KH Miftachul Akhyar. (Foto: Dok. NU)

Keprisatu.com – KH Miftachul Akhyar terpilih jadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Munas X MUI, Jumat (27/11/2020) di Jakarta. Kiai Miftah menggantikan Prof KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI yang lama.

Di kalangan NU, Kiai Miftah bukan nama baru. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren di Jawa Timur.

Mengutip laman resmi NU, Kiai Miftah sudah mengabdi di NU sejak usia muda. Tak mengherankan kemudian Kiai Miftah mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.

Kiai Miftah merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, Jawa Timur. Ia putra KH Abdul Ghoni, Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, KH Abdul Ghoni.

Kelahiran tahun 1953 dan anak kesembilan dari 13 bersaudara ini, pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013 dan 2013-2018, serta Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU.

Menurut PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, keilmuan Kiai Miftah tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Penguasaan ilmu agama Kiai Miftah membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Kiai Miftah kemudian mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya nilai religius di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian.

Konon, sebelumnya kampung Kedung Tarukan terkenal sebagai daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki, Kiai Miftah berhasil mengubah kesan negatif sehingga kampung menjadi terang dan sejuk dalam waktu yang relatif singkat.

Kiai Miftah punya kebiasaan yang sangat menghormati tamunya. Ia tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

Akhlak tersebut didapatkan dari dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni. Ayah Kiai Miftah merupakan karib KH M Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. Tepatlah kiranya pepatah yang mengatakan: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

KH Abd Ghoni sendiri dikenal sebagai salah salah satu kiai ampuh yang ditutupi keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan, dan mempersilakan kepada tamunya. (ks04)

editor: arham