Ketua DPW PKB Provinsi Kepri, Abdul Basyid Has bersama pengurus dan anggota DPRD Kepri dari PKB serta Ketua DPC PKB Batam Jefry Simanjuntak beserta pengurus dan anggota DPRD Batam dari PKB berkoordinasi dengan Ketua DPD PDIP Provinsi Kepri Soerya Respationo di kediamannya di Dutamas, baru-baru ini.

Keprisatu.com – Lukita Dinarsya Tuwo akan berpasangan dengan Abdul Basyid Has, maju dalam pemilihan Wali Kota (pilwako) Batam pada 9 Desember 2020. Pasangan ini, koalisi partai besar PDI Perjuangan, Partai Gerindra, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Insya Allah sudah fix. Tinggal menunggu surat keputusan (SK) diteken Dewan Pengurus Pusat (DPP) tiga partai koalisi,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Provinsi Kepri, Abdul Basyid Has, usai berkoordinasi dengan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepri HM Soerya Respationo, Sabtu (6/6/2020).

Koalisi tiga partai besar ini, lanjut Basyid, simultan dengan dukungan kepada HM Soerya Respationo berpasangan dengan Iman Sutiawan (Ketua DPC Partai Gerindra) Kota Batam maju dalam pemilihan Gubernur (pilgub) Kepri 9 Desember 2020 mendatang.

“Untuk Pilgub Kepri, posisi calon Gubernur dari PDIP dan Wakil Gubernur dari Gerindra. Sedangkan pilwako Batam, calon Wali Kota dari PDIP, karena pak Lukita sebagai Balitbang di DPP PDIP dan Wakil Wali Kota dari PKB yaitu saya (Basyid),” ungkap Basyid.

Basyid menyebutkan, dirinya senang bisa berpasangan mendampingi Lukita Dinarsyah Tuwo. Hal ini didasari pegalaman Lukita Dinarsyah Tuwo 32 tahun sebagai birokrat tak bisa diragukan lagi. Lukita pernah menjabat Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia ke-2, masa jabatan 6 Januari 2010 – 20 Oktober 2014.

Kemudian menjabat Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Desember 2014 – Oktober 2017. Terakhir Kepala BP Batam sejak 19 Oktober 2017 hingga Januari 2019.

“Waktu Pak Lukita sebagai Kepala BP Batam, ekonomi Batam meningkat dari sebelumnya. Salah satu yang dilakukan Pak Lukita yang terkesan ke luar dari jalurnya, yakni Batam menari. Dalam Batam menari ini, melibatkan masyarakat banyak dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” beber Basyid.

Kenapa Lukita melakukan Batam menari, lanjut Basyid, karena ketahanan ekonomi ditopang oleh sektor riil yaitu UMKM. “Waktu itu harga minyak dunia jatuh, shipyard di Batam terpuruk begitu juga industri manufakturnya. PHK tak terhindarkan. Sehingga, harus ada stimulus pro rakyat, supaya uang berputar di tengah masyarakat. Salah satu caranya ya Batam menari itu. Itu baru bukti kecil kepiawaian Pak Lukita,” ujar Basyid.

Itulah sebabnya, kata Basyid, jika Tuhan berkehendak mereka bisa memimpin Batam, maka pembangunan Batam tidak semata infrastruktur tapi juga pembangunan manusia, peningkatan ekonomi sektor riil, peningkatan kualitas sumber daya manusia bidang pendidikan dan kesehatan.

“Sudah terbukti, begitu corona datang dan aktivitas masyarakat harus tinggal di rumah (stay at home). Masyarakat resah, karena ketahanan ekonominya tak kuat. Bahkan kalau dibiarkan lama-lama terus di rumah, efek sosialnya bisa panjang. Dari contoh kecil ini, Lukita-Basyid mengambil visi Batam berubah, Batam baru,” ungkap Basyid.

Batam berubah, lanjut Basyid, bukan fisik infrastrukturnya saja yang berubah. Terbukti, ketika corona datang maka masyarakat yang ekonominya lemah makin lemah dan infrastruktur tak bisa menolong masyarakat.

“Tapi, jika manusianya yang dibangun mulai dari ekonominya, pendidikan, dan kesehatan diutamakan dan disejalankan dengan fisik, maka pondasi ekonomi dan sosial masyarakat kuat,” terang pria tempatan kelahiran Pulau Terong, Kecamatan Belakangpadang ini.

Pengalaman Lukita di pusat sebagai posisi strategis Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia dan Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian jelas memiliki akses pemerintahan dan investor negara luar.

“Batam itu dibangun dengan industri manufaktur, dan industri manufaktur salah satu pondasi ekonomi di Batam. Bicara industri manufaktur, bicara investasi baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Untuk PMA, Pak Lukita jagonya. Karena karir birokratnya di pemerintahan berkutat di pembangunan ekonomi,” jelas Basyid.

Koneksikan Pelabuhan dengan Bandara

Lukita Dinarsyah Tuwo membenarkan dirinya akan duet dengan Abdul Basyid Has yang diusung oleh tiga partai besar PDIP, Gerindra, dan PKB.

Dirinya selain fokus pembangunan manusia, juga akan membangun pelabuhan yang terkoneksi dengan Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Ilustrasi

“Laut Batam adalah gerbang maritim Indonesia bagian Barat. Batam dan Singapura sama-sama di Selat Malaka, tapi kita tak bisa mengkoneksikan antara pelabuhan dengan Bandara Hang Nadim yang begitu besar dan landasan pacunya terpanjang di Indonesia,” ungkap Lukita.

Sewaktu dirinya memimpin BP Batam, aku Lukita, dirinya sudah memikirkan menggarap pelabuhan ini. Salah satunya pelabuhan Batuampar. Namun, singkatnya waktu dan membenahi persoalan lahan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam yang terpuruk 2,7 persen karena harga minyak dunia anjlok oleh krisis perang ISIS di Timur Tengah, maka Lukita memilih meningkatkan ekonomi Batam.

“Makanya jika Tuhan nanti berkehendak kami memimpin Batam, tak boleh tidak pembangunan pelabuhan ini prioritas sejalan dengan pembangunan manusia, supaya pembangunan itu tidak melayang-layang di awan. Tapi juga membumi, dengan membangun sumber daya manusianya,” terang Lukita.

Laut Batam, urai Lukita, bisa menjadi tempat parkir kapal yang mana di Singapura saja sudah penuh dan tarifnya lebih mahal karena kurs dolar Singapura lebih tinggi dari Rupiah. Selama ini, pembangunan laut ini kurang dioptimalkan.

“Pelabuhan Batam bagi kami, harus dibangun menjadi hub regional Indonesia di Barat. Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat Batam. Mari kita bersatu dalam bingkai kebhinekaan NKRI, membangun Batam yang berubah, Batam yang baru berpradaban humanis,” ujar Lukita.

Sekretaris 1 DPW PKB Provinsi Kepri, Syaleh Arifin Alamsyah optimis pasangan ini menang membawa perubahan baru bagi Batam. “Unsur-unsur partai sudah siap bergerak. Tinggal SK ditekan, langsung gas. Karena pandemo covid-19 ini, kita menunggu. Kalau sudah SK diteken, langsung deklarasi,” tegas Arifin.

Disebutkan Arifin, Lukita-Basyid tidak menjanjikan muluk-muluk infrastruktur yang semuanya perlu tapi lebih perlu lagi pembangunan manusianya.

“Ketika terjadi bencana, terjadi musibah seperti pandemi corona, emang infrastrktur bisa memberikan masyarakat makan. Tidak. Itu memang perlu, tapi lebih perlu lagi manusianya. Perubahan ini yang dibawakan Lukita-Basyid,” ungkap Arifin.(*/ted)