Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum ) Kejaksaan Negeri Batam, Novriadi Andra. Foto : KS09

Keprisatu.com – Ni Ketut Yuni Kusumawardani, oknum karyawan PT Tomoe Valve Batam terjerat kasus hukum dan segera menjalani proses persidangan. Ia diduga telah menggelapkan uang perusahaan hingga mencapai Rp1 miliar lebih dengan modus memalsukan data payroll para pegawai.

Kasus penggelapan ini berawal dari terdakwa yang diangkat sebagai karyawan PT Tomoe Valve Batam pada 26 Oktober 2013 silam. Yuni dipercaya menjabat sebagai tenaga payroll officer.

Menduduki jabatan tersebut, Yuni memiliki tugas-tugas di antaranya menginput gaji karyawan setiap bulannya dan data gaji karyawan tersebut diajukan ke direktur untuk ditandatangani, membuat cek sesuai dengan jumlah pembayaran gaji karyawan setiap bulannya untuk ditandatangani direktur, melakukan pembayaran iuran jamsostek karyawan, BPJS kesehatan, pajak pasal 21, pajak pasal 25, menyerahkan cek kepada bank untuk dilakukan pembayaran gaji karyawan setiap bulannya dengan melampirkan soft copy list daftar pembayaran gaji karyawan, dan membayar pajak sewa gedung, sewa sunplayer, serta pajak royalty. Ia pun menerima gaji sebesar Rp4.463.125 setiap bulannya dari PT Tomoe Valve Batam.

Setelah bekerja selama lebih kurang 2 tahun, Yuni mulai beraksi. Ia menggelapkan uang perusahaan, dengan cara memalsukan data payroll karyawan yang akan diajukan ke direktur. Dalam melakukan aksinya, Yuni membuat dua list gaji karyawan yang berbeda, di mana salah satu list tersebut dibuat dengan nilai jumlah gaji yang berbeda dari aslinya. List tersebut kemudian diajukan kepada direktur untuk ditandatangani.

“Ada selisih gaji yang dimasukkan terdakwa pada list itu. Nantinya, list itulah yang dibawa ke bank, untuk mencairkan dana gaji. Dan pada saat itu, selisih gaji itu masuk ke rekening terdakwa. Ini berlangsung setiap bulan, saat pembayaran gaji,” kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Novriadi Andra, Rabu (30/9) sore.

Dari hasil pemeriksaan penyidik, diketahui bahwa perbuatan tersebut telah dilakukan Yuni sejak Desember 2015 hingga April 2020. Setiap bulannya, Yuni memperoleh nilai selisih yang cukup besar, yang masuk ke rekeningnya. Hingga akhirnya, diketahui bahwa PT Tomoe Valve Batam telah mengalami kerugian mencapai Rp1.097.167.159.

Hingga saat ini, Kejari Batam telah melimpahkan kasus tersebut ke Pengadilan Negeri Batam untuk segera disidangkan. “Dalam waktu dekat akan disidangkan. Jaksa Penuntut Umumnya yakni Karya So Immanuel Gort. Terdakwa dikenakan pasal 372 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 4 tahun,” kata Novriadi.(ks09)