ULET: Pedagang Pasar Anom Baru Sumenep membuat ketupat dari daun janur. (AMINATUS SUHRA/RadarMadura.id)

SUMENEP ­– Tellasen Topa’ merupakan tradisi yang rutin digelar pada H+7 Hari Raya Idul Fitri oleh masyarakat Jawa sejak abad ke-15 Masehi. Karena identik dengan menu ketupat, juga disebut Hari Raya Ketupat. Beberapa tempat di Pulau Jawa dan Madura selalu menghidangkan ketupat sebagai pengganti nasi.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumenep Tadjul Arifien R. menuturkan, perayaan Tellasan Topa’ dilakukan sejak dahulu secara turun-temurun. Seiring perkembangan zaman, perayaannya dipusatkan di objek wisata seperti Pantai Lombang, Slopeng, dan tempat rekreasi lainnya.

”Hari Raya Ketupat mengandung unsur dakwah bagi umat Islam yang diprakarsai oleh salah satu anggota Wali Sanga bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang,” ucapnya.

Menurut dia, ketupat yang dibungkus dengan janur melambangkan jatining nur yakni hati yang putih bersih. Sebab, telah beribadah puasa dengan keikhlasan dan kesungguhan selama 30 hari pada bulan Ramadan.

”Ketupat juga diartikan sebagai laku sing papat atau amalan yang empat yang dianugerahkan kepada mereka yang berpuasa. Orang yang berpuasa kemudian melakukan laku sing papat (amalan yang empat) yakni membayar zakat fitrah, membaca takbir, salat Idul Fitri, dan bersilaturahmi,” imbuhnya.

Dijelaskan, para Wali Sanga sebagai pendakwah telah menerjemahkan pesan penting tentang ajaran-ajaran Islam. Termasuk puasa dengan bahasa dan budaya Jawa setelah menggali pesan asli berbahasa Arab yang semula disampaikan Rasulullah SAW.

”Kemudian, dibawa oleh Wali Sanga ke Madura yakni oleh Sunan Paddusan (keturunan Sunan Manyuran Mandalika, Red) dan Pageran Katandur (cucu Sunan Kudus, Red). Sampai sekarang, acara tersebut telah membudaya di Madura termasuk di Sumenep,” pungkasnya. (mi)

Sumber: jawapos