
Batam, Keprisatu.com- PT PLN Batam menyampaikan kronologi gangguan, proses pemulihan, serta hasil evaluasi awal terkait pemadaman meluas sistem kelistrikan Batam–Bintan yang terjadi pada Senin (12/10). Penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, dalam konferensi pers di Kantor Korporat PLN Batam, Minggu (18/10).
Kwin Fo menjelaskan, konferensi pers digelar setelah seluruh tim PLN Batam memprioritaskan pemulihan sistem kelistrikan selama tiga hari sejak kejadian. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan listrik kepada masyarakat kembali normal. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan yang terdampak pemadaman.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan dan masyarakat. Sejak awal kejadian, seluruh tim PLN Batam bekerja siang dan malam dengan fokus utama memulihkan sistem kelistrikan Batam–Bintan,” ujar Kwin Fo.
Berdasarkan hasil penelusuran teknis, gangguan bermula dari flashover atau loncatan listrik pada transformator Gardu Induk (GI) Sei Harapan. Circuit Breaker (CB) yang seharusnya mengisolasi gangguan tidak membuka sebagaimana mestinya, sehingga gangguan merambat ke sistem transmisi utama bertegangan 150 kilovolt (kV).
Gangguan tersebut menyebabkan pembangkit di Tanjung Uncang dengan daya sekitar 220 megawatt (MW) terlepas dari sistem. Hilangnya pasokan daya dalam jumlah besar mengakibatkan pembangkit lainnya mengalami ketidakseimbangan beban dan turut terlepas. Kondisi tersebut kemudian memicu pemadaman meluas pada pukul 06.37 WIB.
Setelah gangguan terjadi, PLN Batam segera melakukan pemeriksaan, mengisolasi bagian sistem yang bermasalah, serta membangun kembali jaringan kelistrikan secara bertahap. Hingga Senin (12/10) pukul 22.00 WIB, sekitar 60 persen pelanggan di Batam telah kembali mendapatkan pasokan listrik.
Pemulihan terus berlanjut hingga Selasa (13/10) pukul 01.00 WIB, ketika hampir seluruh pelanggan di Batam kembali menikmati pasokan listrik. Meski demikian, pemulihan sejumlah unit pembangkit masih terus dilakukan untuk memastikan kestabilan sistem. Sementara itu, pasokan listrik ke Bintan berhasil dipulihkan sepenuhnya pada Rabu (14/10) pukul 18.30 WIB.
Kwin Fo menjelaskan, penyaluran daya dari Batam ke Bintan melalui kabel laut dilakukan secara bertahap setelah sistem Batam dinilai cukup stabil dan memiliki cadangan daya yang memadai. Menurutnya, langkah tersebut merupakan keputusan berdasarkan pertimbangan teknis demi mencegah terjadinya gangguan lanjutan.
“Pemulihan ke Bintan dilakukan murni berdasarkan pertimbangan teknis, bukan karena perbedaan prioritas pelayanan. Kami harus memastikan sistem Batam cukup stabil sebelum melakukan transfer daya agar tidak memicu gangguan meluas kembali,” jelasnya.
Dalam evaluasi awal, PLN Batam mengungkapkan empat temuan penting yang masih menjadi perhatian. Temuan tersebut meliputi dugaan hewan liar sebagai pemicu flashover yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, hasil pengujian peralatan proteksi yang menunjukkan fungsi normal, pagar pengaman bertegangan listrik yang tidak aktif saat kejadian, serta perubahan arah kamera pengawas atau CCTV.
Menurut hasil penelusuran, CCTV tersebut diketahui berubah arah pada Minggu (11/10) pukul 18.43 WIB sehingga tidak lagi mengarah ke transformator yang kemudian mengalami gangguan. Temuan-temuan ini menjadi bagian dari proses evaluasi untuk mengetahui secara menyeluruh faktor yang melatarbelakangi kejadian pemadaman.
PLN Batam menyatakan evaluasi turut melibatkan aparat kepolisian, termasuk Polda Kepulauan Riau dan Bareskrim Polri. Perusahaan menegaskan bahwa berbagai hal di luar aspek teknis diserahkan kepada pihak berwajib untuk didalami lebih lanjut sesuai kewenangannya.
“Untuk hal-hal di luar aspek teknis, kami menyerahkan proses pendalaman kepada pihak berwajib agar penyebab kejadian dapat diketahui secara menyeluruh,” tegas Kwin Fo.
Terkait hak pelanggan, PLN Batam memastikan bahwa pemberian kompensasi akan mengacu pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT Pelayanan Listrik Nasional Batam. Pemenuhan kompensasi akan didasarkan pada evaluasi indikator Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) serta mekanisme yang diatur dalam ketentuan tersebut.
PLN Batam juga menanggapi informasi yang mengaitkan pemadaman meluas dengan proyek pusat data atau data center baru di Batam. Kwin Fo menjelaskan bahwa proyek-proyek yang dimaksud masih dalam tahap pembangunan dan persiapan operasional, sehingga belum beroperasi secara komersial dengan kapasitas daya yang direncanakan.
Berdasarkan penelusuran teknis yang disampaikan perusahaan, gangguan bermula dari instalasi kelistrikan di GI Sei Harapan, bukan akibat aktivitas operasional proyek data center tersebut. PLN Batam menegaskan bahwa evaluasi akan terus dilakukan untuk memastikan penyebab gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan pendalaman yang berwenang.
Sebagai tindak lanjut, PLN Batam berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem proteksi, kesiapan pembangkit, serta keandalan jaringan transmisi dan distribusi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan perusahaan dalam menghadapi gangguan dan meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat maupun dunia usaha.
PLN Batam juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, BP Batam, aparat keamanan, seluruh pegawai, mitra kerja, serta masyarakat yang telah mendukung proses pemulihan. Kwin Fo menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius bagi perusahaan untuk memperbaiki kualitas pelayanan ke depan.
“Kejadian ini menjadi perhatian serius dan bahan evaluasi bagi kami. PLN Batam berkomitmen untuk terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat dan dunia usaha,” tutup Kwin Fo. (tjl)