Marlin Agustin, Cawagub Kepri Nomor Urut 3, mengajak untuk membentuk kelompok usaha kecil menengah (UKM) batik Batam. (ft:ist)

Keprisatu.com – Calon Wakil Gubernur Nomor Urut 3, Hj Marlin Agustin terus melakukan sosialisasi di masa kampanye di Pilkada Gubernur Kepri.

Marlin Agustin yang mendampingi Ansar Ahmad ini mengatakan pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga menjadi salah satu fokus tema yang digelorakan Marlin Agustina.

Seperti yang ia sampaikan dalam silaturahmi dengan warga Perumahan Taman Raya, Tahap IV, RW 42 Kelurahan Belian, Kecamatan Batamkota, Kamis (26/11/2020).

Kepada ibu-ibu yang hadir, Marlin mengajak untuk membentuk kelompok usaha kecil menengah (UKM) batik Batam. Apalagi di lingkungan tersebut sudah ada asesornya.

“Harusnya di sini sudah ada UKM batik Batamnya. Karena di sini ada Pak Indra. Pak Indra ini adalah aset kita , aset Batam bahkan Kepri.  Di Indonesia hanya ada delapan asesor batik. Salah satunya Pak Indra ini,” kata Marlin.

Saat ini sudah banyak UKM batik Batam yang menjadi binaan Marlin. Bahkan beberapa hari lalu, Marlin baru saja meresmikan galeri batik Batam kelompok ibu-ibu di Taman Marchelia.

Menurut Marlin, selama pandemi Covid-19 UKM batik Batam tidak terlalu berpengaruh. Pesanan tetap berdatangan karena kebutuan seragam batik tetap ada, bahkan meningkat.

Menurut Marlin, Batik ini tidak akan mati. Tahun depan akan lebih banyak. Karena setiap sekolah dari TK sampai SMP, juga kantor-kantor pemerintahan, diwajibkan memakain batik Batam satu hari dalam sepekan. Bahkan nanti kantor-kantor swasta pun juga akan dia bujuk agar seragamnya memakai batik Batam.

“Untuk memenuhi permintaan ini ya dari ibu-ibu semua. Karena saya tidak mengizinkan batik Batam diproduksi di luar. Saya ingin benar-benar memberdayakan masyarakat Batam sendiri, khususnya ibu-ibu. Supaya bisa menambah penghasilan keluarga,” papar istri H Muhammad Rudi, Walikota Batam tersebut.

Tahap pertama yang harus dilakukan, sambung Marlin, yaitu membuat kelompok. Nanti akan didatangkan pelatih profesional untuk mengajarkan ibu-ibu membatik.

“Soal modal, kita punya bantuan kredit usaha. Bisa kita fasilitasi. Jadi ibu-ibu tak perlu bingung. Saya mau di setiap kecamatan minimal ada satu galeri batik, kalau bisa lebih.

Karena nanti kantor kecamatan dan kelurahan akan diarahkan untuk membeli batik di galeri yang ada di wilayahnya masing-masing. Jadi sampai ke pemasaran juga kita bantu,” ujarnya.

Ajakan ini disambut baik warga setempat. Ketua RW 42, Aan mengatakan saat ini usaha mikro kecil yang dijalankan warga baru sebatas bidang kuliner.

Menurutnya, di sini ibu-ibunya juga ada bisnis kecil-kecilan. Usaha kuliner. Tapi masih minim mendapatkan bantuan. Ibu-ibu di sini selalu bertanya ke perangkat RW, bagaimana agar bisa dibantu, supaya produk warga bisa dipasarkan lebih luas.

“Bank sampah kami juga sudah berjalan dan hasilkan beberapa produk seperti tempat tisu. Tapi penjualannya juga hanya dari teman ke teman. Kalau bisa UKM kami di sini dibantu juga Bu. Tak cuma pelatihan, tapi juga dibangunkan tempat, untuk bank sampah dan untuk membatik nantinya,” tutur Aan. (tedjo-*)