Batam, Keprisatu.com – Ketua Umum KONI Kepulauan Riau, Usep RS, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Anggota DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti atas sikap tegas dan keberpihakannya terhadap dunia olahraga Indonesia. Menurut Usep, langkah La Nyalla yang menyuarakan kegelisahan para pelaku dan pengurus olahraga nasional merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap keberlangsungan sistem keolahragaan yang sehat dan taat regulasi.
Usep menilai, keberanian La Nyalla bersurat langsung kepada Presiden Prabowo Subianto menunjukkan betapa seriusnya persoalan yang dihadapi KONI dan Induk Cabang Olahraga terkait lahirnya Permenpora Nomor 14 Tahun 2024. Dengan surat tersebut, kata Usep, Presiden dapat mengetahui duduk perkara secara utuh sehingga tidak terjadi salah tafsir maupun langkah kebijakan yang justru merugikan ekosistem olahraga nasional.
Ia juga menegaskan bahwa kegelisahan yang disuarakan La Nyalla adalah representasi keresahan kolektif pengurus olahraga di seluruh Indonesia, termasuk di daerah. Pasalnya, setelah dikaji dengan saksama, sejumlah poin dalam Permenpora itu dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2024, hingga Olympic Charter yang menjadi pedoman fundamental olahraga internasional.
Menurut Usep, meskipun tujuan Permenpora tersebut pada dasarnya baik—yakni mendorong tata kelola organisasi olahraga yang visioner, transparan, akuntabel, efisien, dan efektif—namun substansi aturan harus tetap selaras dengan hukum dan prinsip keolahragaan yang berlaku. Karena itu, ia sangat mengapresiasi langkah La Nyalla yang mengambil posisi terdepan untuk mengingatkan pemerintah agar regulasi tidak menimbulkan masalah baru bagi pembinaan olahraga di Indonesia.
Sebelumnya , kegelisahan para pelaku dan pengurus olahraga nasional, dalam hal ini Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Induk Cabang Olahraga, menjadi perhatian Anggota DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia pun bersurat kepada Presiden Prabowo Subianto agar Kepala Negara mengetahui secara utuh duduk perkara itu.
Kegelisahan itu bermula dari lahirnya Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) Nomor 14 Tahun 2024, yang setelah dikaji dengan cermat, bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2024, serta Olympic Charter.
“Tujuan dari Permenpora tersebut sebenarnya baik, untuk memastikan tata kelola organisasi olahraga yang visioner, transparan, akuntabel, efisien, dan efektif. Tetapi setelah dikaji, ada sekitar 10 Pasal yang menabrak UU Keolahragaan, PP Keolahragaan dan Olimpic Charter. Ini yang membuat kegelisahan stakeholder olahraga, ini tidak boleh berlarut, karena olahraga salah satu etalase penting bagi negara di dunia internasional,” ungkap LaNyalla, Kamis (28/8/2025).
Kekhawatiran para pelaku olahraga nasional, lanjut LaNyalla, adalah dengan pemberlakuan Permenpora tersebut justru menurunkan prestasi atlet, akibat terganggunya proses pembinaan. “Dan yang paling ditakutkan adalah induk olahraga internasional akan membekukan federasi cabang olahraga di Indonesia, karena dianggap telah terjadi intervensi oleh pemerintah terhadap independensi federasi,” imbuhnya.
Pasal-pasal yang menjadi sorotan para pelaku olahraga nasional dalam Permenpora tersebut di antaranya adalah Pasal 17 ayat (2) huruf b tentang surat pernyataan kesanggupan dari ketua pengurus organisasi olahraga untuk bisa mencari sumber dana di luar dana dari pemerintah. Sementara UU Keolahragaan dalam pasal 79 ayat (1) dan (2) Jo PP Nomor 46 Tahun 2024 Pasal 20 huruf g, menormakan sebaliknya. Demikian juga dengan UUD 1945 Pasal 28 ayat (1) huruf c.
Lalu, Pasal 19 ayat (2) tentang pengurus organisasi olahraga prestasi (Pasal 13) dilantik oleh Menteri/Menpora. Sementara UU Keolahragaan menormakan sebaliknya. Karena memberikan ruang independensi kepada KONI, termasuk melantik pengurus Cabang Olahraga. Seperti termaktub di Pasal 37 Ayat (3) UU 11/2022, yang menyatakan ‘Induk organisasi cabang olahraga dan Komite Olahraga Nasional (KON) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat mandiri dan dikelola secara profesional oleh pengurus yang mewakili kompetensi keolahragaan’.
“Pengurus Cabor selama ini dilantik oleh KONI, karena olahraga di semua negara bersifat mandiri atau independen. Seperti dituangkan dalam Olympic Charter di prinsip dasar ke-5 dan ke-7 serta chapter 16 verse 1.5,” urai mantan Ketua Umum PSSI tersebut.
Ditambahkan LaNyalla, surat yang dikirimkan ke Presiden dilengkapi dengan lampiran hasil kajian akademik dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Program Studi S-2 Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Surabaya. Termasuk 10 Pasal Permepora yang menjadi sorotan.
“Alhamdulillah surat sudah masuk di Setneg, saya sudah pegang tanda terimanya. Dan surat kepada Presiden juga saya tembuskan kepada Ketua DPR RI, Ketua DPD RI, Komisi X, Komite III, KONI, KOI dan tentu Menpora juga. Semoga ada jalan keluar terbaik,” pungkas Ketua DPD RI ke-5 itu. (tjo)




