Keprisatu.com – Sejumlah warga yang mengaku berasal dari Perkumpulan Keluarga Nusa Tenggara Timur (PK NTT), melakukan aksi protes di DPRD Kota Batam, Selasa (9/3/2021).  Mereka melancarkan protes kepada dua anggota DPRD Batam, Harmidi Umar Husen dan Muhammad Rudi yang berasal dari Partai Gerindra.

Aksi protes ini sempat memanas. Polisi dan massa saling dorong di depan kantor DPRD Kota Batam. Beruntung massa masih bisa terkendali dan tidak terjadi bentrokan.

Informasinya, massa yang berasal dari PK NTT protes karena  kedua anggota DPRD Batam diduga melakukan tindakan rasis. Hal inilah yang memicu kemarahan warga NTT.

“Saya akan menyampaikan aspirasi PK NTT,” kata Anggota DPRD Putra Respati saat menemui warga di depan kantor DPRD Kota Batam.

Kata Putra, apabila benar apa yang dikatakan oleh Harmidi Umar Husen dan Muhammad Rudi, bisa langsung lapor ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Batam.

“Silakan dan sampaikan laporan kawan-kawan ke BK, nanti akan diproses apabila memang diduga bersalah,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PK NTT Abdullah Yusuf mengatakan, mereka berani mengatakan adanya dugaan rasis yang dilontarkan oleh kedua anggota DPRD tersebut  karena dilengkapi dengan bukti yang ada.

“Kami ada videonya, mereka rasis terhadap suku kami,” kata Yusuf usai demo di kantor DPRD Kota Batam.

Yusuf menuturkan, sebelum melakukan aksi demonstrasi di kantor DPRD Batam, mereka sudah membuat laporan ke Polsek Batam Kota. Menurutnya, rasisme yang dilontarkan kedua anggota DPRD tersebut sudah mengarah ke ranah hukum.

“Kami minta ke pihak Kepolisian agar segera diusut tuntas. Kami minta diproses hukum,” ujarnya.

Sebelum adanya dugaan rasisme yang dilontarkan kedua anggota dewan itu, ada kegaduhan antara warga perumahan Cendana dengan pihak keamanan yang menjaga barang-barang pembangunan SUTT.

“Orang kami menjaga barang-barang pembangunan SUTT, tapi ada warga yang datang dan mencoba untuk merusak barang, tapi orang kami menjaganya dan terjadi dorong-mendorong dan ada warga terjatuh, mereka anggap itu pemukulan dan langsung melaporkan ke polisi. Itu kami anggap biasa saja, tapi yang kami tuntut ialah bahasa rasisme terhadap suku kami,” ucapnya.(ks10).

Editor: Tedjo