
Keprisatu.com – Pembangunan pipa gas dari West Natuna Transportation System (WNTS) ke Pulau Pemping resmi dimulai. Groundbreaking Ceremony berlangsung di Pulau Pemping, Kecamatan Belakang Padang, Batam, Selasa (10/2/2026) pagi.
Investasi Rp1 Triliun untuk Pasokan Gas Batam
Direktur Utama PT PLN Energy Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, menyebut pembangunan pipa WNTS–Pemping sebagai tonggak sejarah baru sektor energi.
“Pertumbuhan listrik Batam mencapai 15 persen per tahun. Angka ini empat sampai lima kali lipat pertumbuhan nasional,” ujar Rakhmad.
Menurutnya, lebih dari 90 persen pasokan listrik Batam bergantung pada gas bumi. Saat ini, kebutuhan gas Batam mencapai 160–180 juta kaki kubik per hari.
“Dengan pipa ini, gas dari Natuna bisa langsung masuk ke Batam. Keandalan pasokan listrik akan jauh lebih terjamin,” katanya.
Gas Natuna Diprioritaskan untuk Dalam Negeri
Rakhmad menjelaskan proyek ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan energi nasional.
PLN EPI juga telah mengamankan kontrak pasokan gas sebesar 111 juta kaki kubik per hari dari West Natuna Exploration Limited untuk periode 2027–2035.
“Pipanya dibangun, gasnya tersedia. Ini langkah nyata untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri,” tegas Rakhmad.
Konstruksi Fast Track, Progres Capai 27 Persen
Direktur PT Timas Suplindo, Hugo Tangara, menyampaikan proyek ini dikerjakan dengan skema fast track.
Pada bulan ini, Timas memulai pekerjaan trenching dari darat ke laut. Proses pipelaying dilakukan menggunakan kapal DP2 berbendera Indonesia, Timas T-1201.
Ia menegaskan keselamatan kerja menjadi prioritas utama. Timas memastikan seluruh sistem diuji dan dikomisioning sesuai standar.
PLN: Proyek Ini Bukan Sekadar Infrastruktur
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menyebut proyek ini sebagai langkah strategis ketahanan energi.
“Kebutuhan gas untuk pembangkit listrik di Batam terus meningkat seiring pertumbuhan industri,” ujarnya.
Pipa WNTS–Pemping akan menjadi jalur utama gas Natuna untuk kebutuhan domestik, sejalan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).
Amsakar Achmad: Energi Menentukan Masa Depan Batam
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan proyek pipa gas WNTS–Pemping bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi fondasi kemandirian bangsa.
“Inti arahan Presiden adalah membangun kemandirian bangsa. Implementasinya adalah ketahanan energi, ketahanan pangan, dan ketahanan nasional,” tegas Amsakar.
Amsakar menilai persoalan energi menjadi tantangan nyata bagi wilayah kepulauan. Ia menyebut ironi ketika daerah penghasil sumber daya justru mengalami keterbatasan pasokan.
“Sudah 80 tahun merdeka, tetapi masih ada pulau-pulau yang gelap. Ini soal tata kelola energi yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.
Ia mengungkapkan pertumbuhan kelistrikan Batam mencapai 15 persen per tahun. Sementara itu, sistem energi Batam saat ini masih mengalami defisit sekitar 25 BBTU.
“Pertumbuhan investasi 15,5 persen ini harus mendapat topangan dari energi yang andal. Tanpa itu, Batam akan tersendat,” kata Amsakar.
Ia juga menyoroti sembilan proyek data center di Nongsa Digital Park dan Kabil yang membutuhkan pasokan energi besar dan stabil.
Menurut Amsakar, Batam memikul peran strategis sebagai beranda terdepan Republik Indonesia di wilayah barat. Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen dalam RPJMN.
“Batam tumbuh 9,5 hingga 10 persen. Target ini tidak mungkin tercapai tanpa jaminan energi,” tegasnya.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut pembangunan pipa gas WNTS–Pemping sebagai momentum penting pergeseran kebijakan energi nasional.
Selama ini, gas dari West Natuna Transportation System lebih banyak untuk memenuhi kontrak ekspor.
“Dengan kebutuhan domestik yang meningkat, terutama listrik di Batam yang tumbuh 15 persen, kebijakan ini harus kita ubah,” ujar Djoko.
Ia menegaskan proyek ini menjadi wujud nyata komitmen negara memprioritaskan gas bumi untuk kepentingan dalam negeri.
Djoko menyebut infrastruktur ini tidak hanya mengalirkan gas dari West Natuna, tetapi juga membuka akses bagi potensi gas lain di wilayah Natuna ke depan.
SKK Migas, lanjutnya, akan mengawal kepastian pasokan gas melalui koordinasi dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Kita ingin investasi besar ini memiliki jaminan pasokan gas jangka panjang,” tegas Djoko.
Ia mengapresiasi kecepatan pengerjaan proyek yang bersifat fast track sejak pertama kali penugasan.
Dengan pasokan gas yang lebih andal dan kompetitif, ia optimistis industri Batam akan semakin kuat dan berdaya saing di tingkat global.
Acara puncak dengan melaksanakan penanaman pipa sambungan gas oleh para narasumber dan tamu VIP.
Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris PT PLN Batam Samsul Bahri mewakili Direktur Utama PLN Batam, Wakapolresta Barelang, Kejari Batam, KPLP, Forkopimda Kota Batam, serta Anggota DPRD Kepri Andi Mukhtar.
Hadir pula Wakil Ketua DPRD Batam Aweng Kuriawan dan Yunus Muda, serta Anggota Komisi II DPRD Batam Anwar Anas.(tjo)



