Keprisatu.com – Insiden lingkungan serius terjadi di perairan Batam setelah kapal pengangkut limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) jenis minyak hitam kandas di sekitar Pulau Dongas.
Tumpahan cairan berbahaya membuat air laut di sekitar lokasi berubah menghitam, menandakan pencemaran yang berpotensi merusak ekosistem pesisir dalam waktu lama. Kapal LCT Mutiara Garlib Samudera (GT 208) dilaporkan mengalami kecelakaan di dekat Pulau Tangga Seribu, sekitar 3 mil dari Dermaga Basarnas Sekupang, Kamis (29/1/2026).
Posisi kapal yang miring menyebabkan sebagian muatan bocor ke laut. Limbah minyak hitam yang menyebar di permukaan air berisiko meracuni biota laut, merusak terumbu, dan mengganggu rantai makanan di kawasan tersebut.
Dampaknya langsung dirasakan nelayan setempat. Selain mengganggu aktivitas melaut, pencemaran membuat hasil tangkapan berpotensi tercemar dan menurunkan nilai jual ikan. Nelayan juga menghadapi risiko kesehatan jika terpapar air yang mengandung limbah berbahaya.
Jika tidak segera ditangani, tumpahan ini bisa meninggalkan efek jangka panjang terhadap kualitas perairan. Pemulihan ekosistem laut membutuhkan waktu lama, sementara kerugian ekonomi masyarakat pesisir dapat terus bertambah. Insiden ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya pengawasan ketat terhadap pengangkutan limbah berbahaya di jalur laut.
Kepala Basarnas Tanjungpinang, Fazzli, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan awal dari KSOP Khusus Batam dan Pangkalan PLP Tanjung Uban.
“Kapal tersebut membawa sekitar 230 jumbo bag berisi ratusan ton limbah minyak hitam B3 yang berasal dari Kapal Tanker MT Nave Universe,” terang Fazzli, Jumat (30/1/2036). Beruntung, enam Anak Buah Kapal (ABK) dilaporkan selamat setelah berhasil mengevakuasi diri ke daratan terdekat di Pulau Tangga Seribu.
Lokalisir Tumpahan Minyak Tim gabungan kini tengah berjibaku di lapangan untuk mencegah dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas. Petugas telah menggelar pembatas (oil boom) di sekitar titik kandas untuk melokalisir tumpahan agar tidak menyebar ke pemukiman atau area konservasi.
Sementara itu, KSOP Khusus Batam mengerahkan armada patroli dengan dukungan dari Pangkalan PLP Tanjung Uban, termasuk KN Sarotama dan KN Rantos. Tim teknis terus memantau luas sebaran limbah di permukaan air. (KS03)
