Beranda Nasional Pakar Sebut Covid-19 Kian Tak Terdeteksi, Lebih Baik Waspada

Pakar Sebut Covid-19 Kian Tak Terdeteksi, Lebih Baik Waspada

Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini,
Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini,

Keprisatu.com – Indonesia telah mencatatkan kasus Covid-19 tembus 500.000. Update per 24 November 2020 mencapai 506.302 kasus. Pakar kini mengingatkan penyakit ini semakin tidak terdeksi dan lebih baik tingkatkan waspada.

Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini menyatakan jika menggunakan hitungan model matematikanya, angka positif virus corona di negeri ini sudah jutaan.

Pun, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sudah memberi pernyataan kemungkinan libur akhir tahun dikurangi sebagai bagian dari upaya menekan penyebaran virus yang makin kencang.

Sekolah tatap muka yang rencananya dibuka Januari 2021 disebut sebagai rencana yang tidak realistis, karena tingkat penularan Covid-19 di atas 10 persen.

Nuning lalu menyebut angka reproduksi virus corona di seluruh provinsi di Indonesia saat ini berada di atas angka satu.

Meningkatnya angka ini efek libur panjang pada 28 Oktober hingga 1 November lalu, di mana masyarakat tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Angka reproduksi adalah suatu cara dalam memberi peringkat pada kemampuan penyebaran sebuah penyakit. Jika angka reproduksi lebih tinggi dari satu, maka jumlah kasus meningkat secara signifikan.

“Jadi update pada 21-22 November, hampir seluruh Indonesia angkanya di atas satu. DKI Jakarta per 22 November angka reproduksi hariannya mencapai dua. Ini cukup tinggi, karena biasanya hanya sekitar satu,” ujar Nuning, Senin (23/11), saat diwawancarai BBC Indonesia.

Merujuk pada angka reproduksi yang tinggi itu pula, Nuning menegaskan penularan virus corona sudah semakin menyebar dan tidak terdeteksi.

Ia mencontohkan India dan Amerika Serikat yang jumlah warganya hampir menyamai Indonesia, namun melakukan pengetesan secara masif dan cepat. Sementara Indonesia, katanya, pengetasan Covid-19 terbatas dan spesimen yang diperiksa tidak mencerminkan persentase penduduk secara murni.

Menurut WHO, pemeriksaan spesimen yang ideal adalah 1 per 1000 penduduk per pekan. Dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta lebih seharusnya memeriksa 267.700 orang setiap pekan.

Pada Senin (23/11), angka pemeriksaan spesimen Covid-19 ada 40.000 lebih. Dari situ ditemukan 4.442 kasus baru corona.
Itu sebabnya, lanjut Nuning, pemerintah dan masyarakat harus tetap waspada pada penularan Covid-19. Sebab pengendalian yang selama ini dilakukan dinilai belum baik.

Pengamatannya, kebijakan pelonggaran yang dilakukan pemerintah dengan membuka ruang bagi masyarakat melakukan perjalanan ke luar kota atau luar pulau, justru meningkatkan angka infeksi. Sementara saat ini, penegakkan protokol kesehatan belum ketat.

“Menurut saya, lebih baik kita waspada. Harapannya kan bisa mengendalikan dengan semua elemen masyarakat berpartisipasi untuk mencegah,” ujarnya. (bbc indonesia/ks04)

editor: arham