ilustrasi corona virus (int)

Keprisatu.com – Sebanyak 109 Tenaga Kesehatan (Nakes) di rumahsakit dan pusat pelayanan masyarakat (puskesmas) di Kota Batam, terinfeksi Covid-19 per Minggu (6/9/2020).  Dilihat dari jenis pekerjaann, jumlah kumulatif ini merupakan jumlah terbanyak ketiga, setelah karyawan swasta (urutan pertama) dan ibu rumah tangga pada urutan kedua.

BACA JUGA : 429 Pasien Covid-19 Sembuh, PUSKESMAS  Dibuka Kembali

Terkait masih banyaknya nakes yang terpapar corona secara kumulatif tersebut , dr Didi mengungkapkan bahwa secara aturan protocol kesehatan, para nakes dalam menjalankan protokol kesehatan khusunyanya penggunaan alat pelindung diri (penggunaan APD), sudah sangat rapi dan rapat.

Pada nakes otomatis meningkat disiplinnya saat mereka berhadapan dengan pasien.  Namun, dari  sini persoalan muncul saat dari hasil tracing, ternyata “hanya sedikit” para nakes yang terpapar corona saat bersentuhan atau kontak dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Justru beberapa faktor utama kenapa mereka banyak terpapar,  kata dr Didi,  terjadi di luar hal tersebut.  “Cenderung mereka terpapar saat berada di kehidupan sosial di luar lingkungan kerja,” papar dr Didi.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam itu mencontohkan, kasus corona yang menjangkiti nakes yang bekerja sebagai  Tim Analis Laboratorium BTKL PP Dan Analis Laboratorium RSKI Covid-19 Galang.

Dari hasil penelusuran ternyata, dalam menggunakan APD, para nakes itu justru sangat tertib. Bahkan APD yang digunakan saat bekerja , tak kurang dari level 2 – 3.

Namun ternyata sang analis masih saja “kebobolan” karena tak kuasa terserang  virus Covid-19.  “Ternyata dia ( si analis) terpapar dari pasangan (suami atau istri) di luar jam kerja,” jelas dr Didi.

Lebih lanjut, pria yang saat ini bertanggungjawab sebagai Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam ini, menyebut faktor internal dari sang analis kesehatan yang banyak terpapar, yaitu pada saat mereka istirahat dan makan bersama.

“Saat mereka makan bersama di ruangan, disanalah lagi lagi mereka “kecolongan” ketika mereka makan dan harus membuka masker,” jelas dr Didi.  Phisical distancing yang kurang berjalan pada saat makan inilah, yang tidak terjaga dengan baik.

Dari kejadian seperti itu,  dr Didi mengeluarkan kebijakan melarang makan bersama dalam ruangan tertutup. “Makan masing masing saja,” ujar dr Didi .

Contoh lainnya  kasus nakes terjangkit di RSUD Embung Fatimah, terjadi sekaligus di beberapa poliklinik  secara serentak baik dokter maupun perawatnya.  Logikanya, pada saat para nakes ini  melayani pesien,  justru kewaspadaan dalam menggunakan APD meningkat saat berhadapan dengan  pasien positif Covid-19. “Namun ternyata mereka terpapar juga, namun tertular saat di lingkungan social,” jelas dr Didi.

Dia juga meminta kepada para nakes untuk mengedukasi keluarga dan pasangan masing masing (suami-istri-anak) , untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan dalam kehidupan social sehari hari seperti mendatangi keramaian (kondangan) dan lainnya.  (tedjo)