Batam, Keprisatu.com – Ada orang yang pandai mengumpulkan orang. Ada yang pandai menggerakkan orang. Tetapi ada jenis manusia yang lebih langka: mereka yang mampu membuat orang-orang berbeda tetap merasa sebagai saudara.
Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kemampuan seperti itu bukan perkara sederhana. Ada perbedaan agama, etnis, profesi, organisasi, latar belakang sosial hingga pilihan politik. Semuanya merupakan kenyataan dalam kehidupan masyarakat.
Namun, perbedaan tidak selalu harus menjadi jarak. Justru di sanalah sosok Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, SH, MH, MM, yang akrab disapa Romo, menjadi menarik untuk dibaca.
Bukan hanya sebagai akademisi hukum, advokat maupun mantan pejabat pemerintahan, Romo juga dikenal berada di tengah banyak simpul masyarakat. Ia hadir dalam berbagai ruang perjumpaan, tempat orang-orang dengan latar belakang berbeda bertemu dan berkomunikasi.
Persaudaraan Tidak Lahir dari Keseragaman
Kita sering keliru memahami persaudaraan. Kita mengira persaudaraan berarti harus memiliki pandangan yang sama. Padahal, persaudaraan justru diuji ketika kita berbeda.
Ketika orang lain berbeda agama, berbeda suku, berbeda pilihan, berbeda kepentingan, bahkan berbeda pendapat dengan kita, di situlah kualitas persaudaraan sesungguhnya terlihat.
Mampukah kita tetap menyapa? Mampukah kita tetap duduk satu meja? Mampukah kita tetap saling menghormati?
Dan yang paling penting, mampukah kita tetap melihat manusia sebelum melihat perbedaannya?
Barangkali prinsip sederhana itulah yang membuat sosok seperti Romo dapat diterima di berbagai ruang masyarakat.
Satu Meja untuk Banyak Perbedaan
Masyarakat Batam adalah masyarakat yang unik. Kota ini dibangun oleh perjumpaan. Orang datang dari berbagai daerah dengan membawa bahasa, budaya, tradisi, keyakinan dan pengalaman masing-masing.
Batam kemudian tumbuh seperti miniatur Indonesia. Karena itu, menjaga hubungan antarkelompok bukan pekerjaan yang cukup dilakukan dengan slogan.
Diperlukan perjumpaan. Diperlukan komunikasi. Diperlukan tokoh yang mampu menjadi penghubung. Dan yang paling penting, diperlukan kemauan untuk mendengar.
Dalam berbagai forum masyarakat, sosok Romo kerap berada pada posisi yang menarik: menjadi tempat berdiskusi, bertukar pandangan dan mencari perspektif ketika persoalan membutuhkan jembatan komunikasi.
Di situlah seni merawat persaudaraan bekerja. Bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi memastikan perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Dari Komunitas ke Komunitas
Ada masyarakat yang nyaman berbicara dengan bahasa formal. Ada yang lebih nyaman dengan bahasa kekeluargaan. Ada yang membutuhkan argumentasi hukum. Ada pula yang sebenarnya hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Seorang tokoh yang ingin merawat persaudaraan harus mampu masuk ke berbagai ruang tersebut tanpa kehilangan dirinya. Itulah seni komunikasi sosial.
Bukan sekadar berbicara, tetapi mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus mendengar.
Romo memiliki pengalaman berada di banyak lingkungan. Dunia hukum, akademik, pemerintahan, politik, organisasi masyarakat, komunitas hingga ruang-ruang silaturahmi.
Pengalaman lintas lingkungan tersebut menciptakan jejaring sosial yang tidak berdiri pada satu kelompok saja. Karena itu, ketika berbagai kelompok bertemu, selalu terbuka kemungkinan untuk menemukan titik temu.
Persaudaraan Bukan Transaksi
Ada perbedaan penting antara hubungan sosial dan persaudaraan. Hubungan sosial dapat dibangun karena kepentingan. Tetapi persaudaraan bertahan karena penghormatan.
Jika hubungan hanya dibangun atas dasar kepentingan, ketika kepentingan selesai, hubungan pun bisa berakhir. Namun, jika hubungan dibangun atas dasar penghormatan, perbedaan kepentingan tidak otomatis menghapus hubungan kemanusiaan.
Tidak semua pertemuan harus menghasilkan kesepakatan. Tidak semua diskusi harus berakhir dengan keputusan yang sama.
Kadang, hasil terbaik dari sebuah pertemuan justru sangat sederhana: orang-orang yang berbeda tetap pulang sebagai sahabat.
Ketika Tokoh Menjadi Jembatan
Masyarakat membutuhkan tokoh. Tetapi lebih dari itu, masyarakat membutuhkan jembatan.
Jembatan antara generasi tua dan generasi muda. Jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Jembatan antara kelompok yang berbeda. Jembatan antara dunia akademik dan kehidupan nyata.
Di titik itulah peran seorang tokoh menjadi lebih luas daripada jabatan formalnya.
Sebab jabatan memberikan kewenangan. Tetapi hubungan memberikan kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak dapat diperoleh hanya melalui surat keputusan. Ia dibangun bertahun-tahun, melalui perjumpaan, komunikasi, konsistensi dan kemampuan menghargai manusia lain.
Umat Boleh Berbeda, Indonesia Tetap Satu
Dalam masyarakat yang religius sekaligus heterogen, merawat hubungan antarumat merupakan pekerjaan bersama.
Perbedaan keyakinan seharusnya tidak menjadi alasan untuk kehilangan rasa kemanusiaan. Justru karena berbeda, kita belajar menghormati. Karena berbeda, kita belajar memahami.
Indonesia memang tidak dibangun dari satu warna. Indonesia dibangun dari banyak warna yang hidup berdampingan.
Dalam konteks itulah sosok yang mampu mempertemukan berbagai komunitas mempunyai arti sosial yang penting. Bukan untuk menyeragamkan, melainkan memastikan setiap orang tetap memiliki tempat di dalam rumah besar bernama Indonesia.
Romo dan “Ruang Tengah”
Mungkin ada sebuah ruang yang sering terlupakan dalam kehidupan masyarakat: ruang tengah.
Bukan ruang milik satu kelompok. Bukan milik satu agama. Bukan milik satu organisasi. Bukan pula milik satu kepentingan politik.
Ruang tengah adalah tempat semua orang bisa duduk.
Di sana, seorang tokoh tidak harus menjadi orang paling keras suaranya. Ia cukup menjadi orang yang mampu mengatakan: silakan berbeda pendapat, silakan menyampaikan pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Mungkin itulah salah satu gambaran menarik tentang Romo. Ia dapat berada di antara berbagai kelompok tanpa harus menjadikan semua kelompok sama.
Ia dapat berdiskusi dengan banyak kalangan tanpa menghapus identitas masing-masing. Ia dapat menjadi tempat bertanya tanpa harus selalu menjadi orang yang memberikan keputusan.
Seni yang Sebenarnya Sederhana
Merawat persaudaraan sebenarnya bukan pekerjaan yang rumit. Mulailah dengan menyapa. Mau mendengar. Tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus hubungan. Dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri.
Namun, sederhana bukan berarti mudah.
Diperlukan kedewasaan. Diperlukan pengalaman. Dan diperlukan kesadaran bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Ada perbedaan yang cukup dipahami. Ada perbedaan yang cukup dihormati. Dan ada perbedaan yang justru membuat kita semakin kaya sebagai bangsa.
Epilog: Persaudaraan Adalah Warisan
Pada akhirnya, jabatan akan berganti. Organisasi mengalami regenerasi. Panggung politik berubah. Generasi pun berganti.
Tetapi persaudaraan dapat menjadi warisan.
Mungkin inilah salah satu makna terdalam dari perjalanan seorang Romo. Bukan sekadar berapa banyak orang yang pernah berada dalam satu forum dengannya, tetapi berapa banyak orang yang setelah bertemu dengannya tetap merasa, “Kami berbeda, tetapi kami saudara.”
Di tengah zaman ketika masyarakat mudah terbelah oleh perbedaan, kemampuan merawat persaudaraan menjadi semakin berharga.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki perbedaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Mungkin itulah seni yang selama ini dijalani Romo: merangkul tanpa menyeragamkan, mendengar tanpa menghakimi, berbeda tanpa bermusuhan, dan bersatu tanpa kehilangan identitas.
Karena pada akhirnya, persaudaraan bukan tentang siapa yang sama dengan kita. Persaudaraan adalah tentang bagaimana kita tetap menghormati mereka yang berbeda dengan kita.
Dan mungkin, di situlah seorang tokoh benar-benar meninggalkan jejaknya: bukan hanya dalam sejarah jabatan, tetapi dalam ingatan manusia yang pernah merasa diterima sebagai saudara. (*)
From the Desk of: Dr. H. Suyono, SE, MBA, MM Dosen Pascasarjana-Universitas Ibnu Sina Ketua Yayasan Syafri Amanah/Sekolah Islam Nabillah. (@syno.org-2026)




