Ilustrasi (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

Keprisatu.com – Harga telur ayam ras di Kabupaten Klungkung berangsur-angsur mengalami peningkatan harga.

Sesuai hukum pasar, peningkatan harga itu terjadi lantaran adanya peningkatan permintaan telur.

Pasalnya telur banyak dicari untuk kegiatan bagi-bagi sembako kepada warga terkena dampak virus corona.

Kasubag Perekonomian Tjokorda Istri Agung Wiradnyani yang juga anggota TPDI Klungkung mengungkapkan,

TPID Klungkung rutin melakukan pemantauan untuk memastikan ketersediaan dan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Dalam pemantauan TPID Klungkung yang dilakukan, ada sejumlah komoditi kebutuhan pokok yang mengalami peningkatan harga dan ada pula yang mengalami penurunan harga.

“Peningkatan harga terjadi rata-rata karena tingginya permintaan dan juga karena keterbatasan pasokan.

Sementara untuk penurunan harga terjadi karena persediaan atau stok yang cukup melimpah,” terangnya.

Adapun perkembangan harga komoditas atau bahan pangan pokok di tingkat konsumen di Pasar Galiran pada

minggu pertama Mei 2020, yakni 27 April-4 Mei, terpantau harga beras masih stabil di kisaran harga Rp 10 ribu – Rp 11 ribu per kg.

Namun harga cabai rawit mengalami peningkatan harga dari sebelumnya Rp 15 ribu per kg menjadi Rp 20 ribu per kg.

“Begitu juga dengan telur ayam ras, terpantau mengalami peningkatan harga dari Rp 21 ribu per kg menjadi Rp 24.500 per kg,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan harga telur ayam ras itu terjadi lantaran akhir-akhir ini telur ayam ras banyak dibeli warga

atau kelompok warga tertentu untuk kegiatan sosial berkaitan dengan penanganan dampak virus corona terhadap perekonomian warga.

Terutama bagi warga yang dirumahkan dan di PHK. “Banyak permintaan telur ke peternak untuk kegiatan sumbangan sembako.

Meski tidak terlalu signifikan, hal ini perlu diwaspadai mengingat permintaan telur akan semakin meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri yang akan berlangsung 25 Mei 2020,” jelasnya.

Sementara itu, untuk bawang putih dan bawang merah mengalami penurunan harga. Bila sebelumnya harga bawang putih berkisar Rp 30 ribu per kg, kini menjadi Rp 28 ribu per kg.

Sementara bawang merah yang sebelumnya Rp 45 ribu per kg, kini menjadi Rp 42 ribu per kg.

“Bawang putih mengalami penurunan harga karena ketersediaannya di pasar grosir cukup banyak. Bahkan harganya yang sebelumnya di grosir Rp 28 ribu per kg,

kini menjadi Rp 20 ribu per kg. Sementara bawang merah harganya masih tergolong tinggi. Itu karena pasokannya dari Bima, NTB masih terbatas karena belum memasuki masa panen raya,” bebernya.

Berdasar wawancara yang dilakukan dengan sejumlah pedagang, diungkapkannya, penjualan para pedagang saat ini tidak seramai sebelum virus corona mewabah. Hal ini mengingat adanya pembatasan kegiatan, seperti upacara adat.

Sumber: Jawapos