Edhy Prabowo dan lobster.

Keprisatu.com – Heboh! Mengejutkan banyak pihak. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

Politisi Partai Gerindra ini ditangkap di Terminal 3 Bandara Soetta saat kembali dari Honolulu. “Tadi malam Menteri KKP diamankan KPK di Terminal 3 Bandara Soetta saat kembali dari Honolulu,” ungkap Firli Bahuri, Ketua KPK, Rabu (25/11/2020) melalui pesan singkatnya.

“Yang bersangkutan, diduga terlibat korupsi dalam penetapan izin ekspor baby lobster,” imbuh Firli sebagaimana dikutip Pojoksatu.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, Edhy Prabowo langsung digelandang ke markas KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan. “Sekarang beliau ada di KPK untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Kendati demikian, mantan Kapolda Sumatera Selatan ini enggan membeberkan detil kasus tersebut. ”Nanti, akan disampaikan penjelasan resmi KPK. Mohon kita beri waktu tim Kedeputian Penindakan, untuk bekerja dulu,” tegasnya.

Sehari sebelumya, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menyatakan tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa. Karena itu, untuk menangani kejahatan korupsi ini juga diperlukan langkah-langkah yang luar biasa pula.

Hal itu ditegaskan Firli Bahuri pada acara serah terima barang rampasan dari KPK yang disiarkan secara virtual di Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Menurutnya, tindak pidana korupsi bukan hanya menjadi perhatian bangsa Indonesia. Tapi juga seluruh dunia. “Karena ini adalah kejahatan luar biasa maka butuh penanganan luar biasa,” katanya.

Dia menjelaskan ada tiga cara untuk menangani tindak pidana korupsi. Pertama, melakukan penyelamatan keuangan dan kekayaan negara. Kedua, menjamin tersampaikannya hak politik dan sosial. Ketiga, menjamin keselamatan bangsa dan warga negaranya. “Ini tiga hal yang harus kita pahami kenapa kita harus melakukan pemberantasan korupsi,” kata Firli.

Mantan Deputi Penindakan KPK ini juga menyebut bahwa korupsi tidak hanya sekedar merugikan keuangan negara. Tetapi juga dapat merusak seluruh sendi kehidupan yang terdampak oleh perbuatan jahat itu.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron membenarkan adanya giat operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan pihaknya pada Rabu (25/11/2020) dini hari.

“Benar pukul 01.23 dini hari di Soetta,” kata Ghufron saat dikonfirmasi wartawan d Jakarta.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango. “Kami telah mangamankan sejumlah orang pada malam dan dinihari tadi,” kata Nawawi.

Namun saat ditanyakan lebih lanjut ihwal siapa dan terkait perkara apa, Nawawi belum mau menjelaskan. “Maaf selebihnya nanti aja, saya masih dalam perjalanan ke kantor,” ujarnya. (pojoksatu/ks04)

editor: arham