Tan Sun Hok, General Manager PT Citra Beton

Keprisatu.com – Manajemen PT. Citra Beton melayangkan surat Pencabutan dan Pembatalan Dukungan Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Taxiway dan Apron 04 Bandara Hang Nadim Batam,  kepada Ketua Badan Pengusahaan (BP) Batam tertanggal 21 Agustus 2020.

Pencabutan dan pembatalan ini, dilakukan  karena masalah komitmen kerjasama yang tidak berjalan baik.  Demikian disampaikan oleh General Manager PT Citra Beton, Tan Sun Hok saat konfrensi pers Selasa (8/9/2020)  di Sukajadi, Batam .

Pencabutan dukungan tersebut, menurut Tan Sun Hok,  terpaksa dilakukan sebab PT. Nindya Karya (Persero)  justru tidak memenuhi komitmen kerjasama dalam hal menggunakan ketersediaan bahan baku dari PT Citra Beton.

Penarikan dukungan itu, kata Tan Sun Hok, lantaran  pihak PT Citra Beton merasa kecewa terhadap pemenang lelang PT Nindya Karya (Persero), yang dituding ingkar janji terkait komitmen menjadikan Citra Beton sebagai pihak penyuplai ready mix.

Padahal  saat mekanisme lelang tender, PT Nindiya Karya menggunakan surat dukungan perusahaan miliknya.

Tan Sun Hok menjelaskan, semula perusahaannya semula dijanjikan oleh pihak Nindiya Karya sebagai penyuplai material pengerjaan apron dan taxi way Bandara Hang Nadim Batam senilai Rp 155 miliar.

Selama ini,  PT Citra Beton  adalah perusahaan pendukung dalam proses lelang proyek tersebut di LPSE Badan Pengusahaan Kawasan Batam.

“Kita perusahaan pendukung dari awal sampai akhir. Sejumlah berkas kita masukkan untuk melengkapi syarat lelang. Semua kita lengkapi, kalau tidak ada berkas kita tidak bisa lolos,” ujar Tan Sun Hok, General Manager PT Citra Beton.

Namun , setelah menang tender, Tan Sun Hok menyebut Nindya Karya ternyata mengingkari komitmen awal.  “Setelah kita bantu semua, ternyata kami ditinggal, malah mereka menggunakan perusahaan lain untuk mengerjakan ready mix,” ujar Sun Hok.

Menurut Sun Hok alasan Nindya Karya meninggalkan mereka karena ada penawaran dari pihak lain. Padahal daftar harga ready mix yang semula diberikan saat proses lelang telah disetujui. “Secara lisan juga pihak Nindya Karya juga tidak akan menunjuk pihak lain,” ujar Sun Hok.

Sun Hok mengatakan, dengan pelanggaran komitmen tersebut, Citra Beton mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah.  “Kami sudah mengeluarkan  dana Rp 3 miliar untuk membeli mesin, karena itu pengerjaan 24 jam, karena harus selesai akhir Desember mendatang, ” ujar Sun Hok. Nilai proyek yang akan mereka tangani mencapai Rp 70 miliar.

Namun dalam kenyataanya, pihak Nindya Karya justru telah menunjuk pihak lain,  untuk menyediakan ready mix.

“Kita diminta menurunkan harga dengan spesifikasi yang telah ditentukan, tapi kita tentu tidak sanggup karena harganya tidak masuk bahkan kami bisa rugi,” jelas Sun Hok.

Menurut Sun Hok, spesifikasi yang diberikan sudah sesuai aturan Kementerian Perhubungan.

“Batu yang disediakan abrasinya sudah sesuai Kementerian Perhubungan, sekitar 30 persen. Kita tak mau belakangan ada masalah setelah dicek kalau tidak sesuai spesifikasi,” ujar Tan Sun Hok.

Pembangunan perpanjangan landasan pacu atau taxi way dan apron untuk memperluas area bandara, ditargetkan memakan waktu 158 hari kalender, dan diharapkan rampung pada tanggal 31 Desember 2020.

Ukuran apron kargo yang akan dibangun adalah 500×150 meter dan akan menelan biaya Rp155 miliar, dengan menggunakan dana APBN Tahun Anggaran 2020. Proyek tersebut telah dimulai sejak akhir Juli 2020 lalu.

“Kami berharap, agar BP Batam bisa memanggil semua pihak yang terlibat didalamnya. Kami tak ingin kami bertangungjawab atas pekerjaan ready mix,” ujar Tan Sun Hok.

Alif Usman Amin, General Manager PT Nindya Karya belum bisa dikonfirmasi.      (ks03)