Makam korban pemukulan oleh temannya. Foto : KS09

Keprisatu.com – Kasus pemukulan hingga tewas yang melibatkan anak sebagai pelaku dan korban telah disidangkan di Pengadilan Negeri Batam. Pelaku yang berusia 16 tahun dituntut dengan hukuman penjara selama satu tahun dan enam bulan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), pada sidang yang digelar Senin (28/9) siang.

“Tuntutan sudah kami bacakan di hadapan majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Egi Novita. Kami menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama satu tahun dan enam bulan,” kata Herlambang.

Tuntutan tersebut dirasa sangat berat oleh terdakwa. Melalui Fadlan, Penasehat Hukumnya, terdakwa menyampaikan pembelaan usai pembacan tuntutan tersebut. Menurut Fadlan, pemukulan yang dilakukan terdakwa kepada korban yang berujung kepada kematian itu bukanlah suatu perbuatan yang direncanakan atau disengaja. Terdakwa melakukan pemukulan tersebut dikarenakan berada di suatu tempat tertentu yang secara kebetulan juga ada korban di sana.

“Terdakwa dan korban berada di tempat yang tidak tepat pada saat itu. Itu juga bukan dilakukan dengan sengaja, artinya ada dasar dendam. Jadi memang, kenakalan anak-anaklah, walaupun akhirnya menyebabkan hilangnya nyawa orang lain,” kata Fadlan.

Fadlan mengatakan, terdakwa sangat sedih dan kecewa dengan tuntutan tersebut. Menurutnya, kliennya yang memiliki tubuh tambun itu masih ingin melanjutkan sekolah dan cita-citanya ingin menjadi aparat penegak hukum yakni polisi, ia urungkan karena ingin menjadi penceramah atau guru agama, untuk memberikan edukasi kepada anak-anak lain agar hal yang menimpanya tidak terjadi pada anak-anak lain.

“Kesehariannya juga saya tanyakan di masyarakat, ibadahnya juga produktiflah untuk sehari-hari. Selama ini dia juga tidak pernah usil di lingkungannya. Mungkin ini karena sudah lama diolok-olok, dikata-katain, tapi bukan berarti disengaja. Dia melakukannya dengan spontanitas karena berada dalam satu tempat tertentu,” kata Fadlan.

Hingga saat ini, lanjut Fadlan, terdakwa merasa sangat bersalah dan menyesal. Bahkan saat diamankan Dinas Sosial beberapa waktu lalu, terdakwa selalu menanyakan kondisi korban kepada orang tuanya, karena saat itu terdakwa tidak tahu bahwa korban telah meninggal dunia. Terdakwa baru mengetahui perihal kematian korban saat pelimpahan tahap II.

“Tahunya saat tahap II dan dia makin terpukul setelah tahu korban meninggal dunia,” kata Fadlan.

Saat ini, Fadlan berharap agar kliennya mendapatkan hukuman yang seringan-ringannya. “Harapan saya sebagai penasehat hukumnya, majelis hakim bisa memberikan hukuman yang seadil-adilnya, sesuai fakta persidangan. Dan anak (pelaku) ini masih ingin sekolah, bahkan ingin jadi guru agama. Apalagi selama ini anak ini tidak bandel,” kata Fadlan.

Sebelumnya, diketahui bahwa terdakwa yang merupakan seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun memukul temannya yang masih berusia 15 tahun, setelah pelaku dibully korban dengan sebutan gajah. Pemukulan tersebut menyebabkan korban kehilangan kesadaran hingga meninggal dunia.

Kejadian pemukulan ini terjadi pada 8 Agustus 2020 petang, saat korban hendak menjalankan salat Magrib di salah satu mushola tak jauh dari rumahnya yang berada di Kecamatan Batu Ampar. Korban yang bertemu dengan pelaku sempat cekcok setelah sehari sebelumnya korban membully pelaku dengan sebutan gajah.

Bullyan itu dilontarkan korban karena badan pelaku yang sangat besar, dengan berat lebih dari 100 kg. Tak senang dengan bullyan tersebut, pelaku yang kembali bertemu dengan korban melayangkan satu pukulan ke arah pipi korban. Korban yang akhirnya muntah-muntah dan dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya. Setelah koma beberapa hari dan dirawat di ruangan ICU, korban akhirnya meninggal dunia.(ks09)