Beranda Batam Ketua Umum PK NTT: Peristiwa Setokok, Bukan Konflik antarSuku

Ketua Umum PK NTT: Peristiwa Setokok, Bukan Konflik antarSuku

Salah satu korban peristiwa di Setokok dirawat di rumahsakit.

Batam, Keprisatu.com –  Peristiwa berlatar belakang sengketa lahan di  Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang Kota Batam, Senin (14/9), yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka, bukan perang antar suku. Kejadian ini, murni bentrok antar kelompok, dalam mengkalim kepemilikan lahan dan ganti rugi terhadap lahan tersebut.

Demikian Ketua Umum PK NTT Kota Batam, Mohammad Agung Teibang menegaskan. Dia mengatakan bahwa bentrok yang terjadi, bukan antar suku. Tetapi, murni dari dua kelompok yang berbeda.

Kedua kelompok yang bentrok adalah  dari Lang Laut, sebagai penerima kuasa dari perusahaan yang menguasai lokasi tersebut dan dari kelompok yang mengaku sebagai penggarap kebun yang belum menerima ganti rugi.

“Saya menegaskan  bentrok ini bukan terjadi antar suku melayu dan flores. Ini murni dua kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda terhadap lahan di Setokok,” ujar Agung.

Agung Teibang juga mengucapkan belasungkawa dan keprihatinan serta duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pada saat yang sama, Agung Teibang juga mengingatkan seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar NTT di Kota Batam, agar tidak terpancing dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar NTT di Kota Batam, mari kita sama-sama menahan diri. Jangan mudah percaya dengan informasi yang beredar di media sosial sebelum ada kepastian dari pihak yang berwenang,” ujarnya.

Percayakan kepada Kepolisian

Saat memberikan keterangan pers, Agung Teibang, juga mengapresiasi kerja polisi yang langsung menangkap, salah satu terduga pelaku, yakni pimpinan Lang Laut, Suherman.

“Saya sangat mengapresiasi, gerak cepat kepolisian, yang berhasil menangkap pimpinan, Lang Laut, Suherman, sehingga bisa meredahkan emosi dari keluarga korban,” ujar Agung.

“Kita percayakan kepada pihak kepolisian. Kami yakin aparat mampu mengungkap siapa pelakunya, apa perannya masing-masing, dan bagaimana sebenarnya kronologi kejadian ini. Yang penting prosesnya harus objektif, profesional dan adil,” kata Moh Agung.

Ia juga meminta agar pengungkapan kasus tidak berhenti hanya pada penangkapan pelaku di lapangan.

Menurutnya, apabila benar bentrokan tersebut dipicu oleh persoalan sengketa atau klaim kepemilikan lahan, maka akar persoalannya juga harus dibongkar dan diselesaikan secara hukum.

“Jangan hanya berhenti pada siapa yang melakukan bentrokan. Akar persoalannya juga harus dibongkar. Kalau memang ada persoalan sengketa lahan, kita ingin tahu bagaimana sejarah dan status lahan tersebut, siapa yang memiliki dasar hukum, dan mengapa persoalan itu bisa berkembang sampai terjadi bentrokan dan menimbulkan korban jiwa,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolda Keperi, Irjen Pol Asep Syafrudin menghimbau masyarakat Batam, untuk tetap tenang, tidak terprovokasi dan menjalankan aktivitas seperti biasa (normal).

“Saya menghimbau kepada masyarakat Batam, untuk tetap melakukan aktivitas normal seperti biasa. Jangan terprovokasi dan terpancing untuk ikut menambah suasana menjadi tidak kondusif” tegas Asep. (pur)