Fiki Satari, Stafsus Menteri Koperasi UKM bersama Gabriel Frans dan Co-Founder dan CEO Credibook (Pemenang I Pahlawan Digital UMKM 2020) dalam dialog produktif bertema Pahwalan Digital Pendukung UMKM di Jakarta, Rabu (11/11/2020).

Keprisatu.com – Potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia ternyata sangat besar. Terlebih untuk digitalisasi UMKM, potensinya akan mencapai Rp2.000 Triliun hingga tahun 2025.

Proyeksi Rp2.000 Triliun itu disusun oleh Google dan Temasek Holding Singapore. Sektor ekonomi digital Indonesia bahkan akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Gabriel Frans, Co-Founder dan CEO Credibook, melihat potensi UMKM Indonesia sangat besar sehingga menggugahnya untuk terlibat lebih jauh. Sementara, digitalisasi UMKM masih sedikit pelakunya.

“Kalau mau melihat contoh, wartel kini sudah digantikan ponsel, lalu surat telah berganti email. Pencatatan keuangan pasti akan tergantikan, ini hanya masalah momentum dan siapa yang mau melakukannya. Kita di Credibook, memutuskan tidak mau sekadar jadi penonton, tapi berpartisipasi untuk digitalisasi UMKM,” terang Gabriel Frans, Rabu (11/11/2020) saat dialog produktif bertema Pahlawan Digital Pendukung UMKM di Jakarta.

Credibook adalah salah satu inovator Pahlawan Digital UMKM, yang layanan digitalnya bergerak di bidang pencatatan keuangan.
”Credibook ini masuk melalui layanan pencatatan keuangan yang fokusnya pada penyelesaian masalah kasbon (hutang-piutang) yang kerap dirasakan pengusaha UMKM. Turunan produk ini bergerak ke arah pembayaran digital, terutama pada sisi pembayaran tagihan. Kita juga bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk membantu UMKM menambah pembiayaan modalnya,” terang Gabriel.

Melihat potensi yang besar, kata Gabriel, maka pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan hendaknya bersinergi mendorong potensi ekonomi ini untuk mencapai titik optimal.

”Sebagai anak muda, kita sering mengeluh di media sosial, termasuk saya juga. Tapi cobalah berpikir lebih jauh, bahwa keluhan itu sebenarnya perlu solusi. Banyak produk dan startup justru datang dari membaca peluang dari keluhan atau masalah tersebut,” kata Gabriel.

Berdasarkan data BPS per September 2020, kondisi yang dihadapi UMKM memang cukup menantang. “Bahwa 45 persen pelaku UKM hanya mampu bertahan selama 3 bulan dalam kondisi ekonomi di masa pandemi seperti ini. Data survei Asian Development Bank (ADB) terkait dampak pandemi terhadap UMKM di Indonesia, 88 persen usaha mikro kehabisan kas atau tabungan, dan lebih dari 60% usaha mikro kecil ini sudah mengurangi tenaga kerjanya. Oleh karena itu sangat penting bagi usaha mikro agar diintervensi dengan literasi keuangan,” ujar Fiki Satari, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM.

Kemenkop UKM sendiri memiliki strategi pengembangan digitalisasi UMKM dalam 4 tahap. Pertama adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia dengan mempersiapkan pelaku usaha UMKM agar kapasitasnya bisa meningkat. Kedua adalah mengintervensi perbaikan proses bisnisnya yang diturunkan ke dalam beberapa program. Ketiga adalah perluasan akses pasar yang salah satunya juga Kemenkop UKM bekerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) agar pelaku UMKM bisa menjadi vendor pengadaan barang dan jasa pemerintah. Keempat adalah mengglorifikasi pahlawan lokal pelaku UMKM.

”Pahlawan lokal pelaku UMKM ini syaratnya adalah, pemantik, pemberdaya, punya brand yang kuat, dan secara keseluruhan mampu mengagregasi usaha Mikro dan Kecil untuk berlabuh ke platform digital ataupun ke pasar internasional (ekspor) nantinya,” terang Fiki Satari.

Tantangan UMKM di Indonesia memang cukup beragam dan perlu untuk dicari solusi-solusi yang tepat, karena terkait dengan rasio kewirausahaan di Indonesia yang baru mencapai 3,5 persen.

Kondisi ini dianggap perlu untuk menciptakan kondisi kemudahan berusaha agar meningkatkan rasio tersebut. ”UMKM juga perlu langsung terhubung dengan rantai pasok industri, yang aksesnya kini baru mencapai angka 15 persen,” tambah Fiki Satari. (ks04)

editor: arham