Risman R Siregar, kuasa hukum

Keprisatu.com Kasus pidana penipuan, sering terjadi di tengah masyarakat. Bahkan kadang kala , para korban penipuan memilih untuk melaporkan kepada aparat penegak hukum.

Harapannya: uang ataupun hak milik para korban, bisa dikembalikan oleh pelaku penipuan. Namun yang terjadi justru, si pelaku hanya dituntut hukuman penjara , sedangkan barang bukti dan uang hasil menipu para korban, justru disita atau dirampas negara.

Seperti dalam  putusan Majelis Hakim dari Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (4/2/2021) lalu, seorang terdakwa kasus pidana penipuan Erdi Erlangga dinyatakan terbukti bersalah dan dihukum 1,5 tahun penjara.  Yang mengejutkan para korban,  barang bukti hasil kejahatan justru dirampas oleh negara.

25 korban penipuan dari terdakwa Erdi Erlangga, spontan kecewa. Sebab uang kerugian yang diharapkan kembali ke mereka dan bisa menjadi modal usaha justru dirampas negara.

Risman R Siregar, kuasa hukum para korban usai putusan pengadilan mengatakan  pihaknya kecewa atas keputusan perampasan hak para korban kepada negara.

Sebab sebelum pembacaan putusan, 25 korban bersama Kuasa Hukumnya, Risman R Siregar SH menaruh harapan besar agar barang bukti hasil kejahatan terdakwa dikembalikan ke korban.

“Kami menaruh harapan barang bukti dikembalikan ke korban, minimal bisa menjadi modal untuk kembali memulai usaha. Namun kenyataan berkata lain, uang tak kembali justru barang bukti dirampas negara,” ucap Risman usai pembacaan putusan.

Belajar dari kasus tersebut, lanjut Risman, seharusnya ada terobosan hukum atau skema khusus yang mampu mempertimbangkan kerugian korban, barang bukti dan sitaan dinyatakan dirampas untuk negara.

“Jangan biarkan para korban harus tetap dalam kondisi menanggung kerugian,” ungkap Risman lagi. Dalam kasus tersebut, Negara yang tidak mengalami kerugian justru mendapatkan tambahan untuk kas negara. Sementara korban yang mengalami kerugian justru tambah merugi.

“Sudah seharusnya ada terobosan hukum oleh Negara juga memikirkan kerugian yang dialami puluhan korban,” kata Risman lagi. Kasus ini, menurutnya patut menjadi pemikiran bersama. “Negara jangan hanya mengambil gampangnya, tapi harus memikirkan keadilan bagi korban,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa barang bukti hasil kejahatan dari terdakwa Erdi Erlangga, oknum yang mengaku sebagai manager dari Pollux Habibi adalah uang dari hasil menipu 25 korban.

Terungkap,  terdakwa menawarkan 17 unit kantin sebagai tempat usaha di Pollux Habibi, dan setiap satu unit ditawarkan dengan harga Rp 60 juta dan korban 25 orang yang notabenenya adalah pelaku UMKM mencicil ke terdakwa dengan total Rp1,2 miliar. (KS03)

editor : Joko