Keprisatu.com – Penetapan tiga remaja di Batam dalam kasus tindak pidana pornografi yang diyakini menyebarkan video porno melalui aplikasi Group WhatsApp, seolah membuat semua pihak terhenyak.

Apalagi kasus ini muncul secara tak terduga pasca pemeriksaan marathon jajaran Direktorat Reskrimum Polda Kepri terhadap seorang fotograper berinisial RS yang kedapatan telah berbuat tak senonoh terhadap setidaknya 10 orang remaja wanita di Batam.

Fakta mencengangkan lainnya, dari pengembangan kasus tersebut polisi menemukan adanya fakta dan barang bukti terkait pornografi dan pelanggaran kejahatan Undang-undang ITE.

Dirreskrimum Polda Kepri Kombes Pol Arie Dharmanto menyebut dari pengembangan kasus tersebut pihaknya mendapati adanya dugaan kejahatan lain yaitu adanya jaringan pornografi anak dibawah umur yang akhirnya menyeret tiga orang tersangka.

Mereka adalah dua orang anak dibawah umur yang merupakan admin group Whatsapp dan satu tersangka berinisial MP sebagai penyebar video dan foto pornografi.

Di dalam group Whatsapp tersebut didapati member sebanyak kurang lebih 51 member yang berada di dalam group yang bernama “PAP TT”.

Yang membuat trenyuh bahwa keberadaan group tersebut kurang lebih sudah terbentuk selama 2 tahun dan diduga membernya merupakan sebagaian besar anak-anak yang berada di Kota Batam dengan konten video dan foto porno sebanyak 141 konten.

Dengan group Whatsapp ini, para pelaku kemudian menyebarkan konten pornografi atau video porno melalui group whatsapp.

Bisa dibayangkan bagaimana kemudian video tersebut akhirnya diakses dan diketahui oleh orang lain hingga anak di bawah umur.

Leny Fitriana,  Komisionerr Bidang Pendidikan dan Pornografi KPPAD Kota Batam

“Banyak penyebab terjadinya kasus pornografi yang menyeret anak-anak di Batam, diantaranya karena kurangnya pengawasan orang tua dalam penggunaan smartphone oleh anak, ” ujar Leny Fitriana, Anggota Bidang Pendidikan dan Pornografi Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kota Batam, Selasa (2/2/2021).

Leny menyebut, akibat kurangnya pengawasan, sehingga anak kadang cenderung mempergunakan smartphone untuk hal negatif.

Leny berharap para orang tua lebih maksimal lagi melakukan pengawasan terhadap anak. “Di sisi lain pelarangan penggunaan smartphone bukanlah hal yang tepat karena di masa pandemi sekarang ini smartphone merupakan kebutuhan anak untuk mengikuti BDR,” jelas Leny.

Sebagai upaya pencegahan selain para orang tua, pihak sekolah dan pihak terkait lainya juga harus ikut berperan , dengan cara memberikan pemahaman penggunaan smartphone secara positif. (KS03)