam beberapa hari ke depan kami (bagi-bagi takjil) gabung dengan pemuda Kristen,” ujar Adi, pemuka agama Hindu di Desa Balun.

Desa Balun terdiri atas dua pedukuhan: Dusun Balun dan Dusun Ngangkrik. Pemeluk Islam di Balun sebanyak 1.000 KK, Kristen 187 KK, dan Hindu 80 KK. Masjid, gereja, dan pura di Balun terletak berdekatan.

Contoh lain tenggang rasa, persembahyangan di Pura Sweta Mahasuci biasanya digelar pukul 19.00 setiap malam Kliwon. Tapi, di Ramadan ini oleh pengurus pura, ibadah sengaja dimajukan satu jam.

”Tujuannya, persembahyangan di pura tidak benturan dengan waktunya salat Isya yang dilanjut dengan salat Tarawih,’’ ucap Adi.

Menurut Khusyairi, saling menghormati seperti itu sudah mendarah daging di kalangan warga Balun. Termasuk saat perayaan hari besar agama masing-masing. Antarwarga dan antartetangga lintas keyakinan saling turut memberikan selamat dan saling memberikan ruang untuk merayakan.

”Peringatan keagamaan di sini, contohnya, pawai ogoh-ogoh dan takbir keliling, selalu menarik perhatian masyarakat dari daerah lain. Sayangnya, tahun ini pawai ogoh-ogoh dan takbir keliling sementara ditiadakan karena kami mematuhi imbauan dari pemerintah untuk mencegah adanya kerumunan massa,” kata Khusayri.

Sumber: jawapos