Beranda Tanjungpinang Menolak Lupa: Tragedi Samsat Jadi Tonggak Perjuangan Berdirinya Provinsi Kepri

Menolak Lupa: Tragedi Samsat Jadi Tonggak Perjuangan Berdirinya Provinsi Kepri

Peringatan 24 tahun Tragedi Samsat tahun ini digelar secara sederhana di ruang pertemuan Kantor UPT Samsat Provinsi Kepri di Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang.

Keprisatu.com – Tragedi Samsat yang terjadi sekitar 24 tahun lalu kembali diperingati oleh para pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau bersama generasi muda di Kota Tanjungpinang.

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan lahirnya Provinsi Kepulauan Riau yang sebelumnya masih berstatus Kabupaten Kepri di bawah naungan Provinsi Riau.

Pada masa itu, masyarakat Kepulauan Riau menginginkan daerahnya berdiri sendiri menjadi provinsi baru. Aspirasi tersebut kemudian diperjuangkan secara bersama-sama oleh tokoh masyarakat, mahasiswa, dan berbagai elemen pemuda.

Perjuangan itu melahirkan Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) yang menjadi wadah perjuangan masyarakat untuk memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kepri.

Dalam perjalanan perjuangan tersebut, Tragedi Samsat menjadi salah satu momentum penting yang hingga kini masih dikenang masyarakat Kepri, khususnya para pelaku sejarah yang terlibat langsung pada masa itu.

Peringatan 24 tahun Tragedi Samsat tahun ini digelar secara sederhana di ruang pertemuan Kantor UPT Samsat Provinsi Kepri di Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala UPT Samsat Kepri Rina, Ketua BP3KR Dato Huzrin Hood, Ketua Generasi BP3KR Basyaruddin Idris atau yang akrab disapa Oom, mahasiswa dari UMRAH, STISIPOL dan STIE Pembangunan Tanjungpinang, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pelaku sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Kepri.

Dalam sambutannya, Dato Huzrin Hood mengenang beratnya perjuangan yang harus dilalui masyarakat Kepri demi terbentuknya provinsi baru tersebut. Menurutnya, perjuangan itu penuh tekanan dan pengorbanan.

“Perjuangan pembentukan Provinsi Kepri ini bukan perjuangan yang mudah. Banyak air mata, pengorbanan dan tekanan yang harus kami hadapi saat itu,” ujar Huzrin Hood.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasakan hidup di penjara Sukamiskin Bandung dalam proses perjuangan tersebut. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat perjuangan masyarakat Kepri.

“Saya bahkan sempat merasakan hotel prodeo di Sukamiskin Bandung. Tetapi semua itu menjadi bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Kepri yang hari ini hasilnya sudah dinikmati bersama,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Samsat Tanjungpinang, Rina, mengatakan generasi saat ini harus memahami bahwa pembangunan dan kemajuan Kepri tidak terlepas dari perjuangan para pendahulu.

“Kami sebagai generasi penerus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pejuang pembentukan Provinsi Kepri, terutama para mahasiswa dan masyarakat yang telah berkorban pada masa itu,” ujar Rina.

Menurut Rina, hasil perjuangan tersebut kini dapat dirasakan melalui pembangunan daerah yang bersumber dari pajak masyarakat, termasuk pajak kendaraan bermotor yang dihimpun di Provinsi Kepri, khususnya Kota Tanjungpinang.

Sedangkan Ketua Generasi BP3KR, Basyaruddin Idris, menceritakan kembali bagaimana perjuangan masyarakat saat merebut Kantor Samsat yang kini menjadi Kantor UPT Samsat Kota Tanjungpinang.

“Tragedi Samsat ini harus terus dikenang dan diperingati setiap tahun agar generasi muda mengetahui bagaimana sulit dan beratnya perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau,” kata Basyaruddin Idris.

Ia berharap semangat perjuangan para pendahulu tetap diwariskan kepada generasi muda agar sejarah pembentukan Provinsi Kepri tidak hilang ditelan zaman. (abd harris)