Ketua Tim Posko Lawan Covid-19 Kepri di Batam,Buralimar memberikan keterangan pers soal covid-19 di Batam.

Keprisatu.com – Menuju new normal, tapi masih ada warga Batam yang terkonfirmasi positif corona virus disease 2019 (covid-19). Untuk memutus mata rantai peyebaran covid-19 ini, perlu tes swab massal yang terjalin kontak dengan pasien positif corona.

“Sebanyak 108 ribu penduduk Kota Batam perlu menjalani tes swab covid-19. Tujuannya agar dengan cepat bisa menghentikan penularan corona di Batam,” ujar Ketua Tim Posko Lawan Covid-19 Provinsi Kepri di Kota Batam, Buralimar, kemarin.

Data itu diperoleh, setelah Buralimar berdiskusi hasil analisis data epidimologi yang telah disusun pakar, yang tergabung dalam Tim Posko Lawan Covid-19 Kepri di Batam.

“Analisis ini berdasarkan data statistik World Health Organization (WHO) bahwa dari seluruh jumlah kumulatif positif di seluruh dunia ada satu persen pasien positif yang meninggal dunia,” kata Buralimar seperti dikutip dari Antara.

Berdasarkan analisis pakar, ungkap Buralimar, diperkirakan ada 1.200 orang yang positif covid-19 di Batam dan yang terdeteksi baru sekitar 157 orang. “Jadi ada sekitar 1.000 orang yang diduga positif yang belum terdeteksi,” jelas Buralimar.

Maka itu, lanjut dia, diperlukan upaya pelacakan aktif di tengah komunitas masyarakat secara sistematis dan dibarengi melakukan tes swab secara agresif dan masif. “Ini yang harus menjadi fokus kita di Batam. Aktif melacak dan agresif masif tes swab,” ujar Buralimar.

Buralimar meyakini jika dua hal ini bisa dilakukan dengan cepat, Batam bisa menghentikan transmisi dengan cepat dan tepat. Kemudian, metode pelaksanaan tes dapat juga dilakukan menggunakan model pool test seperti yang dilakukan di Sumatera Barat sebagai antisipasi mahalnya biaya tes swab tersebut.

Selain perkiraan jumlah warga Batam yang positif, menurut Buralimar, dari analisa pakar juga memperkirakan ada sekitar 7.000 orang di Batam yang digolongkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

“Kami menduga ada sekitar 7.000 lagi pasien PDP yang berada di luar fasilitas kesehatan, dan belum melaporkan diri untuk dilayani,” tegas Buralimar.

Dugaan ini mencuat berdasarkan analisis statistik atas data epidimologi yang ada di Batam. Tim Posko Lawan Covid-19 Kepri di Batam, juga menemukan ada keengganan masyarakat untuk ke fasilitas kesehatan guna memeriksakan dirinya.

Hal ini disebabkan ada ketakutan menjadi stigma buruk selaku penyandang kasus konfirmasi positif. “Stigma ini juga yang perlahan-lahan akan kami coba ubah dari pandangan masyarakat,” tutur Buralimar.(*/ted)