Keprisatu.com – Singapura bakal menjual daging buatan, setelah perusahaan rintisan teknologi pangan Eat Just menerima izin di negeri jiran itu. Eat Just mengumumkan telah mengantongi persetujuan regulasi pertama di dunia oleh otoritas Singapura, Rabu (2/12/2020).

Dalam proses memulai membudidayakan, para ilmuwan akan menggunakan sel induk sapi, sel otot, dan organ lainnya.

Kemudian menempatkan sel-sel itu dalam cawan petri atau gelas laboratorium, lalu membubuhinya asam amino dan karbohidrat. Tujuannya supaya sel otot berkembang biak dan tumbuh lebih cepat.

Setelah serat otot tumbuh cukup banyak, hasilnya akan menyerupai daging olahan atau gilingan. Daging bakal lebih ramah lingkungan ketimbang memelihara hewan sebenarnya.

Pembudidayaan di laboratorium membutuhkan energi 45 persen lebih sedikit, 99 persen penggunaan lahan lebih sedikit, dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih sedikit 96 persen.

Sebagaimana CNN melansir dari laman pendidikan dan teknologi GCFLearnFree, daging buatan tersebut berpotensi mengurangi jumlah metana yang dihasilkan di peternakan konvensional. Peternakan bisa menghasilkan metana sekitar 100 juta ton setiap tahunnya.

Kemudian, tidak hanya sapi, ayam dan bebek juga tengah dalam proses budidaya laboratorium ini. Ilmuwan juga telah melakukan eksperimen dengan proses yang sama dari pertanian sel untuk menghasilkan susu, telur, dan kulit.

Daging Buatan Aman

Laman World Animal Protection pun memaparkan setidaknya ada banyak manfaat dari produksi buatan daging. Salah satunya, tidak ada lagi ‘kekejaman’ terhadap hewan, sebab dari 70 miliar hewan yang terbudidayakan setiap tahun di seluruh dunia, sekitar 50 miliar adalah peternakan pabrik.

Hasilnya, daging ini juga memiliki kadar lemak jenuh yang lebih sedikit, sehingga tidak menyebabkan banyak penyakit seperti kolesterol dan hipertensi.

Selain itu, konsumen tidak perlu takut terpapar zat kimia. Di mana banyak terdapat pada produksi peternakan konvensional yang menggunakan suntik hormon, guna menghasilkan hewan ternak yang maksimal pertumbuhannya.

Selain itu, daging ini juga dinilai lebih aman dan bersih untuk tujuan konsumsi. Pada peternakan konvensional, banyak bakteri jahat seperti salmonella dan E. coli hidup di usus hewan dan menyebar melalui kotorannya. Proses penyembelihan hewan dan penyiapan daging juga dapat mengakibatkan kontaminasi.

Dengan pengadaan daging buatan, para ilmuan berharap terjadinya penurunan angka kelaparan dan stunting di berbagai belahan dunia. (ks04)

editor: arham