Ilustrasi pengeboran minyak

Keprisatu.com – Cadangan minyak bumi Indonesia hanya bisa bertahan hingga 9,5 tahun mendatang atau sebanyak 4,17 miliar barel cadangan terbukti.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan jumlah cadangan tersebut diasumsikan tanpa penemuan sumur baru dengan tingkat produktivitas 700 ribu barel oil per day (bopd).

“Upaya pemerintah dalam menjaga umur cadangan migas adalah dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi,” ujar dia.

Sementara cadangan gas bumi Indonesia masih bisa bertahan 19,9 tahun mendatang, mencapai 62,4 triliun kaki kubik (cubic feet) dengan cadangan terbukti 43,6 triliun kaki kubik (cubic feet).

Menurut Menteri Arifin tahun lalu pemerintah berhasil melakukan survei seismik 2D sepanjang 28.349,83 km, survei seismik 3D sepanjang 1.250,97 km, pemboran eksplorasi 22 sumur hingga 8 persetujuan pengalihan Partisipasi Interes (PI) pada masa eksplorasi.

Tahun ini, pemerintah menargetkan lifting (produksi siap jual) migas sebesar 1.712 Million Barrel Oil Per Day (MBOPD), dengan rincian minyak bumi sebesar 705 MBOPD dan lifting gas bumi sebesar 1.007 MBOPD.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan pemerintah melakukan beberapa langkah meningkatkan investasi industri migas pada masa pandemi Covid-19.

Untuk industri hulu migas, langkah yang ditempuh adalah menerapkan fleksibilitas kontrak, baik Production Sharing Contract (PSC) Gross Split atau PSC Cost Recovery.

Pemerintah juga mempromosikan potensi 128 cekungan di Indonesia, 68 cekungan di antaranya belum dikembangkan.

Selain itu membuka akses data (open data) hulu migas untuk investor dengan sistem keanggotaan hingga memberikan skema usulan insentif untuk pengembangan daerah remote dan laut dalam.

Untuk mengejar target investasi hilir, pemerintah tengah menjalin kerja sama dengan badan usaha untuk membangun kilang minyak baru (Gross Root Refinery atau GRR) dan pengembangan kapasitas kilang (Refinery Development Master Plan atau RDMP).

Pemerintah juga komitmen dalam menyederhanakan perizinan hilir, menciptakan harga gas bumi yang terjangkau dan mendorong promosi pembangunan infrastruktur migas yang terintegrasi.

Selain itu juga mendukung keputusan pemerintah terkait perubahan bahan bakar diesel ke bahan bakar gas.

“Pemerintah akan mematok target investasi dari subsektor migas sebesar USD17,59 miliar atau meningkat 45 persen dari tahun lalu,” ujar Tutuka.

“Subsektor migas masih menjadi unggulan, tahun lalu berhasil mendatangkan investasi sebesar USD12,09 miliar dari target sebesar USD13,36 miliar,” tambah dia. (KS03*)

Editor : Joko

Sumber : Republika