Ilustrasi: Kapal induk AS mengangkut pesawat tempur di Laut China Selatan. Foto REUTERS/Erik De Castro

Keprisatu.com – Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong menyebut kehadiran Amerika Serikat (AS) tetap vital bagi keamanan kawasan Asia-Pasifik. Ia juga menyebut China tidak akan dapat mengambil alih peran itu di Asia Tenggara bahkan dengan kekuatan militernya yang terus meningkat.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Kantor Urusan Luar Negeri, Lee menulis bahwa klaim maritim dan teritorial China di Laut Cina Selatan berarti bahwa negara-negara di kawasan itu akan selalu melihat kehadiran angkatan laut China sebagai upaya untuk memajukan klaim-klaim itu.

Dia juga menulis bahwa banyak negara Asia Tenggara sangat sensitif tentang persepsi, bahwa China memiliki pengaruh terhadap etnis minoritas Tionghoa yang cukup besar.

“Meskipun kekuatan militernya meningkat, China tidak akan dapat mengambil alih peran keamanan Amerika Serikat,” tulisnya seperti dilansir kontan dikutip Bloomberg.

Ia juga menambahkan, penarikan pasukan AS di Asia Utara akan memaksa Jepang dan Korea Selatan untuk merenungkan pengembangan senjata nuklir untuk menghadapi ancaman Korea Utara yang semakin meningkat.

Artikel Lee ini muncul ketika ketegangan antara AS dan China terus meningkat, dengan sejumlah isu mulai dari jaringan 5G, Laut China Selatan hingga tanggung jawab atas pandemi covid-19.

Singapura telah menjadi salah satu negara paling vokal di Asia yang menyerukan AS dan China untuk menghindari bentrokan destruktif yang akan memaksa negara-negara kecil untuk memilih pihak.

“Negara-negara Asia-Pasifik tidak ingin dipaksa untuk memilih antara Amerika Serikat dan China. Mereka ingin memupuk hubungan baik dengan keduanya,” tulis Lee.

Lee memperingatkan, jika AS berusaha menahan China, atau jika Beijing berusaha membangun pengaruh eksklusif di Asia, kedua negara akan memulai suatu rangkaian konfrontasi yang akan berlangsung selama beberapa dekade dan membahayakan Asia.

“Setiap konfrontasi antara kedua kekuatan besar ini tidak akan berakhir seperti Perang Dingin, dalam kehancuran satu negara,” tulisnya.

Untuk menghindari hal ini, Lee mengatakan hubungan kolaboratif yang terbentuk dalam kerangka kerja peraturan multilateral yang disepakati akan mendorong sistem yang membebankan tanggung jawab dan pengekangan pada semua negara.

“Wajar jika kekuatan besar bersaing. Tetapi kapasitas mereka untuk kerja sama adalah ujian nyata dari tata negara, dan itu akan menentukan apakah umat manusia membuat kemajuan dalam masalah-masalah global seperti perubahan iklim, proliferasi nuklir, dan penyebaran penyakit menular,” tegasnya.(*/ted)