Tokoh Mandailing juga protes Kamus Sejarah Indonesia.
Kamus Sejarah Indonesia Kemendikbud

Keprisatu.com – Tokoh Mandailing juga protes Kemendikbud yang tak mengakomodasi tokoh-tokohnya dalam Kamus Sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh itu seperti Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Kemudian tak memasukkan SM Amin Nasution, mantan Gubernur Sumatera Utara dan Riau pertama.

“Kami dari masyarakat Mandailing memiliki tokoh-tokoh yang juga berperan penting dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia. Beberapa namanya belum masuk secara proporsional di dalam Kamus Sejarah tersebut,” kata Sejarawan Mandailing, Sumatera Utara, Imsar Muda Nasution, Rabu (28/4/2021)

Imsar menyebut tokoh Mandailing yang tidak masuk itu, pertama, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, yang merupakan eks Kepala Staf Angkatan Darat. Juga Wakil Panglima Tentara Keamanan Rakyat, hingga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.

Ia, lanjut Imsar, berjasa besar dalam perumusan perang gerilya di masa awal kemerdekaan RI. Kemudian penumpas pemberontakan PKI di Madiun 1948, Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), pemberontakan PRRI/Permesta, hingga penumpas Gerakan 30 September/PKI.

“Sebagai Ketua MPRS dia pernah melantik Presiden Suharto. Dia juga mempunyai peran dalam melarang ideologi Komunis di Indonesia. Itulah sebabnya kenapa rumah pribadinya jadi museum,” imbuhnya, sebagaimana laman CNN Indonesia melansirnya.

Tokoh kedua, lanjutnya, adalah SM Amin Nasution, yang merupakan tokoh Sumpah Pemuda 1928. Amin pernah menjadi Gubernur Sumatera Utara dan Riau. Kini SM Amin sudah menjadi Pahlawan Nasional.

Tokoh ketiga, Kolonel Zulkifli Lubis yang terkenal sebagai Bapak Intelijen karena peletak dasar berdirinya Badan Intelijen di Indonesia.

Imsar menyebut Zulkifli Lubis masuk ke pelatihan paramiliter Jepang Seinen Dojo di Yogyakarta selama enam bulan pada pertengahan kedua 1942 atau di usia 18 tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Pada 1943, ia terpilih menjadi salah satu taruna gemblengan Jepang di PETA (Pembela Tanah Air) karena potensi kepintaran. Selama di PETA, ia menjadi angkatan pertama yang lulus dari sekolah intelijen Jepang di Tangerang.

“Setelah itu, ia dikirim ke pusat intelijen Jepang di Asia Tenggara yang terletak di Singapura pada pertengahan 1944. Pada 7 Mei 1946, para perwira intelijen itu mendapat kartu pengenal dan resmi menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI). Zulkifli menjadi kepalanya dan langsung bertanggung jawab di bawah kendali Sukarno,” sebutnya.

Dinilai Menyesatkan

Sementara itu, Deklarator KMMPI (Koalisi Masyarakat Mandailing Peduli Identitas) Syahrir Nasution menyebutkan kamus sejarah itu menyesatkan apabila hendak menghilangkan jejak tokoh bangsa.

“Masih banyak tokoh asal Mandailing yang layak dimasukkan ke dalam buku tersebut,” ujar dia. “Kami menyampaikan agar Kemendikbud untuk meminta maaf, menarik segera buku tersebut dari peredaran dan merevisi buku tersebut sesuai porsi yang seadil-adilnya bagi para pejuang dan tokoh bangsa,” imbunya.

Sebelum tokoh Mandailing protes juga protes, kamus sejarah itu sudah lebih dulu menuai kritik lantaran tak mengakomodasi pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari. KemudianĀ  Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid. Hal ini menuai kritik keras PBNU.

Janji Mendikbud

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengaku Kamus Sejarah Indonesia itu belum sempurna. Nadiem juga mengatakan, kamus tersebut hasil kerja menteri era sebelumnya.

“Ada berbagai macam isu, bukan hanya dari pihak NU. Tapi kita sudah menemukan banyak ketidaklengkapan yang akan kita segerakan untuk merivisi kamus sejarah ini,” katanya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/4).

Ia berjanji dan memastikan kejadian seperti ini tak akan terulang lagi di masa kepemimpinannya. Ke depan ia akan melibatkan organisasi masyarakat dan sejarawan.

“Dan kami mohon maaf dengan segala ketidaknyamanannya. Ini pun isu yang mengagetkan kami di Kemendikbud. Tapi dengan seperti biasanya kami akan selalu bergerak cepat,” aku Nadiem. (ks04)

BACA JUGA BERITA LAIN:

Tujuh Kejanggalan Kamus Sejarah Indonesia Kemendikbud

Pesantren Tebuireng Minta Kemendikbud Tarik Naskah

Nadiem Temui Kiyai Said, Minta Maaf ke Warga NU